Fighting Spirit
Posted by senja on 16 Mar 2007 at 01:07 pm | Tagged as: my opinion
**postingan ini tidak ada hubungannya dengan feminisme/emansipasi wanita**
Sering kita mendengar seorang wanita berani bertaruh nyawa demi mempertahankan tas yang terancam dijarah pencopet dengan segala daya upaya. Hingga –pernah pada suatu kasus– tangan si korban ini terkena sabetan gobang saat berkelahi melawan penjahat. Si wanita yang notabene tidak mempunyai keahlian silat, karate, kungfu, taekwondo atau olahraga beladiri lainnya berani melawan kejahatan. Terbuktilah bahwa naluri mempertahankan dan membela diri tidak ada sangkut pautnya dengan jenis kelamin. Siapapun orangnya jika terancam nyawa pasti berusaha melawan.
Urusan membela diri juga tidak ada sangkut pautnya dengan umur atau jabatan. Tengok saja kasus penembakan Wakapolwiltabes Semarang Lilik Purwanto. Terlepas apakah motif Hance Chris menghabisi sang atasan benar atau salah, toh kendati ia hanya seorang bawahan dan notabene umurnya di bawah Lilik ia berani berbuat nekat. Sang atasan dihabisi karena Hance tak terima di mutasi ke daerah lain.
Perlawanan atau apalah namanya, tak mengenal batasan kelamin, usia, dan pangkat. Namun tampaknya analogi itu tak berlaku untuk urusan perkelahian antara suami dan istri yang dibingkai dalam sebuah potret rumah tangga. Tengoklah peristiwa ini. Kira-kira waktu itu saya masih duduk di bangku SMU. Sebuah keluarga tetangga depan rumah terlibat perseteruan sengit. Sang suami kalap. Amarah sudah mencapai ubun-ubun karena si istri dianggap sudah tidak amanah dengan tujuan awal perkawinan. Setelah terlibat pertengkaran seru, suami memukuli istrinya hingga babak belur. Entah mengapa si istri yang notabene sudah beranak tiga itu tak mampu berbuat apa-apa—buat apa punya badan tegap dan sehat jika tidak bisa menghadang sebuah tindak kejahatan, pikir saya saat itu. Tidak sigap seperti cerita saya pertama tentang seorang gadis yang berani melawan perampok. Hanya menangis dan berteriak tak karuan. Sebuah usaha yang sangat sia-sia karena ternyata tangisan itu tak menghentikan laju hujaman si suami. Setelah melewati beberapa ronde pertengkaran, suami tadi ke rumah saya untuk menceritakan peristiwa itu. Seingat saya bapak—yang saat itu juga geram dengan perkelahian 5 ronde tersebut–merekomendasikan keduanya ke kantor polisi karena sudah termasuk tindak kriminal.
Tapi bagi saya bukan itu poin pentingnya. Naluri membela, mempertahankan diri seharusnya tumbuh kala diri kita terancam. Kita dikaruniai badan tegap, sehat, tenaga yang berlipat–apalagi kalau kelar sarapan– bukan hanya untuk bekerja, tetapi juga untuk melawan dalam sebuah perkelahian. Apalagi perkelahian seperti ini jika dipandang dari sudut agama dan etika adalah sebuah tindakan yang salah. Suami memang boleh memukul istrinya namun pukulan yang pelan dan tidak mencederai. Proses inipun seharusnya sesudah melewati beberapa tahapan. Namun kalau sudah memukul dengan membabi buta, sehingga mencederai organ tubuh, ini sebuah tindakan yang tidak bisa dimaklumi.
Coba bayangkan. Kala sang suami menonjok pipi, artinya badan condong ke depan. Gerakan yang sangat mungkin dilakukan korban adalah melakukan tendangan lurus ke perut. Kala sang suami memelintir tangan, posisi badan pasti merapat ke korban. Gerakan perlawanan adalah memutar kaki ke samping, tekuk sedikit, dan maju ke bagian bawah perut, sedikit sodokan saja pasti akan sangat sakit. Jika si suami membenturkan kepala korban ke dinding, posisinya lantas menjadi sangat rapat dan berdiri tegak di depan korban. Perlawanan yang mungkin adalah menekuk kaki dan menaikkan dengan gerakan cepat menusuk bawah selakangan. Jika tangan si suami mencekik leher, mudah saja, ambil pergelangangan, lembut menghentak ke arah berlawanan, jika sudah menjauh, ambil tengkuk belakang dan pukul. Seketika dia pasti diambang batas kesadaran alias sempoyongan. Hei, ini pekerjaan mudah. Kenapa harus menangis meraung-meraung. Anggap saja pertandingan atau kompetisi taekwondo, jujitsu, karate atau silat. Lagi pula usaha ini jauh lebih aman karena tidak mematikan. Tekniknya juga mudah dipelajari sehingga tidak butuh kemampuan khusus yang mengharuskan latihan rutin. Bandingkan dengan perlawanan yang berbentuk meminumi suami dengan potas, atau memotong alat kelaminnya, justru tidak fair kan? karena menggiring diri sendiri ke liang penjara.
Kemarin sore, di TV terlihat seorang ibu yang mukanya lebam dan penuh luka. Ia mengaku dipukuli suami. Woi kemanakah larinya naluri mempertahankan diri ?. Ini sebuah pertandingan bung. Adu kecerdikan. Jangan hanya mau jadi obyek tanpa ada usaha membela diri?, memalukan…..








saya pertamaa… dapet hadiah gak niy….
Kalo udah ke urusan (kekerasan) fisik, mohon maap secara umum, pria banyak menangnya daripada wanita
terkadang bukan hanya siksaan fisik aja yg dialami istri nja, yang lebih menyakitkan malah siksaan batin….
harusnya lebih ada sosialisasi tentang UU KDRT…
Hidup cewek tangguh!!!
Pria yang mampu melakukan kekerasan pada wanita dan anak-anak konon adalah pria yang tidak dewasa. Mungkin harus dikembaliin lagi ke TK…
self defence, jadi inget dulu pas masa2 latihan..
btw, bukannya ga mau melawan, mungkin reflek untuk melawan itu sendiri ciut oleh perasaan yang sudah merasa kalah dan pasrah. mungkin seperti itu sih analisa saya.
kalo saya punya istri nanti, saya pasti akan memperlakukannya dengan sangat lembut & penuh cinta. karena wanita itu adalah nafas kehidupan bagi kaum pria. tanpa wanita, pria bukan siapa2. ehmm… lay out yg ini manteb bgt nja. i like it sooo…
setuju ma mister…
Klo yg ga berani melawan biasanya ada proses “cuci otak” sebelumnya dr si laki2 jahanam keparat itu, perempuan emang harus kuat.. sayang perempuan di tanah air harus berjuang sendiri mempertahankan kehidupannya…kenapa negara ga melindungi dg hukum yg jelas…sayangilah wanita please…:(
Zawa: Traktir..traktir…hehehehe
Hedi: Wah mas hedi rada salah deh. cewek justru terbukti secara fisik kuat. mereka sanggup menahan sakit datang bulan yang rutin dirasakan. cewek juga sanggup melahirkan lebih dari sekali sepanjang hidupnya walo proses itu luar biasa sakitnya…
Tia&Evy: Saya justru nggak mau masalah ini disangkut pautkan dengan hukum. saya sudah nggak tega membebani penegak hukum kita dengan pekerjaan baru, sedangkan selama ini mereka terbukti lumpuh dalam melakukan penegakan hukum di segala lini.
Bunda: Iya bun, kali harus ada TK khusus bapak-bapak pengecut. Tapi cewek-cewek penakut juga mesti dikasih pelajaran biar jadi gesit dan kuat..hehehehe
Nico: hahahaha, Ciut nyali duluan ya…bisa juga sih
Mister: Wuahhh, mister promosi neeeh…
mental juga berpengaruh lho…
kdg2 gara2 udah kalah mental duluan. teknik berkelahi sehebat apapun yang kita punya, lenyap dari ingatan dalam sekejap.
itulah pentingnya perang urat syaraf
bener..keadaan mental sangat berpengaruh loh Mbak….dan lagi emang entah kenapa istri tu sepertinya susah kalo ngelawan suami. gak tau ya, kecenderungannya seperti itu loh…
Kekerasan? Jangan dilawan ah, tapi dihapus. STOP BUDAYA KEKERASAN!
sudah saatnya ibu2 PKK punya ekstra kulikuler karate..!!!!
dari cara kmu mendeskripsikan cara2 perlindungan diri dan counter attack, gw curiga kmu punya kursus silat yak??
minim sering baca kho ping hoo ya Nja?
selama 3 tahun hidup seatap dengan senja, aku baru tau sekarang nek kowe punya ilmu beladiri. ckckckck…jagoo….tapi bukan jurus kaki seribu kan?^^
Joe: Wah betul ini kayak tinju aja yah pke psywar
Muthe: Emangnya masih bisa dibilang suami klo dah berani hajar ampe babak belur
KangAdhi: Masak pas ditonjok cuma bilang stop kekerasan. yang tonjok balik dulu baru kampanye…wakakaka
Escoret: Benerrrrr
Indri: Salah semua….hahahahaha
Tita: Emang belum pernah ku praktekkan selama di kost2an..wakakaka. Boong dink.