Sunday, April 22nd, 2007

Daily Archive

Berbeda, Boleh Kan? :)

Posted by senja on 22 Apr 2007 | Tagged as: etc

IPDN (lagi-lagi) masih menjadi sorotan banyak pihak. Beragam solusi meluncur dari masyarakat. Tak terkecuali blogger yang menggalang petisi pembubaran IPDN. Tanpa mengurangi rasa hormat saya kepada para blogger yang sedang melakukan gerakan bawah tanah tersebut, namun saya—jujur– kurang setuju dengan solusi pembubaran (bukan dengan petisinya).

Pembubaran bagi saya—maap– adalah jalan keluar yang lari dari masalah. IPDN hanya label, hanya merek, sedangkan yang bobrok adalah sistemnya. Sistem ini bisa saja bermutasi ke dalam berbagai bentuk kehidupan yang lain. Tentu saja saya bukannya tidak sedih dan prihatin dengan korban-korban akibat kekerasan di IPDN. Kendati, belum menjadi ibu, toh saya sangat bisa merasakan bagaimana perihnya ditinggalkan seorang anak dengan jalan yang kurang wajar.

IPDN itu kan tak lebih dari selimut, sedangkan yang harusnya dibenahi adalah apa di balik selimut itu alias sistem. Sistem belajar yang tidak egaliter, kurikulum yang mengekang kebebasan berpendapat, budaya senioritas, label atau seragam yang mencerminkan rasa “saya lain dari pada anda”, proses penerimaan mahasiswa yang tidak transparan, pola pengasuhan yang harus dihapus, dll. Memang, ini semua butuh kerja keras, butuh pemikiran yang menyeluruh, butuh kemauan.

Melihat kondisi IPDN, pembubaran bukan lantas menjadi solusi yang bijak. Analoginya begini, Munir meninggal di atas pesawat Garuda, bukan berarti maskapai Garuda yang dibubarkan namun harus dicari siapa yang berada di balik skenario ini semua. Sebuah rumah di penuhi tikus, jalan keluarnya tentu saja tidak dengan merobohkan rumah tersebut, namun mengusir tikus dari sarangnya dengan berbagai cara. Atau, carut marutnya penataan ibadah haji oleh Depag, jalan keluarnya tentu tidak dengan peniadakan ibadah haji atau membubarkan Depag, namun harus dirancang sistem yang efisien dan profesional untuk pelaksanaan ibadah haji (kendati ada beberapa peristiwa yang tentu saja tidak pas di analogikan seperti kasus di atas). Continue Reading »