Kemarin, pas di kantor iseng saya dengerin editorial Media Indonesia di Metro TV. Kali ini membahas kesalahan informasi dua hari yang lalu tentang jatuhnya pesawat Adam Air yang sempat disiarkan media sudah ditemukan dengan rincian korban 90 tewas, 12 selamat. Informasi salah yang dilansir hampir seluruh media di Indonesia dan LN ini diperoleh dari Kapolda Sulsel Irjen Pol Aryanto Budiharjo, Gubernur Sulbar Anwar Adnan Saleh dan Danrem Pare-Pare juga personel TNI/Polri. Dari keterangan mereka pegunungan Polewali dinyatakan sebagai lokasi jatuhnya pesawat jurusan Surabaya-Manado ini. Kabar mengejutkan tersebut, akhirnya diralat oleh Menhub Hatta Rajasa, yang akhirnya menyatakan bahwa hingga kini (kemarin, red.) pesawat belum bisa ditemukan, begitu pula keadaan penumpangnya belum bisa dipastikan.

Salah informasi di era informasi. Kurang lebih begitulah bunyi sindiran editorial itu. Masih menurut editorial (yang selanjutnya dibahas dengan mendatangkan nara sumber dari Media Indonesia, red.) selain kesalahan fatal narasumber tersebut dan miskomunikasi diantara pejabat tertinggi RI, media juga dituding merupakan penanggung dosa karena menyebarluaskan berita yang salah dengan tanpa melakukan cross check terlebih dahulu. Saya sendiri setuju bahwa media memang ikut andil dalam “dosa informasi” tersebut. Namun tak ada salahnya untuk bersama-sama menelusuri dengan jernih persoalan ini.

Media akan saya kelompokkan antara media elektronik dan cetak. Mengapa? Karena keduanya punya perbedaan yang mendasar. Media elektronik bisa lebih cepat menyampaikan informasi yang beredar saat itu, misalnya melalui breaking news. Hal itu membuat, beritanya lebih bersifat langsung (hard news), kurang detail, tidak ada pendalaman unsur 5 w+1 H (what, when, who, where, why, how). Sedangkan media cetak, karena punya jeda sekian jam dengan kejadian hingga deadline, maka laporannya bisa lebih mendalam ketimbang media elektronik. Sifat berita menekankan pada unsur how dan why.

Atas dasar dua sifat inilah maka jika media elektronik, tv dan radio, sempat salah menyiarkan berita itu maka saya agak bisa memaklumi. Apalagi mereka sudah melakukan langkah yang benar dengan mewawancarai narasumber yang mempunyai kapasitas. Ya benar mereka memang tidak melakukan cross check, namun hal itu karena ada kendala teknis. Gubernur sendiri mengakui bahwa ia mendapat informasi dari seorang warga yang tidak sengaja melewati TKP. Cross check bisa dilakukan jika peristiwa tersebut terjadi dalam keadaan normal. Misalnya TKP bisa didatangi, dan identitas pelapor bisa diketahui (untuk selanjutnya dimintai keterangan). Dengan kendala daerah yang terpencil dan sebagian warga tidak memakai telepon selular maka akan sulit untuk melakukan cek ulang pada saat itu juga.

Untuk media cetak, sepengetahuan saya hanya ada satu media yang terlanjur mengabarkan bahwa Adam Air ditemukan. Saya pikir ini adalah kesalahan fatal dan ketiban sial. Fatal karena terlalu berani mengambil resiko disaat sebuah informasi masih sangat sumir. Ketiban sial karena dugaan awak redaksi ternyata meleset. Diakui atau tidak, dalam sebuah kantor berita cetak, redaksi memang terkadang melakukan spekulasi agar beritanya tidak ketinggalan media lain. Namun spekulasi ini tidak serta merta dilakukan. Harus ada beberapa parameter dan data pendukung yang kuat sehingga kita bisa memperkirakan 99 persen arah kecenderungan sebuah peristiwa.

Kesimpulannya; saya setuju media salah, namun derajat kesalahannya harus dibedakan antara media cetak dan elektronik. Kedua, setuju dengan perkataan editorial Media Indonesia. Statemen pejabat pemerintahan dan kepolisian memperlihatkan bahwa strategi ABS (Asal Bapak Senang) masih dipraktekkan oleh sebagian pejabat republik ini. Ironis memang, ditengah-tengah kondisi negara yang memerlukan orang-orang pekerja keras dengan sikap kehati-hatian, mereka masih saja suka memberikan laporan baik-baik saja kepada atasan. Sungguh memalukan. (bersambung)