Lakukan Secara Sadar
Posted by senja on 31 Mar 2006 at 04:29 am | Tagged as: my opinion
peristiwa akhir-akhir ini banyak membuat termenung, terutama jika yang berhubungan dengan wanita.
misalnya tentang penolakan UU APP. aku tak habis pikir mengapa sih banyak wanita yang menolak dilindungi. Bukan suatu kebanggan aku rasa jika paha, payudara ataupun bagian pribadi lainnya dilihat banyak orang lantas dikomentari dengan kata-kata seksi dll. Tuhan sudah menciptakan sesuatu yang berharga bagi wanita, dan selayaknyalah wanita menjaganya hal itu dan menampakkannya kepada orang yang secara hukum agama boleh melihat. tidakkah itu justru lebih berarti. atau jangan-jangan penolakan itu karena ada dorongan lain-lain, seperti misanya bisnis. atau jangan-jangan wanita-wanita itu memang hanya punya paha mulus, dada montok untuk dibanggakan dan dijual?. kapan wanita Indonesia maju kalau terus-terusan hanya dinilai dari fisiknya saja, bukankah banyak yang lebih berharga dari sekadar itu. tapi kalau memang lebih suka pake baju TK yang nggak masalah sih, asalkan itu secara sadar dilakukan tanpa paksaan pasar dan industri. jadi intinya jangan menyuarakan dan berbuat sesuatu cuma gara-gara takut dibilang nggak modern. tapi cobalah mulai saat ini untuk berbicara karena kita begitu dan ingin seperti itu, sadar dilakukan tanpa paksaan dari siapapun. Lagian ngapain sudah-susah menolak RUU APP, toh ajaran agama kita sudah jelas bicara seperti apa…
satu lagi tentang poligami….
banyak orang yang nggak setuju poligami, seperti yang digambarkan di film berbagai suami. hehe…lucu, jangan karena kita sebagai wanita tidak siap dengan poligami lantas menjadi anti poligami. toh, aturan dan ajrannya jelas kok. kita juga harus menghargai wanita-wanita yang mau dipoligami karena dia ingin dan iklas menjalankan itu. jangan lantas itu dikonotasikan bahwa wanita yang mau dipoligami adalah wanita yang tertindas. wong mereka dengan sadar dan tanpa paksaan mau kok. harus dihargai donk, tindakan-tindakan yang tidak populis seperti itu, tetapi dilakukan tanpa paksaan. jadi wanita yang dipoligami itu bukan simbol ketertindasan semata.
tetapi kaum laki-laki juga jangan semena-mena menjadikan kata poligami sebagai justifikasi atas perbuatan zina dan birahinya kepada wanita lain dengan mengatakan untuk menghindari zina atau dosa. poligami tidak sekotor itu karena nabi Muhammad tidak melakukan poligami karena ingin memuaskan nafsu birahi tetapi karena alasan mulia.
jadi, jangan mengingkari Al Quran. terimalah tuntunan itu dengan hati iklas dan rendah hati, walaupun semuanya masih sulit dilakukan bagi kita. minimal jika kita menerimanya tidak dengan hati sombong maka hati kecil kita pasti akan lebih jujur berbicara. —-tulisan ini juga untuk mengingatkan diri sendiri—-








Teks alquran boleh kaku. Tapi interpretasi terus berkembang. Stagnasi interpretasi terhadap quran sama saja dgn menempatkan agama sebagai penjara. Agama semestinya dimaknai sebagai gugusan nilai yang diyakini kebebenarannya.Agama sebatas baju, Islam, Kristen, Methodist, Budha, Zoroaster, hanyalah sekadar nama tentang laku manusia berserah dan berkomunikasi dgn sang pencipta. Seperti halnya Tuhan boleh disebut dengan banyak nama. Yahwe, Kristus, Allah dsb…
Jika itu hidup keber agamaan itu dihayati secara hakiki, agama akan menjadi alat pembebas bagi ketertindasan manusia.
Buah dari kemerdekaan berpikir adalah peluang berkomunikasi tanpa batas ruang dan waktu. Orang bisa berpikir jauh di atas batas fisik dan memvisualisasikannya lintas batas. Atau orang bisa berpikir fisik bukan sebuah batasan untuk mengkomunikasikan content-nya ke orang lain. Atau, orang berpikir fisik bukan sebuah bahasan yang harus dibatasi.
Hehe.. mana semangka mana neuron manusia?
Semua adalah pilihan atau ke-bisa-an seseorang, jika tanpa alas norma atau agama. Semua boleh bilang kebaikan tapi hanya satu kebenaran. Bisakah orang melihat itu diatas egonya?
Perempuan pengumbar aurat hanya berdiri diatas selembar sertifikat kebaikan, tercantum atasnama nilai budaya, sosial atau cuplikan omongan kyai yang keblinger popularitas. Mereka tak mengenal kebenaran.
Tapi poligami?
Sebuah kebenaran di atas perasaan. Terutama perasaan kaum perempuan.
Sisi adilnya adalah mengikuti jejak Rasulullah. Nikahi janda-janda miskin yang anaknya terancam putus sekolah, atau janda-janda korban perang yang tak tahu kemana mengadu nasib.
Jangan cuma berani perawan cantik, artis pula.