Dua media di Semarang saling mengalahkan. Itulah yang terjadi dalam pertandingan sepakbola antara Jawa Pos Grup melawan Kompas di lapangan Arhanudse Minggu pagi kemarin. Kendati, Sofian Blue dkk digulung tim Kompas 7-0 namun kedua tim menunjukkan kegigihannya dalam menggocek bola.

Tertekan selama pertandingan dan akhirnya kalah memang menyakitkan namun tim Jawa Pos tetap menjalaninya dengan penuh gelak tawa. Apalagi Kompas sangat tangguh dan tidak pernah membiarkan Sofian Blue dkk merangsek hingga jantung pertahanan. Sebaliknya tim yang digalang oleh salah satu wartawan olahraga dan hiburan, Burhan mampu membuat kocar-kacir semangat Jawa Pos. Untungnya performa kiper Supri Meteor mampu menahan serangan demi serangan. Bahkan, tanpa bemaksud merendahkan tim lain, awak Kompas yang setia menonton di tepi lapangan berteriak agar pemain-pemain mereka tidak boleh mencetak gol lagi. “Jangan gol. Kasihan,” ucap salah satu dari mereka sambil tertawa.Gol-gol Kompas antara lain dicetak oleh Burhan, Anto, Wahyu dua kali, Wiwit, dan Pungki.

Menariknya di babak kedua, wasit yang semula memang dipegang oleh awak Kompas tergiur juga untuk turun. Akhirnya ia menyerahkan peluit kepada tim Jawa Pos agar tidak ada “kecurigaan” campur tangan pihak pengadil lapangan. Salah satu wartawan Meteor Sigit pun menerima tawaran menjadi wasit dengan senang hati. Lucunya karena jiwa patriotismenya kepada rekan-rekan setim yang tak kunjung dapat mencetak gol, Sigit berkali-kali lupa bahwa kini ia menjadi wasit. Tak jarang ia ikut menendang bola liar yang terlepas dari kaki pemain-pemain tim Jawa Pos Grup. Melihat pemandangan ini Direktur Radar Semarang, Don Kardono hanya mampu menahan senyum.

Di akhir babak kedua sebenarnya ada beberapa peluang yang dapat dimanfaatkan namun sayangnya ebberapa diantaranya melenceng jauh dari sudut gawang. Namun begitu Tahroji, Wahyudi Novianto, Didik Daim, Sofian Blue, Aris Saf masih terus menggalang kerjasama agar dapat mencetak gol di waktu yang tersisa. Namuns sayangnya hingga peluit panjang tim Jawa Pos Grup tak bisa menyelesaikan satu peluang pun. “Setelah lebaran kami akan menggelar revans dengan Kompas,” ucap Don.

Tentu saja hal ini disambut gembira oleh kedua tim. Bahkan tim Jawa Pos juga berniat akan menggelar latihan rutin layaknya Kompas agar kemampuan menggocek bolanya lebih ciamik.