Beberapa hari yang lalu ada suporter PSIS tewas di Jakarta sesaat seusai nonton PSIS di final PEBY 2006 lawan PSMS. dia terpelanting dari kap sebuah mikrolet dan ditemukan polisi sudah tak bernyawa. Beberapa jam sebelum jenazahnya datang ke rumah dari RS Fatmawati Jakarta, ibunya terduduk lemas tak berdaya. sambil bertanya kepadaku dimanakah anaknya kini. aku hanya terdiam tak mampu berkata-kata. aku sungguh tak tahu. begitu jenazah datang dengan diangkut ambulance, sang ibu menangis histeris dan pingsan tak sadarkan diri. saat peti mati dibuka, yang pertama kali terlihat adalah kafan yang terdapat bercak darah. keluarga langsung histeris.

Setahun lalu, kira-kira, ada juga suporter PSIS meninggal karena terjatuh dari KA, Semarang-Jakarta. dia bersama ratusan suporter yang lain juga bermaksud mendukung PSIS di PEBY 2005. saat datang ke rumahnya, sang ibu mencoba tabah kendati masih tak percaya anaknya yang baru saja pamitan nonton kesebelasannya beraksi itu kini sudah terbaring tak bernyawa. dia bertanya apakah anaknya mempunyai salah dan hutang kepadaku. aku hanya menggeleng. aku memang sama sekali tidak mengenalnya.

Beberapa bulan sebelum peristiwa itu, suporter PSIS juga ada yang meninggal saat mendukung tim kesayangannya. lupa tepatnya peristiwa apa. yang pasti ia meninggalkan anak dan seorang istri. istrinya hanya sesenggukan dan bicara lirih dengan intonasi yang nyaris tak terdengar saat ku wawancarai. saat kutanya bagaimana kelanjutan hidupnya tanpa suami sekarang. ia hanya menggeleng tak tahu. uhhh, pedih rasanya melihat permandangan seperti itu.

Pertandingan PSIS versus Persijap rusuh. jalan sepanjang Semarang-Jepara bagaikan neraka yang menyisakan banyak pecahan kaca dan benda tajam. seorang suporter terluka parah karena lehernya tertancap pecahan kaca mikrolet yang ia tumpangi bersama kawan-kawannya. karena tak mungkin ke rumah sakit dalam keadaan genting seperti itu. ia pun harus menahan nyawa sepanjang perjalanan dengan kaca di leher. keesokan harinya kulihat kutengok di RS Kariadi. dia ditemani keluarga, handai tolan. mulutnya masih saja mengeluarkan darah padahal luka sudah diobati. saya mual bercampur iba.

sungguh batas antara kehidupan dan kematian sangatlah tipis……