Tragedi Adam Air (1)
Posted by senja on 05 Jan 2007 at 06:12 am | Tagged as: my opinion
Kemarin, pas di kantor iseng saya dengerin editorial Media Indonesia di Metro TV. Kali ini membahas kesalahan informasi dua hari yang lalu tentang jatuhnya pesawat Adam Air yang sempat disiarkan media sudah ditemukan dengan rincian korban 90 tewas, 12 selamat. Informasi salah yang dilansir hampir seluruh media di Indonesia dan LN ini diperoleh dari Kapolda Sulsel Irjen Pol Aryanto Budiharjo, Gubernur Sulbar Anwar Adnan Saleh dan Danrem Pare-Pare juga personel TNI/Polri. Dari keterangan mereka pegunungan Polewali dinyatakan sebagai lokasi jatuhnya pesawat jurusan Surabaya-Manado ini. Kabar mengejutkan tersebut, akhirnya diralat oleh Menhub Hatta Rajasa, yang akhirnya menyatakan bahwa hingga kini (kemarin, red.) pesawat belum bisa ditemukan, begitu pula keadaan penumpangnya belum bisa dipastikan.
Salah informasi di era informasi. Kurang lebih begitulah bunyi sindiran editorial itu. Masih menurut editorial (yang selanjutnya dibahas dengan mendatangkan nara sumber dari Media Indonesia, red.) selain kesalahan fatal narasumber tersebut dan miskomunikasi diantara pejabat tertinggi RI, media juga dituding merupakan penanggung dosa karena menyebarluaskan berita yang salah dengan tanpa melakukan cross check terlebih dahulu. Saya sendiri setuju bahwa media memang ikut andil dalam “dosa informasi†tersebut. Namun tak ada salahnya untuk bersama-sama menelusuri dengan jernih persoalan ini.
Media akan saya kelompokkan antara media elektronik dan cetak. Mengapa? Karena keduanya punya perbedaan yang mendasar. Media elektronik bisa lebih cepat menyampaikan informasi yang beredar saat itu, misalnya melalui breaking news. Hal itu membuat, beritanya lebih bersifat langsung (hard news), kurang detail, tidak ada pendalaman unsur 5 w+1 H (what, when, who, where, why, how). Sedangkan media cetak, karena punya jeda sekian jam dengan kejadian hingga deadline, maka laporannya bisa lebih mendalam ketimbang media elektronik. Sifat berita menekankan pada unsur how dan why.
Atas dasar dua sifat inilah maka jika media elektronik, tv dan radio, sempat salah menyiarkan berita itu maka saya agak bisa memaklumi. Apalagi mereka sudah melakukan langkah yang benar dengan mewawancarai narasumber yang mempunyai kapasitas. Ya benar mereka memang tidak melakukan cross check, namun hal itu karena ada kendala teknis. Gubernur sendiri mengakui bahwa ia mendapat informasi dari seorang warga yang tidak sengaja melewati TKP. Cross check bisa dilakukan jika peristiwa tersebut terjadi dalam keadaan normal. Misalnya TKP bisa didatangi, dan identitas pelapor bisa diketahui (untuk selanjutnya dimintai keterangan). Dengan kendala daerah yang terpencil dan sebagian warga tidak memakai telepon selular maka akan sulit untuk melakukan cek ulang pada saat itu juga.
Untuk media cetak, sepengetahuan saya hanya ada satu media yang terlanjur mengabarkan bahwa Adam Air ditemukan. Saya pikir ini adalah kesalahan fatal dan ketiban sial. Fatal karena terlalu berani mengambil resiko disaat sebuah informasi masih sangat sumir. Ketiban sial karena dugaan awak redaksi ternyata meleset. Diakui atau tidak, dalam sebuah kantor berita cetak, redaksi memang terkadang melakukan spekulasi agar beritanya tidak ketinggalan media lain. Namun spekulasi ini tidak serta merta dilakukan. Harus ada beberapa parameter dan data pendukung yang kuat sehingga kita bisa memperkirakan 99 persen arah kecenderungan sebuah peristiwa.
Kesimpulannya; saya setuju media salah, namun derajat kesalahannya harus dibedakan antara media cetak dan elektronik. Kedua, setuju dengan perkataan editorial Media Indonesia. Statemen pejabat pemerintahan dan kepolisian memperlihatkan bahwa strategi ABS (Asal Bapak Senang) masih dipraktekkan oleh sebagian pejabat republik ini. Ironis memang, ditengah-tengah kondisi negara yang memerlukan orang-orang pekerja keras dengan sikap kehati-hatian, mereka masih saja suka memberikan laporan baik-baik saja kepada atasan. Sungguh memalukan. (bersambung)








media (mau dia elektronik maupun cetak) seharusnya tetap bisa menginformasikan peristiwa yang sebenarnya. kelemahan media elektronik adalah: bagaimana tergantungnya mereka pada soundbyte. sehingga peristiwanya sendiri malah nggak terverifikasi.
jika memang mendapatkan informasi melalui soundbyte narsum, harus pula disebutkan bahwa hingga saat ini tim sar belum memberikan konfirmasi. jika para redaktur dan editornya memang wartawan pol-polan (istilahku sendiri nih, hehe), kalau ada bencana yang sudah pasti soundbyte-nya harus didapat dari mereka-mereka yang berwenang dalam hal bencana. tim sar tadi itu misalnya. gubernurnya mah belakangan. kecuali kalau memang dia terjun langsung melihat lokasinya, itu lain soal.
anyway, lucu juga ya (memalukan menurut istilahmu, Nja), ada kasus pemberitaan yang simpang siur dan tersebar rata pula di dunia media kita.
Nja, met tahun baru yaa. senangnya bisa buka blogmu lagi.
Akan berbeda lagi dengan media cyber, karena sifat medianya yang online maka sifat berita menjadi ASAP. Efeknya, kedalaman berita (news in depth) tak bisa dilakukan. Tapi, media cyber, juga beruntung bisa melakukan updating news setiap saat karena sifat-sifat itu.
Cuma, kalau media cyber terus menerus (kerap) melakukan kesalahan berita kendati bisa diupdate dan re-update, maka publik akan mempertanyakan kredibilitas editorialnya, termasuk pemred dan staf redaksinya
mbak fitri saya suka komentar anda. karena seorang wartawan memang musti pol-polan. namun toh saya juga seperti bisa setengah merasakan bagaimana susahnya mengcover bencana yang TKP-nya nyaris tak bisa terjangkau manusia. gini deh, saya ceritain. Beberapa televisi bahkan sebenarnya sudah menghubungi beberapa warga yang mengaku sudah melihat dengan bahwa bangkai adam Air ada di gunung X (maap saya lupa namanya). mereka melakukan teleconference langsung. ada juga TV yang menghubungi kepala Kantor POS setempat. saya tidak tahu pasti apa alasannya mereka memilih narasumber tersebut, namun kira-kira karena hanya orang-orang kantor pos-lah yang mengerti dengan benar daerah-daerah “kekuasaannya” terkait dengan jasa pengiriman surat. SAR, setahu saya saat itu masih sibuk mencari pesawat melalui pengamatan udara. belum ke TKP karena–lagi2– daerah yang disinyalir tempat jatuhnya Adam Air tidak terjangkau. saya mengira–analisa ini bisa salah bisa benar– media, khususnya TV meniru cara pen-cover-an berita saat bencana tsunami Aceh dan Gempa Jogja lalu. semua orang yang bisa dihubungi, di telepon untuk emmberikan semua informasi minimal yang mereka ketahui. hasilnya, kendati gambar mungkin baru bisa diambil beberapa jam setelah peristiwa itu, namun berita sudah menyebar kemana-mana. baguslah saat itu, informasi benar, dan kali ini, kami–media– kena batunya karena informasi yang didapat ternyata salah, kendati keluar dari mulut Gubernur yang diakhir wawancara mendadak seperti orang terburu-buru karena beralasan akan langsung menuju TKP.
helloo..nico hadir kembali…met idul adha 1427 H n met tahun baru 2007.
mengenai tulisan yang dibawakan saudari senja, saya sedikt banyak setuju. media elektronik memberikan efek yang lebih cepat(tersebarnya berita) dibandingkan dengna media cetak. saya teringat ketika beberapa bulan lalu tahun 2006 disaat gunung merapi sedang aktif, media elektronik(beberapa) terkesan membesar-besarkan peristiwa yang terjadi. pernah disuatu siang, saya dan beberapa teman-teman diwaktu yang hampir bersamaan ditelfon keluarga untuk menanyakan keadaan apakah baik-baik saja. reaksi ini timbul setelah melihat berita sekilas info yang memberitakan telah terjadi awan panas dan guguran lava yang besar di merapi.
bagi orang biasa, berita ini cukup menghebohkan. tapi bagi kita-kita yang benar-benar mengetahui keadaan sebenarnya dan berada didekat lokasi, cuma bergumam ” perasaan biasa aja deh” .
saya nggak bilang kalau ini kesalahan semata-mata wartawan. fyi, saya juga wartawan kok dulunya, jadinya, ngerti dan tahu gimana susahnya mengcover kejadian bencana.
meliput bencana dengan langsung mewawancarai orang-orang yang berada di tkp itu bagus. tentunya ada pihak berwenang dan otoritatif yg bisa dikutip juga buat data lengkapnya. dalam soal bencana, yang paling bertanggung jawab memang para sumbernya yang otoritatif itu. karena wartawan nggak bisa langsung mengaksesnya ke tkp.
yang saya perhatikan sebagai “kesalahan” di kasus pemberitaan adam air ini adalah wartawan tidak mengajukan pertanyaan yang cukup tajam kepada para sumber sehingga kejanggalan bisa ditemukan sebelum berita ditulis. menuliskan beritanya sendiri, wartawan suka nggak korek. yang paling bagus ya harusnya berhati-hati, dengan memberikan disclaimer misalnya.
contohnya: “gubernur anu mengatakan bahwa korban adam air kini berjumlah sekian orang di lokasi X. hingga saat ini, tim sar belum terkonfirmasi.”
itu berita yang hati-hati dan jelas. sehingga ketika terjadi kesalahan pun, semua orang tahu bahwa data-data sebelumnya yang diberitakan “memang sesuai”: sesuai omongan gubernur, sesuai konfirmasi.
wartawan cuma perlu hati-hati dan skeptis. itu saja kok. redaktur dan editornya, dalam hal ini, juga menentukan. kita tahu sendiri kan, kadang-kadang wartawannya sudah betul, tapi demi membuat kesan bahwa si wartawan sudah langsung terjun sendiri ke lapangan (atau apapun alasan lain yang mengandung sensasi), maka berita yang keluar jadinya “agak” beda.
Hedi: bener mas, padahal untuk tahu perkembangan berita jam per jam maka saya sebenarnya lebih sering buka berita di cyber. infonya kadang justru lebih cepet dari pada TV. Kalau cepet tapi salah, jadi susah juga konsumennya.
Nico: Woi kemana aja ya? nggak pernah kelihatan. btw, emang kayaknya orang jogja pada ayem tentrem ya, padahal yang diluaran pada panik..hehehe
fitrimohan: mbak fitri, senja seneng bgt dengan pendapat2 mbak. kata-kata mu membuat saya tertampar. ternyata tingkat kepercayaan masyarakat terhadap media sedang turun. nah, senja juga jd makin hati-hati karena pembaca jaman sekarang sudah pada kritis2. btw, thx berat atas commentnya, anda benar, berita sensasi itu luar biasa bahayanya, apalagi kalau menyangkut berita bencana yang menelan banyak korban. thx a lot mbak
klu bloger salah info gimana? tinggal diupdate kali ya..
Waduh, komennya pade serius….*paling ga bisa komen serius nih*….tapi selalu ikutin berita ttg adamair dan km senopati, duh kasihan banget….
tapi kritik buat pemerintah, harusnya perlu diperketat lagi perijinan ttg kelaikan pesawat utk terbang, karena menyangkut nyawa manusia, kalo emang pesawatnya dah pada tua2 *adamair pesawatnya menurut sumber yg bisa dipercaya , umurnya ada yang di atas 25 tahun* harusnya di blacklist, perusahaan ditutup..
saya juga ga ngerti jurnalisme ah =), mudah - mudahan korban cepat ditemukan dan kecelakaan transportasi maupun “kecelakaan pemberitaan” tidak terulang di kemudian hari =)
Kang Adhi: Iya kang lebh mudah, apalagi kalo salahnya belum nyampe 5 menit, mungkin malah belom dibaca orang lain…hehehe
Mbak Tia: wah, iya mbak, problem kita ini kan emang nggak bisa tegas. peraturan bisa di plintir sesuai kepentingan..
bintangjatuh: Amien…
Aduh… brita Adam Air koq simpang siur kayak gini yah…., ya mudah-mudahan aja banyak yang selamat dah.
Mbak senja , datang dong ke markasnya Newbatman. Kita ramah-ramah lho…., Eh sambil Mbahas tu Adam Air Sapa tau bisa Kita temukan. gimana….? Okey nggak…?
adi distro: ok kapan-kapan pasti mampir. kalo mo ngobrol2, aku tiap sore ke stadion citarum. datang saja..thx
” kalo mo ngobrol2, aku tiap sore ke stadion citarum. datang saja..thx ”
datang saja lho …maksudnya…
Media: kenapa harus cross-check, kan beritanya adalah menurut si A (kebetulan adalah pejabat yang cukup berwenang) dan itu yang kita, pemirsa - pendengar - pembaca, ingin ketahui. Media tidak salah sama sekali, sekalian kan kita tahu, kalau si pejabat tadi ternyata bekerja seperti itu, nah loe.