Image Hosted by ImageShack.us

Saya yang biasanya slengekan. Kali ini ini mo ngomong serius :p

Seminggu terakhir ini, entah disengaja atau tidak (mungkin ini skenario dari Tuhan), kita dipertujukkan dua peristiwa “mahadasyat” yang menjadi konsumsi empuk media. Ya, apalagi kalo bukan pernikahan kedua Aa Gym dan terkuaknya skandal seks anggota DPR Yahya Zaini-Maria Eva. Dua kejadian yang sangat bertolak belakang ini disoroti secara terbalik juga oleh media (setidaknya menurut saya, red.). Poligami yang menurut agama yang dianut Aa gym diperbolehkan dan perzinahan dua insan manusia ini mendapat sorotan. Besarnya perhatian media terhadap kasus ini bisa dilihat dari intensitas pemberitaan dan peletakan berita pada halaman pertama—bahkan seringkali headline. Padahal di kurun waktu yang sama, ada isu yang cukup besar yakni dikabulkannya tuntutan warga yang terkena bencana lumpur Lapindo, dan penahanan KPK atas Rohmin Dahuri.

Saya sendiri menilai media sudah tidak proporsional dalam memberitakan dua kasus tersebut, Aa Gym-Teh Ninih-Rini dan Maria Eva-Yahya Zaini. Aa Gym sebagai ulama besar selalu di nampakkan sebagai seorang pihak yang salah karena telah melakukan poligami dan menyakiti istrinya juga umat. Sebaliknya, untuk kasus Zaini, yang disoroti justru adalah siapa dalang penyebaran video porno yang sudah mencoreng pesonal dan institusi dimana Yahya bernaung. Maria Eva ditampilkan sebagai sosok yang harus dikasihani. Bahkan pengakuannya tentang aborsi dan paksaan beberapa anggota Golkar agar dia cepat-cepat melarikan diri ke Singapura di blow up sedemikian rupa agar image penyanyi dangdut ini sebagai orang yang teraniaya muncul.

Bahkan saya sempat menemukan satu tubuh berita tentang Aa Gym yang memuat tentang pendapat orang yang kontra terhadap keputusannya dan tidak ada satupun pendapat yang pro. Masa lalu Rini yang konon seorang model juga selalu disertakan dalam sebuah kalimat agar opini publik yang terbentuk ia bukan wanita baik-baik dan perebut istri orang. Misalnya kalimatnya seperti ini “Istri kedua Aa gym yang konon sempat berprofesi sebagai seorang model ini ternyata….”. Jarang saya membaca tulisan seperti ini “Maria Eva yang kini bergelar Haji tersebut mengakui bahwa ia mempunyai hubungan khusus dengan Yahya Zaini………..”.

Begitulah, peran media dalam membentuk opini publik sangat dominan. Dalam ilmu komunikasi sendiri ada beberapa teori yang menjelaskan tentang kekuatan bahasa dan isi berita terhadap pembentukan opini dalam masyarakat. “….dalam pandangan teori semiotika, teks (berita) dipandang penuh dengan tanda, mulai dari kata atau istilah, frase, angka, foto dan gambar, bahkan cara mengemasnya pun adalah tanda. Secara semiotis, fakta yang tersurat maupun tersirat merupakan tanda. Pemilihan sebuah sumber berita dan mengabaikan yang lain juga adalah tanda” (Hamad, Ibnu 2004: 17).

Dalam kerangka pembentukan opini publik ini, media massa umunya melakukan tiga kegiatan sekaligus. Pertama, menggunakan simbol-simbol politik (language of politic). Kedua, melaksanakan strategi pengemasan pesan (framing strategies). Ketiga, melakukan fungsi agenda setting (agenda Setting fuction) (Hamad, Ibnu 2004: 2).Yang dimaksud dengan teori agenda setting adalah bahwa yang dianggap media penting secara tidak langsung akan dianggap penting pula bagi masyarakat. Teori tersebut ingin menunjukkan bahwa media bukanlah benda yang hidup dalam ruang yang kosong. Interprestasi penulis berita dan sistem politik yang berlaku dapat mempengaruhi wajah media. Intreprestasi yang dituangkan kedalam tanda inilah yang akan menggiring pembaca kepada sebuah pemahaman tertentu.

Kutipan teori semiotika tersebut untuk menunjukkan bahwa saya mengkritik media tidak berdasarkan suka dan tidak suka, namun dengan memakai dasar ilmiah. Media seharusnya dapat membingkai sebuah peristiwa dengan proporsional. Bukan menyoroti siapa penyebar video tersebut tapi harusnya lebih pada mekanisme sosial dan proses hukum apa yang harusnya diterima keduanya. Hal ini juga untuk mengajari masyarakat bahwa tindakan dalam video itu tidak boleh ditiru dan bukan merupakan hal yang legal. Untuk kasus Aa gym misalnya kenapa tidak diulas sebenarnya seperti apa sih poligami yang benar dan sesuai dengan tuntunan agama Islam itu. Bukan justru menampilkan berita yang justru membuat permasalahan makin bias. Karena jangan lupa salah satu fungsi media adalah fungsi pembelajaran sosial.

Secara pribadi, saya juga tidak menentang keputusan yang diambil Aa. Toh, poligami memang dihalalkan dalam Islam. Nabi Muhammad yang kemurnian hatinya dijamin Allah SWT sebagai teladan bagi manusia juga melakukannya. Poligami yang berstandar kerangka aturan plus proses yang sesuai dengan Islam bagi saya bukan perbuatan tercela. Saya setuju dengan pendapat seseorang (saya lupa namanya) yang mengatakan bahwa jika selama ini Aa Gym menjadi sebuah teladan keluarga satu istri yang harmonis, mungkin kali ini akan menjadi teladan keluarga harmonis dengan dua istri.

Di lain sisi, ya saya akui sangat berempati kepada Teh Ninih yang dengan ikhlas karena kecintaannya kepada Sang Pembuat Hidup memperbolehkan suaminya menikah lagi. Saya bahkan sampai dibuat menangis haru karena wanita ini begitu teguh menjalankan ajaran agama. Mencari kebenaran bukan dari keinginan pribadi tetapi dari Al-Quran sebagai way of life. Keiklashannya bahkan membuatnya menjadi wanita ini bermartabat. Subhanallah saya salut dengan beliau. Semoga menjadi bunga surga.Amien

Beberapa waktu lalu saya juga sempat memperbincangkan hal ini dengan seorang sahabat. Dia bahkan mengaku juga selalu menangis jika mendengar ataupun membaca statemen Teh Ninih. Ya ya, namun toh kami tidak melihat ini sebagai sebuah kasus penindasan terhadap wanita. Saya hanya ingin proporsional melihat kasus ini. Ketidaksetujuan atau penolakan (dan sebaliknya) seharusnya berdasarkan kajian yang matang dengan merujuk hukum Allah, bukan atas dasar suka tidak suka, setuju tidak setuju, ataupun siap tidak siap. Agaknya kasus Aa Gym tersebut memang banyak membuat saya belajar. Belajar bagaimana menjadi ikhlas, dan berserah diri sepenuhnya kepada Sang Raja Alam. Kendati sulit, tapi tidak ada salahnya jika terus berusaha kan?

ps: oya mungkin dua alinea terakhir kedengaran “sangat tidak senja” hehehe, ilmu saya memang masih sedikit dan masih sering berbuat salah. Pendapat saya itu mungkin saja tidak benar, dan anda tentu saja boleh tidak setuju….