**postingan ini tidak ada hubungannya dengan feminisme/emansipasi wanita**

Sering kita mendengar seorang wanita berani bertaruh nyawa demi mempertahankan tas yang terancam dijarah pencopet dengan segala daya upaya. Hingga –pernah pada suatu kasus– tangan si korban ini terkena sabetan gobang saat berkelahi melawan penjahat. Si wanita yang notabene tidak mempunyai keahlian silat, karate, kungfu, taekwondo atau olahraga beladiri lainnya berani melawan kejahatan. Terbuktilah bahwa naluri mempertahankan dan membela diri tidak ada sangkut pautnya dengan jenis kelamin. Siapapun orangnya jika terancam nyawa pasti berusaha melawan.

Urusan membela diri juga tidak ada sangkut pautnya dengan umur atau jabatan. Tengok saja kasus penembakan Wakapolwiltabes Semarang Lilik Purwanto. Terlepas apakah motif Hance Chris menghabisi sang atasan benar atau salah, toh kendati ia hanya seorang bawahan dan notabene umurnya di bawah Lilik ia berani berbuat nekat. Sang atasan dihabisi karena Hance tak terima di mutasi ke daerah lain.

Perlawanan atau apalah namanya, tak mengenal batasan kelamin, usia, dan pangkat. Namun tampaknya analogi itu tak berlaku untuk urusan perkelahian antara suami dan istri yang dibingkai dalam sebuah potret rumah tangga. Tengoklah peristiwa ini. Kira-kira waktu itu saya masih duduk di bangku SMU. Sebuah keluarga tetangga depan rumah terlibat perseteruan sengit. Sang suami kalap. Amarah sudah mencapai ubun-ubun karena si istri dianggap sudah tidak amanah dengan tujuan awal perkawinan. Setelah terlibat pertengkaran seru, suami memukuli istrinya hingga babak belur. Entah mengapa si istri yang notabene sudah beranak tiga itu tak mampu berbuat apa-apa—buat apa punya badan tegap dan sehat jika tidak bisa menghadang sebuah tindak kejahatan, pikir saya saat itu. Tidak sigap seperti cerita saya pertama tentang seorang gadis yang berani melawan perampok. Hanya menangis dan berteriak tak karuan. Sebuah usaha yang sangat sia-sia karena ternyata tangisan itu tak menghentikan laju hujaman si suami. Setelah melewati beberapa ronde pertengkaran, suami tadi ke rumah saya untuk menceritakan peristiwa itu. Seingat saya bapak—yang saat itu juga geram dengan perkelahian 5 ronde tersebut–merekomendasikan keduanya ke kantor polisi karena sudah termasuk tindak kriminal.

Tapi bagi saya bukan itu poin pentingnya. Naluri membela, mempertahankan diri seharusnya tumbuh kala diri kita terancam. Kita dikaruniai badan tegap, sehat, tenaga yang berlipat–apalagi kalau kelar sarapan– bukan hanya untuk bekerja, tetapi juga untuk melawan dalam sebuah perkelahian. Apalagi perkelahian seperti ini jika dipandang dari sudut agama dan etika adalah sebuah tindakan yang salah. Suami memang boleh memukul istrinya namun pukulan yang pelan dan tidak mencederai. Proses inipun seharusnya sesudah melewati beberapa tahapan. Namun kalau sudah memukul dengan membabi buta, sehingga mencederai organ tubuh, ini sebuah tindakan yang tidak bisa dimaklumi.

Coba bayangkan. Kala sang suami menonjok pipi, artinya badan condong ke depan. Gerakan yang sangat mungkin dilakukan korban adalah melakukan tendangan lurus ke perut. Kala sang suami memelintir tangan, posisi badan pasti merapat ke korban. Gerakan perlawanan adalah memutar kaki ke samping, tekuk sedikit, dan maju ke bagian bawah perut, sedikit sodokan saja pasti akan sangat sakit. Jika si suami membenturkan kepala korban ke dinding, posisinya lantas menjadi sangat rapat dan berdiri tegak di depan korban. Perlawanan yang mungkin adalah menekuk kaki dan menaikkan dengan gerakan cepat menusuk bawah selakangan. Jika tangan si suami mencekik leher, mudah saja, ambil pergelangangan, lembut menghentak ke arah berlawanan, jika sudah menjauh, ambil tengkuk belakang dan pukul. Seketika dia pasti diambang batas kesadaran alias sempoyongan. Hei, ini pekerjaan mudah. Kenapa harus menangis meraung-meraung. Anggap saja pertandingan atau kompetisi taekwondo, jujitsu, karate atau silat. Lagi pula usaha ini jauh lebih aman karena tidak mematikan. Tekniknya juga mudah dipelajari sehingga tidak butuh kemampuan khusus yang mengharuskan latihan rutin. Bandingkan dengan perlawanan yang berbentuk meminumi suami dengan potas, atau memotong alat kelaminnya, justru tidak fair kan? karena menggiring diri sendiri ke liang penjara.

Kemarin sore, di TV terlihat seorang ibu yang mukanya lebam dan penuh luka. Ia mengaku dipukuli suami. Woi kemanakah larinya naluri mempertahankan diri ?. Ini sebuah pertandingan bung. Adu kecerdikan. Jangan hanya mau jadi obyek tanpa ada usaha membela diri?, memalukan…..