Image Hosted by ImageShack.usKata ikhlas mungkin adalah salah satu kata yang sering dan jamak kita dengar. Jika teman kita kecopetan atau kecurian misalnya. Kita sering bilang,”Udah diikhlaskan saja, mungkin bukan rejekimu”. Atau saat kerabat kita yang meninggal, salah satu ucapan favorit pelayat adalah “Yang sabar ya, ikhlas-kan saja, semoga amal ibadahnya di terima di sisi-Nya”. Intinya kalau boleh saya golongkan, sikap ikhlas biasanya bersentuhan dengan 1) sesuatu yang hilang/berkurang dari kita, 2) perlakuan orang lain—khususnya yang tidak menyenangkan– kepada kita, 3) ujian atau cobaan dari Tuhan.Nah, akhir-akhir ini saya sedang belajar kembali tentang keikhlasan. Tentang bagaimana menerima dengan ikhlas semua perlakuan orang lain kepada saya, karena kadang-kadang saya berprasangkan “Jangan-jangan memang saya pantas diperlakukan seperti ini”. Juga bagaimana sabar dan ikhlas jika menerima hal-hal yang tidak saya sukai—karena di lain pihak saya ingin berteriak untuk protes tapi tidak kuasa melakukannya. Belajar sabar dan ikhlas karena selama ini sudah merasa berbuat sebaik mungkin, memberikan “servis” yang memuaskan, tapi ternyata tidak dibalas dengan tindakan serupa. Ikhlas dirugikan sepihak padahal saya manusia bukan robot. Ikhlas tak diberikan ruang berpendapat padahal saya ini punya argumentasi bla bla bla

Tapi ternyata menjadi seorang yang berhati seluas samudra itu sungguh sulit. Walopun suara protes tidak keluar dari mulut, toh tetap saja berontak di hati. Niat hati ingin terbang seringan kapas, tapi apa daya, hati saya berat dan masih saja tidak ikhlas.

Saya jadi teringat peristiwa beberapa belas tahun lalu. Saat itu saya masih duduk di bangku SMP. Mbah putri saya sakit keras, hingga berbulan-bulan. Sebagai orang yang serumah dengan mbah, saya menyaksikan betul kesengsaraan yang ia alami. Sampai akhirnya ajal menjemputnya di sebuah pagi. Anehnya, saya tidak menangis karena kehilangan orang yang setiap hari selalu memberi uang saku untuk sekolah dan sangat menyanyangi saya. Hari itu saya dilingkupi kegembiraan dan keikhlasan yang amat sangat. Saya bahagia akhirnya Tuhan mengakhiri sakitnya. Saya bahagia karena mbah saya meninggal dengan wajah berseri dibaluti doa dan didampingi semua anak-anak serta cucunya. Siangnya, saya mengantar mbah putri ke kuburan dengan doa dan lambaian hangat. Saya merasa kehilangan tapi toh saya ikhlas karena saya percaya itu yang terbaik untuknya dan saya, juga yang lain. Kendati, saya masih sering merindukannya tapi saya tak pernah mencabut keikhlasan itu dari-Nya.

Kini berbelas-belas tahun kemudian dari kejadian itu. Saya ingin menjadi senja kecil itu lagi. Sabar dalam keikhlasan……