Tuesday, April 10th, 2007

Daily Archive

Ada Apa Dengan IPDN?

Posted by senja on 10 Apr 2007 | Tagged as: my opinion, media

Ada banyak pertanyaan dibalik kematian praja IPDN Clift Muntu. Salah satu pertanyaan pentingnya adalah mengapa sekolah yang bertugas mencetak aparatur negara tersebut menerapkan sistem pendidikan preman seperti itu. Apalagi, berbagai pukulan ngawur yang disinyalir merupakan bagian dari santapan sehari-hari seluruh praja tersebut sangat tidak mendidik, karena dalam olahraga keras full body contact-pun menendang bagian dada tidak diperbolehkan. Alih-alih bakal merubuhkan lawan, si pemukul malah bakal dikurangi nilainya.

Kemarin saya berkesempatan bertemu dengan alumni IPDN angkatan sekian bernama mister X. Dalam obrolan ringan ini sedikit terkuak mengapa kekerasan menjadi barang lazim dalam institut yang berkampus di Jatinagor tersebut. Situasi awal pendirian IPDN (nama sekolah ini berganti-ganti, kami sepakat menyebutnya IPDN, red.) sebenarnya tidak berjalan seseram sekarang ini. Pukulan dan beberapa latihan fisik memang ada karena hal itu dianggap sebagai salah satu sarana untuk menegakkan kedisiplinan praja. Saat itu muridnya hanya berkisar—sebut saja– 500 praja. Dengan fasilitas yang mencukupi untuk menampung jumlah tersebut kehidupan para mahasiswa berjalan kondusif.

Nah, saat era 90-an, semua pucuk pimpinan pemerintahan di daerah maupun pusat banyak dipegang militer, khususnya AD, misal walikota, bupati, dan gubernur. Hal jamak ini lantas memicu pemikiran—blunder menurut saya– mendagri untuk meningkatkan kompetensi warga sipil yang menjadi praja IPDN agar kelak bisa bersaing dengan unsur militer yang merajai berbagai kedudukan di pemerintahan. Pemikiran ini lantas diterjemahkan dalam sebuah praktik semi militer dalam pendidikan praja di IPDN. Akhirnya IPDN pun tak ubahnya sekolah militer, bahkan hingga kini mereka kerap melakukan latihan bersama dengan TNI AD/dan semacamnya. Sistem ini dipandang akan melahirkan seorang praja yang loyal kepada negara. Kesalahan ini diperparah lagi kala, pengasuh sebagai lini terbawah yang langsung berhubungan dengan praja tidak dipegang oleh orang yang mumpuni dalam bidang pendidikan. Kata sumber saya tadi, terkadang orang yang biasnya bertugas di bidang administrasi atau perlengkapan pun bisa menjadi pengasuh. Continue Reading »