Tragedi Adam Air (2)
Posted by senja on 10 Jan 2007 at 06:00 am | Tagged as: my opinion
“Korupsi dalam bentuk corrupted mind merupakan aspek dan bagian sangat krusial mengapa demikian banyak kasus KKN dianggap bukan korupsi. Kita tidak boleh menganggap remeh adanya kemungkinan bahwa corrupted mind yang menyebabkan Indonesia dianggap termasuk negara paling korup di dunia, tetapi jumlah koruptornya sangat sedikitâ€. (Kwik Kian Gie, 2006)
Analogi diatas cocok jika diterapkan di berbagai kasus di negeri ini. “Mind” inilah membuat kita selalu jatuh di lubang yang sama, kendati problem semacam itu sering sekali kita jumpai. Masalah haji, kecelakaan transportasi, korupsi, bencana alam dll. Kasus yang terus menerus dialami bangsa ini setiap tahun dan selalu terulang dan terulang lagi. Mengapa? Karena visi dan misi-nya (dalam korupsi disebut corrupted mind) bukan mengacu agar bagaimana kasus itu tidak terulang lagi, namun hanya bagaimana kasus tersebut selesai pada saat itu juga tanpa harus mengorbankan jabatannya. Hasilnya, setiap tahun menyelenggarakan haji –jumlah jamaah terbanyak– namun ada saja masalah yang menghampiri. Kecelakaan transportasi tidak menjadi pelajaran berharga sehingga musibah yang sama terjadi lagi. Penanganan bencana alam pun sama saja. “Mind†inilah seharusnya yang diubah…
Sekedar mengingatkan inilah beberapa kasus kecelakaan pesawat terbang di Indonesia sejak tahun 2002 silam (diambil dari Wikipedia)
2002
14 Januari Lion Air penerbangan JT 386
2003
-
2004
3 Juli Lion Air penerbangan 332 di Palembang
30 November Lion Air penerbangan 538
2005
10 Januari Lion Air penerbangan 352 dari Jakarta-Padang membawa seorang penumpang gelap
10 Januari Lion Air penerbangan 789 gagal lepas landas dari Kendari
15 Februari Lion Air penerbangan 1641 terperosok di bandara Selaparang Mataram
5 September Mandala Airlines penerbangan RI 091 pesawat Boeing 737-200, gagal take off dari bandara Polonia Medan dalam penerbangan menuju Jakarta lalu menerobos pagar bandara dan menabrak perumamahan penduduk. 117 penumpang dan awak, hanya 17 selamat. Korban masyarakat 41 tewas.
2006
4 Maret Lion Air penerbangan IW 8987 dari Denpasar membawa 156 orang tergelincir saat mendarat karena cuaca buruk, penumpang selamat.
5 Mei Batavia Air penerbangan 843 jurusan Jakarta-Ujung Pandang-Merauke setelah beberapa saat mengudara pilot meminta kembali ke bandara, saat mendarat ban pecah dan pesawat tergelincir di landasan pacu Bandara Soekarno Hatta, 127 penumpang selamat, 4 luka-luka.
Data diatas, setidaknya membantu anda untuk lebih bijak memilih maskapai penerbangan jika akan bepergian…..hehehehe :p (tamat)








iya dong… masa pengalaman tidak membuat kita bijak..
Brr… jadi takut mabur. Kayaknya ebih aman numpang Superman deh.
aku pernah pake lion air, dan langsung kapok begitu pesawatnya turun dengan nggak smooth. bikin trauma saja. kalau pelayanannya nggak bagus, minuman dan makanan nggak enak sih, nggak masalah buat saya. lha wong penerbangan murah.
tapi, begitu pesawatnya gradak gruduk di landasan. duhhh, lha ini mbayar minimal kan mestinya keselamatan yang paling penting.
sejak itu, aku cuma pake dua maskapai aja Nja: merpati, dan garuda. merpati (katanya udah nggak ada ya?), pilotnya sangat smooth, pramugarinya buagus sekali pelayanannya. garuda standar lah, tapi tetap bagus.
makasih ya untuk rekapitulasi berita kecelakaan ini.
wah saya malah hampir pasti selalu naik lion, karena pas sama kantong mahasiswa =), anyway kalo prosedurnya dijalankan dengan bener pesawat itu alat transportasi yang paling aman di dunia kok
paling enak naik lufthansa, pesawatnya gede, tidak getar apalagi goyang2, makanannya enak2 dan pramugaranya ganteng2 *halah*
wah anak STAN ada yg jadi korban Adam Air:(
yuk naik sepeda bareng spedaman:P
*kring kring*
Kalau mikir korupsi, kadang terpikir aku tidak korupsi karena kesempatan ga ada…mind corruptive bukan ya?
hehe kalo garuda mahal :p lion memang murah meriah
ga usah pusing mikirin milih maskapai yang mana..
yang penting, sebelum berangkat.. tobat aja dulu,
banyak2 baca doa, dan jangan lupa tulis wasiat..
hanya tuhan yang tau …
Ivan:beruntunglah mas ivan cukup bijak karena mau belajar dari kesalahan-kesalahan yang telah lampau…*halah,sok tua*
Emak: iya bener bu, apalagi superman yang paling baru ini, udah ditinggal Lois tunangan…hahahaha. btw, salam rindu..
FitriMohan: bener mbak, tapi faktor murah muriah itu lho yang bikin Garuda nggak bisa dinikmati banyak orang….kekekeke. btw, mbak kemana kok pintu rumahnya ke tutup terus. kalo pergi jangan lama2 ya :p
Bintangjatuh: nah itu dia, prosedur yang bener itu susehnya minta ampun, apalagi di Indonesia….
Tia: yang paling penting bisa cuci mata ya mbak :p
Spedaman: nah ini nih yang aman, paling banter nyosor ke troroar doang, bebas polusi lagi.yukkkk. kring kring
Hedi: setahu saya, yang dimaksud corrupted mind ga hanya sampe disitu, tapi aneka kebijakan yang cenderung meringankan/memandang enteng masalah korupsi. misalnya kebijakan R&D.
Fahmi: iya, benerrrrrrrr
Daus oh daus: temen ngeblog boleh kecipratan wasiat g yaaaaa?
lebih aman lewat jalan darat deh kyknya, biar lambat asal selamat. hehe, tp bencana & nyawa kita kan ditangan Tuhan, kita ga bs menduga atau menghindar. yang penting selalu berdoa kalo mau bepergian. ok?
Eh jangan bilang jalan darat paling aman. Coba liat aja, banyak mobil yang kepalanya peot karena kecelakaan, bus masuk jurang, eh ngeri dah pokoknya. Yang paling aman saya rasa duduk termenung di rumah sambil memeluk istri tercinta atau baca koran atau nonton TV atau bisa juga sekedar membalas email dari teman atau atau atau atau pokoknya atau dah……….
memang bagaimanapun juga serem kok kalo naek pesawat…. apapun pesawatnya tetep aja perasaaan ga enak itu ada… minimal saat landing…. mak seeeerrrrrrr….. hiiiii…
Mister: iya nih, saya juga mikir lewat darat lebih aman nggak ya? ato minimal kalo tabrakan lebih gampang menyelematkan diri, dari pada di laut atau di udara…
Sas: saya setuju ma kalimat terakhir. sayangnya, saya belom punya suami, jadi yah meluk bental aja deh…
Bebek: bener mas, landing ma take off adalah moment yang paling ngeri deh
komen apa ya?
mo di darat, laut, udara..sebelum berangkat minum antimo dulu.
biar gak gak mabuk di perjalanan.
terima kasih.
Semoga dipertemukan dalam keadaan yang lebih baik.Amiinn.
I got it from mailing list on yahoo group, It said:
Management Adam Air
Edisi. 46/XXXV/08 - 14 Januari 2007
Laporan Utama
Jalan Lurus walau Kokpit Buta
Pilot Adam Air tak jarang menerbangkan pesawat dengan deretan instrumen di kokpit yang rusak. Ada yang nyasar, yang lain memilih mundur.
Perhatian Kapten Pilot Sutan Solahu-din terhenti saat membaca satu bagian pada catatan yang baru diterimanya. Laporan itu menyebut, Boeing 737-300 yang akan diterbangkannya sejam lagi mengalami kerusakan pada sistem navigasinya. Catatan itu dibolak-balik, tetapi ia tak juga menemukan surat keterangan dari bagian teknik bahwa pesawat layak terbang. Sutan menolak menerbangkan pesawat milik maskapai Adam Air itu dari Jakarta ke Padang. “Tapi saya ditekan pihak owner (pemilik) melalui telepon agar menerbangkan pesawat itu,” katanya.
Sutan akhirnya menyerah dan menerbangkan pesawat tanpa alat navigasi itu. Pesawat itu terbang seperti orang berjalan dengan mata tertutup saja. Selama penerbangan ia mengkhawatirkan keselamatan sekitar seratus penumpang yang dibawa-nya. Dia harus memakai insting untuk mencari arah Kota Padang.
Untunglah, pengalaman terbang Sutan membuat pesawat tidak nyasar. Setelah insiden itu, Sutan merasa tidak nyaman dan aman bekerja di maskapai Adam Air. Saat dia berbagi cerita dengan kawan-kawannya sesama pilot, ternyata peristiwa serupa pernah mereka alami. Akhirnya Sutan bersama 16 pilot lainnya memutuskan mengundurkan diri dari Adam Air, Mei 2005.
Ternyata keputusan mundur itu berbuntut panjang. Pihak Adam Air menuding rombongan pilot itu menyalahi kontrak kerja. Perusahaan membawa kasus ini ke pengadilan perdata. Mereka harus membayar semua biaya yang sudah dikeluarkan perusahaan, plus ganti rugi imateriil. Rata-rata setiap pilot harus membayar Rp 3,6 miliar. “Terus terang saya tidak sanggup membayar uang sebesar itu,” kata Sutan saat mengadukan nasibnya ke Komisi V DPR, Maret tahun lalu.
Kasus ini mestinya putus Kamis pekan lalu. Tetapi Pengadilan Negeri Jakarta Barat menundanya karena kuasa hukum Adam Air tidak hadir. Rumusan fakta-fakta putusan juga belum selesai, salah satu anggota majelis hakim sedang cuti. “Sidang ditunda selama dua minggu,” kata ketua majelis hakim, Zaenal Arifin. Penyelesaian melalui pengadilan tinggal menunggu waktu. Tetapi pemogokan 17 pilot Adam Air dengan alasan keamanan dalam penerbangan harusnya menjadi perhatian Direktorat Sertifikasi Kelaikan Udara di Departemen Perhubungan sebagai otoritas penerbangan. Jika tudingan Sutan dan kawan-kawannya benar, ratusan nyawa penumpang dan awak pesawat dalam setiap kali penerbangan menjadi taruhan.
Mungkin saja kecelakaan pesawat Adam Air dengan nomor penerbangan KI 574 di atas langit Sulawesi juga berkaitan dengan sistem navigasi. Percakapan terakhir yang terekam antara pilot Refri Agustian Widodo dan petugas air traffic controller (ATC) atau pemandu lalu-lintas udara di Bandara Hasanuddin, Makassar, Sulawesi Selatan, menyangkut soal posisi pesawat. Setelah pesawat bermanuver menghindari empasan angin, pilot bertanya di mana posisinya.
Padahal, sistem navigasi di kokpit pesawat cukup memberi informasi itu-kalau alat itu bekerja baik. Terbang buta tanpa navigasi bukan kali ini saja dilakukan pilot Adam Air. Pesawat Adam Air yang berangkat dari Jakarta dengan tujuan Bandara Hasanuddin juga pernah nyasar, Februari tahun lalu. Pesawat tiba-tiba meminta mendarat di Bandara Tambolaka, Sumba, Nusa Tenggara Timur. Padahal jarak bandara kecil itu dengan Kota Makassar lebih jauh dibanding jarak Jakarta-Semarang.
Saat itu Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) meminta Kepala Bandara Tambolaka menahan pesawat nyasar itu. Tetapi Adam Air justru menerbangkan lagi pesawat menuju Makassar dengan mengganti pilot dan kopilotnya. Keputusan memindahkan pesawat yang rusak dari lokasi kejadian, memperbaiki, dan menerbangkan kembali tanpa izin merupakan pelanggaran berat. Sebab, penerbangan lanjutan itu menghapus semua rekaman data dalam kotak hitam yang bisa membongkar kejadian buruk yang terjadi sebelumnya.
Akibat kejadian itu, polisi menahan Kapten Tri Nusiyogo dan Kopilot Ahmad Deni Syaifuddin. Seorang mantan pilot Adam Air, yang menolak disebut namanya, mengaku campur tangan manajemen cukup besar. Padahal pihak manajemen tidak paham masalah pengoperasian pesawat. Dia menceritakan pengalamannya saat transit di Juanda Surabaya, Jawa Timur, sebelum meneruskan perjalanan ke Ngurah Rai Denpasar, Bali.
Baru sepuluh menit penumpang meninggalkan pesawat, pilot dikagetkan dengan penumpang yang sudah kembali masuk pesawat. Padahal saat itu pramugari masih sibuk memeriksa perlengkapan dalam kabin, sementara pilot sedang mengecek instrumen di kokpit. “Kok, penumpang sudah naik?” sang pilot bertanya heran. Seharusnya ramp atau petugas di darat menunggu pilot menyatakan pesawat siap terbang. Setelah itu, mereka baru boleh memasukkan penumpang. Insiden itu tampak sepele, tetapi bisa membahayakan penerbangan. Saat transit, harusnya mesin dan rem pesawat diberi kesempatan melakukan pendinginan. “Paling tidak pesawat butuh waktu 40 menit untuk transit,” kata sang kapten.
Tapi apa boleh buat, pihak manajemen di Jakarta memerintahkan pesawat segera berangkat. Ada contoh lain. Dalam penerbangan dikenal istilah hold item list. Jika terjadi gangguan pada instrumen tertentu, pesawat masih bisa terbang asalkan perbaikan harus segera dilakukan. Misalnya ada gangguan sistem navigasi, pesawat masih bisa terbang asalkan ada langkah-langkah teknik tertentu. Biasanya pilot masih berani terbang jika jumlah gangguan dalam daftar ini hanya terjadi pada satu atau dua instrumen. “Tapi kalau sampai lima item, ngapain harus terbang.
Kita kan lama-lama jadi takut setiap mau terbang,” kata mantan pilot Adam Air ini. Kalau saja maskapai penerbangan mengikuti aturan keselamatan penerbangan atau CASR (Civil Aviation Safety Regulation) yang ditetapkan pemerintah, keamanan pesawat lumayan terjamin. Mantan pilot Adam ini tak menampik kenyataan bahwa maskapai yang pesawat pertamanya terbang pada Desember 2003 ini masih memperhatikan faktor keamanan. “Tetapi batas toleransinya diturunkan,” katanya.
Toleransi penggunaan bahan bakar juga minim. Manajemen menuntut pesawat terbang lurus ke bandara tujuan untuk menghemat bahan bakar. Akibatnya, pilot tidak berani terlalu banyak bermanuver. Kalau pesawat terus digeber seperti itu, “Saya punya insting maskapai ini menjelang titik kritis.” Dia akhirnya memutuskan ikut rombongan untuk keluar. Artinya, pemerintah perlu pasang mata lebih baik di era penerbangan murah ini. Pemerintah tak boleh bertindak setelah kecelakaan terjadi seperti selama ini. Pada September 2005, pesawat Mandala gagal terbang dari bandara Medan. Pesawat ambruk dan menelan korban 101 penumpang tewas, bersama 42 penduduk setempat.
Menteri Perhubungan kemudian melakukan inspeksi mendadak ke Bandara Soekarno-Hatta, lima hari kemudian. Hasil inspeksi mendadak itu mengagetkan. Saat itu ditemukan lima pesawat yang tidak siap terbang dari maskapai Adam Air, Batavia, dan Mandala Airlines. Itu pun yang dicek hanya pesawat Boeing 737-200 yang serinya sama dengan pesawat Mandala yang terbakar. “Lima pesawat dikandangkan sampai item yang rusak diperbaiki sesuai dengan standar,” kata Hatta. Di depan Komisi V DPR, Hatta berjanji stafnya akan melakukan pengecekan lebih sering, setidaknya setiap dua bulan sekali.
Bagaimana keamanan Adam Air? Dihubungi Tempo, Direktur Komersial Adam Air, Gugi Pringwa Saputra, mengakui maskapainya menerapkan efisiensi konsumsi bahan bakar karena mengunyah 60 persen dari total pendapatan. “Kami bukan mengurangi jatah, tapi memperpendek jarak tempuh,” katanya. Misalnya rute antarkota berbelok-belok, Adam Air meminta pihak pemandu lalu-lintas penerbangan agar bisa menempuh rute yang lebih lurus. Hasilnya, mereka bisa menghemat belanja sampai sepuluh persen. “Ini penghematan yang luar biasa,” katanya.
Gugi menampik tudingan maskapainya menyepelekan keselamatan penumpang. Menurut dia, sertifikat kelaikan penerbangan masih mentoleransi waktu transit pesawat hanya 20 menit. Bahkan tidak transit pun bisa, langsung terbang lagi asalkan tidak ada masalah dari segi mesin atau teknis. “Penumpang sendiri kan ingin cepat,” katanya. Soal intervensi pihak manajemen kepada pilot? “Itu cerita lama dari seseorang yang tidak puas dengan manajemen,” kata Gugi.