Tembalang, masih pukul 21.50 WIB

Kopi + singkong keju goreng + majalah Tempo = suguhan sepulang kerja…..mmmhhhh yummy. Naik ke atas kasur, setel radio, baca dan sesekali menyeruput kopi di selingi kudapan…..ssttt, di luar sana, hujan gerimis menggerus tanah basah.

* * *

Saya teringat sebuah pembicaraan temen-temen saya di kantor. Salah satu pelaku dalam obrolan itu adalah fotografer, yang tak lain adalah kakak kelas saya waktu kuliah di Jogja dulu. Saat itu, saya hanya nguping saja, tak ikut dalam obrolan seru mereka tentang foto-foto yang dirilis World Press Photo baru-baru ini. Salah satu inti pembicaraan mereka adalah tentang momentum. Teknik dan jenis kamera boleh sama (anggaplah fotografer-fotografer dalam pembicaraan ini punya jenis kamera dan teknik yang sama), namun toh yang membedakan foto juru kamera satu dengan yang lain adalah momentum. Maksudnya, boleh jadi fotografer A fotonya bagus karena ia tepat berada di lokasi sebuah peristiwa yang mencengangkan. Hanya dia yang di sana, dan akhirnya tercetaklah foto yang menakjubkan. Sedangkan fotografer B sedang molor di rumah. Jadilah dia tidak punya kesempatan membidik peristiwa itu, padahal mungkin klo dia nggak pelor (nempel n molor) dia pun bisa punya foto yang sama bagusnya dengan rekannya itu.

Kebetulan berada di tempat dan peristiwa yang pas itulah yang mungkin membuat beberapa foto juru kamera beberapa media nongkrong di World Press Photo (disamping tentu saja –bagi saya yang culun ini–mereka adalah fotografer handal yang punya kemampuan teknik sangat mumpuni). Salah satu foto yang bikin saya takjub adalah foto yang memperlihatkan seorang wanita Palestina melawan serbuan ratusan tentara Israel dengan menahan tameng mereka dengan sekuat tenaga. Dulu sekali saya juga kagum dengan foto sebuah truk tentara yang diisi ratusan suporter Persebaya yang miring karena kelebihan muatan. Si juru foto tepat membidik saat truk itu miring sebelum akhirnya jatuh terguling. Suporternya semburat loncat dan si sopir wajahnya was-was dengan mata melotot. Keren!

Kini permbicaraan itu, melempar saya pada berita tewasnya dua juru kamera SCTV, Guntur dan Lativi, Suherman, kala menjalankan tugas jurnalistiknya di kapal Levina. Kapal yang hangus beberapa hari lalu tersebut ternyata nggak hanya merenggut nyawa penumpang kala terbakar di tengah lautan lepas. Tapi juga menjadi pengantar tenggelamnya dua wartawan yang sedang mengambil gambar kala si kapal naas itu sudah merapat ke Tanjung Priok untuk diinvestigasi tim dari KNKT dan Puslabfor. Saya membayangkan, mereka pasti ingin mendapatkan gambar ekslusif. Berharap-harap cemas bisa menangkap momen berharga kala tim penyelidik menemukan hal yang tak lazim. Mereka pasti ingin masyarakat luas tahu bagaimana kondisi terakhir Levina setelah terkena amukan si jago merah. Namun apa daya, belum juga tugas itu tuntas, kapal mendadak oleng dan tenggelam. Metro TV sempat merekam kepanikan para petugas KNKT dan Puslabfor juga wartawan-wartawan saat kapal miring hendak karam. Kendati tak begitu jelas karena gambar yang dihasilkan goyang namun betapa spirit ingin mendapatkan gambar yang bagus terus tersisip kendati nyawa dalam ancaman. Semangat merekam momen berharga yang tidak bisa diulang itulah mungkin yang membuat kameramen metro TV tetap menjalankan tugas di saat kritis. Jangan-jangan keinginan untuk tidak kehilangan momentum itu jugalah yang membuat dua kameramen TV swasta itu tak sempat menyelamatkan diri.

Entahlah… Saya jadi ingat fotografer– teman saya itu– yang tetap siaga motret kendati pertandingan sepakbola rusuh, hujan batu dan pecahan kaca berserak di mana-mana. Terkadang pilihan hanya ada dua, kehilangan momentum atau keselamatan. Dan bagi fotografer, (mungkin) momentum adalah segala-galanya, sedangkan keselamatan adalah urusan kedua setelah momen terekam dalam kamera. Sekali lagi, saya masih culun dan hijau, jadi ……..