Image Hosted by ImageShack.us

Kemarin, ketika Bush menginjakkan kakinya ke Indonesia disaat yang sama saya juga terlibat sebuah wawancara dengan seorang narasumber. Sebut saja dia bapak tua. Saking ngetopnya plus merepotkannya si Bush maka saat saya sedang asyik ngobrol si bapak tua ini menyela sebentar karena harus melihat sebuah pesan masuk di ponselnya yang ternyata dari koleganya di Bogor;

Bapak Tua (BT): Bentar ya mbak, ada SMS masuk..

Saya (S): (Diam dan memberi waktu ke pada BT untuk menengok plus membaca SMS, bahkan kalo perlu membalasnya terlebih dahulu)

BT: Wah, Bogor hujan deres, katanya sedikit angin juga, biar aja si Bush itu m***us karena nggak bisa landing kena badai hehehehe…kalau gitu kan bukan kita yang disalahin kalau dia m**i

S: Iya Pak, menurut BMG hari ini Bogor memang bakal hujan.

BT: oh iya ya?

S: Iya. Kenapa bapak nggak suka Bush?

BT: Mana ada negara yang makmur kalau menjadi antek atau teman Amerika. Pemerintah kita ini kan seperti kuli. Kok mau-maunya saja nerima dan manut dengan Amerika.

S: Yap, bener Pak ..

Saya pribadi tidak terlalu mempersoalkan kedatangan Bush ke Indonesia, tapi saya juga tidak menetang mereka–puluhan ribu orang di berbagai tempat—yang mendemontrasi kedatangan bapak terorisme dunia ini.

Saya hanya berpikir, mungkin ini hanya sebagian kecil dari diplomasi AS di Indonesia dan ada bentuk penjajahan yang lebih besar namun tidak kita sadari.

Penjajahan yang masuk ke dalam berbagai sendi kehidupan kita, yakni hedonisme.

Saya dibuat begitu terbuai dengan berbagai kesenangan duniawi yang ada.

Saya diberi aneka hiburan dan gaya hidup yang disebut-sebut sebagai modernitas.

Akibatnya, saya—mungkin juga anda– bakal lupa dan tidak peduli tentang berbagai bentuk kesewenangan-wenangan AS.

Saya jadi tidak peduli lagi bagaimana keadaan Lebanon, Irak, Iran, Palestina dll.

Saya jadi tidak sadar bahwa bangsa ini sedang digerogoti.

Saya juga jadi tidak sadar dengan identitas diri dan religi…..