Entah mengapa, mungkin postingan ini mirip dengan apa yang dituliskan Bintang Jatuh. Tiga hari lalu, sekitar pukul 11 malam, sepulang dari kantor saya mampir ke sebuah warung kaki lima yang berada di depan Sri Ratu Peterongan, sekedar untuk mengisi perut setelah seharian bekerja.

Saat makan di warung Yu Tum ini saya yang terkantuk-katuk dan kedinginan karena hujan di luar deras sekali tak kuasa memperhatikan aneka aktivitas si penjual. Saya lihat makanan masih komplit tersedia, nasi sebakul masih panas. Sayuran dan lauk pauk tersedia cukup banyak. Saya lantas mengira-ngira mungkin ini warung bakalan sampai pagi bukanya. Satu per satu orang datang, dengan sigap si Yu Tum ini melayani. Tak tertangkap keluh kesah dan gerak kelelahan. Orang ini memang tipe pekerja keras rupanya. Saya saja, kalo nggak “terpaksa” harus ngantor, mungkin lebih memilih pulang ke rumah, menikmati kopi hangat dan ditemani alunan suara merdu Norah Jones.

Hari itu, saya belajar banyak tentang kerja keras. Tentang kesetiaan terhadap pekerjaan. Keuletan. Saya jadi malu. Terkadang mudah sekali mengeluh karena lelah. Padahal bagi saya, kerja adalah sebuah obat.

Obat bagi orang yang butuh eksistensi.

Obat saat dirundung sedih.

Obat sebagai teman kesendirian.

Malam itu, setelah hujan sedikit reda.

Saya mulai menyisir Semarang.

Sendiri.

Jalan-jalan basah membuat saya dirundung kenikmatan.

Pelan-pelan saya berjalan

Menikmati sudut-sudut kota yang sebagian lampunya padam

Dingin

Tapi entah hati ini justru hangat

Lantas, saya teringat sebuah sajak yang milik Khalil Gibran

*Kerja adalah cinta yang ngejawantah

dan jika kau tiada sanggup bekerja dengan cinta

hanya dengan enggan

maka lebih baik jika kau meninggalkannya

lalu mengambil tempat di depan gapura candi

meminta sedekah dari mereka yang bekerja dengan suka cita