Friday, March 16th, 2007
Daily Archive
Daily Archive
Posted by senja on 16 Mar 2007 | Tagged as: my opinion
**postingan ini tidak ada hubungannya dengan feminisme/emansipasi wanita**
Sering kita mendengar seorang wanita berani bertaruh nyawa demi mempertahankan tas yang terancam dijarah pencopet dengan segala daya upaya. Hingga –pernah pada suatu kasus– tangan si korban ini terkena sabetan gobang saat berkelahi melawan penjahat. Si wanita yang notabene tidak mempunyai keahlian silat, karate, kungfu, taekwondo atau olahraga beladiri lainnya berani melawan kejahatan. Terbuktilah bahwa naluri mempertahankan dan membela diri tidak ada sangkut pautnya dengan jenis kelamin. Siapapun orangnya jika terancam nyawa pasti berusaha melawan.
Urusan membela diri juga tidak ada sangkut pautnya dengan umur atau jabatan. Tengok saja kasus penembakan Wakapolwiltabes Semarang Lilik Purwanto. Terlepas apakah motif Hance Chris menghabisi sang atasan benar atau salah, toh kendati ia hanya seorang bawahan dan notabene umurnya di bawah Lilik ia berani berbuat nekat. Sang atasan dihabisi karena Hance tak terima di mutasi ke daerah lain.
Perlawanan atau apalah namanya, tak mengenal batasan kelamin, usia, dan pangkat. Namun tampaknya analogi itu tak berlaku untuk urusan perkelahian antara suami dan istri yang dibingkai dalam sebuah potret rumah tangga. Tengoklah peristiwa ini. Kira-kira waktu itu saya masih duduk di bangku SMU. Sebuah keluarga tetangga depan rumah terlibat perseteruan sengit. Sang suami kalap. Amarah sudah mencapai ubun-ubun karena si istri dianggap sudah tidak amanah dengan tujuan awal perkawinan. Setelah terlibat pertengkaran seru, suami memukuli istrinya hingga babak belur. Entah mengapa si istri yang notabene sudah beranak tiga itu tak mampu berbuat apa-apa—buat apa punya badan tegap dan sehat jika tidak bisa menghadang sebuah tindak kejahatan, pikir saya saat itu. Tidak sigap seperti cerita saya pertama tentang seorang gadis yang berani melawan perampok. Hanya menangis dan berteriak tak karuan. Sebuah usaha yang sangat sia-sia karena ternyata tangisan itu tak menghentikan laju hujaman si suami. Setelah melewati beberapa ronde pertengkaran, suami tadi ke rumah saya untuk menceritakan peristiwa itu. Seingat saya bapak—yang saat itu juga geram dengan perkelahian 5 ronde tersebut–merekomendasikan keduanya ke kantor polisi karena sudah termasuk tindak kriminal.
Continue Reading »