Berbeda, Boleh Kan? :)
Posted by senja on 22 Apr 2007 at 07:13 am | Tagged as: etc
IPDN (lagi-lagi) masih menjadi sorotan banyak pihak. Beragam solusi meluncur dari masyarakat. Tak terkecuali blogger yang menggalang petisi pembubaran IPDN. Tanpa mengurangi rasa hormat saya kepada para blogger yang sedang melakukan gerakan bawah tanah tersebut, namun saya—jujur– kurang setuju dengan solusi pembubaran (bukan dengan petisinya).
Pembubaran bagi saya—maap– adalah jalan keluar yang lari dari masalah. IPDN hanya label, hanya merek, sedangkan yang bobrok adalah sistemnya. Sistem ini bisa saja bermutasi ke dalam berbagai bentuk kehidupan yang lain. Tentu saja saya bukannya tidak sedih dan prihatin dengan korban-korban akibat kekerasan di IPDN. Kendati, belum menjadi ibu, toh saya sangat bisa merasakan bagaimana perihnya ditinggalkan seorang anak dengan jalan yang kurang wajar.
IPDN itu kan tak lebih dari selimut, sedangkan yang harusnya dibenahi adalah apa di balik selimut itu alias sistem. Sistem belajar yang tidak egaliter, kurikulum yang mengekang kebebasan berpendapat, budaya senioritas, label atau seragam yang mencerminkan rasa “saya lain dari pada andaâ€, proses penerimaan mahasiswa yang tidak transparan, pola pengasuhan yang harus dihapus, dll. Memang, ini semua butuh kerja keras, butuh pemikiran yang menyeluruh, butuh kemauan.
Melihat kondisi IPDN, pembubaran bukan lantas menjadi solusi yang bijak. Analoginya begini, Munir meninggal di atas pesawat Garuda, bukan berarti maskapai Garuda yang dibubarkan namun harus dicari siapa yang berada di balik skenario ini semua. Sebuah rumah di penuhi tikus, jalan keluarnya tentu saja tidak dengan merobohkan rumah tersebut, namun mengusir tikus dari sarangnya dengan berbagai cara. Atau, carut marutnya penataan ibadah haji oleh Depag, jalan keluarnya tentu tidak dengan peniadakan ibadah haji atau membubarkan Depag, namun harus dirancang sistem yang efisien dan profesional untuk pelaksanaan ibadah haji (kendati ada beberapa peristiwa yang tentu saja tidak pas di analogikan seperti kasus di atas).
Tidak ada yang bisa menjamin, apakah dengan pembubaran IPDN lantas kekerasan menjadi surut di negeri ini. Kegiatan ospek atau perploncoan di sekolah-sekolah saat ajaran baru bukankah itu juga bentuk IPDN yang sederhana/kecil. Sistem-nyalah yang harus direnovasi dan di koreksi, budaya senior-junior inilah yang seharusnya cepat-cepat di luruskan kembali. Buka ruang diskusi yang selebar-lebarnya. Namun pembubaran kan bisa memberikan efek jera? Oke efek jera memang penting, namun pemberantasan sistem kekerasan dengan disertai langkah hukum bukankah juga berefek sama?
Lebih dari itu semua, saya sangat salut dengan gerakan penggalangan petisi pembubaran IPDN oleh blogger. Bagi saya ini adalah sebuah fenomena komunikasi yang luar biasa. Sekian banyak manusia yang mungkin tidak kenal dan bahkan tidak pernah ketemu namun bisa menyatu karena disamakan oleh satu pemikiran yang sama. Gerakan yang bisa jadi bakal membuat pemerintah sadar bahwa kekerasan memang harus cepat-cepat diberantas. Kendati saya tidak tertarik untuk ikut tergabung dengan petisi tersebut namun, saya benar-benar bangga dengan gerakan sebagian teman-teman saya itu. Sebuah pemikiran positif yang disumbangkan oleh anak bangsa kepada negerinya. Gerakan ini tentu saja adalah sebuah tanda cinta blogger yang notabene adalah anak Indonesia. Selamat berjuang!
Tentang perbedaan pendapat ini, ah tentu saja bukan lantas menjadi masalah besar. Perbedaan bukankah hal lazim yang bisa terjadi dimana-mana. Anda pun, yang membaca blog ini bebas untuk tidak setuju dengan pendapat saya.








Iya perbedaan itu biasa kok senja, ga ada masalah sama sekali semua punya alasan dan sudut pandang masing2, btw..btw… klo gadi bubarin apakah menjamin bakal ga ada lagi praja meninggal dan bakal ga ada lagi kekerasan ya? Gimana kira2 membenahi system di balik selimut itu?
aku setuju. sistemnya emang ancur. dan setauku, pernah si sistem ini diganti, mengadopsi dari IIP. bagus awalnya, tapi gak lama mereka udah gebuk-gebukan lagi. dan jangan lupa, merombak keseluruhan sistem kemudia menggantinya dengan yg sama sekali baru bukan hal yg gampang. dan gak murah. dan, sekali lagi, belom tentu berhasil juga. jadi gmn?
kalo urusan haji, pengin ndukung kalo depag dibubarin saja :D. untuk ipdn saya setuju bahwa pembubaran hanya membunuh simptom, gejala, bukan akar penyakitnya.
Kalo cuma karena ada kekerasan lalu harus membubarkan IPDN, aku ga setuju. Tapi kalo alasannya, negara tak perlu punya sekolah (khusus), aku ikut tanda tangan petisi.
Negara ga perlu bikin lembaga pendidikan khusus kaya gitu. Kan udah ada sekolah negeri yang justru kurang perhatian.
so…bagaimana solusinya? kalau misal membubarkan IPDN hanyalah lari dr masalah…trus sapa yg salah…dan bagaimana cara membenahi sistem buruk yg sudah mengakar kuat di sana?
peer untuk pemerintah..dan kita
kalo buat aku sih IPDN udah kyk lingkaran setan gitu..doktrin2 mengerikan yang diterapkan para senior ke junior pasti akan berkembang terus selatelah junior ini jadi senior dan menerapkan doktrin yang sama ke adek2 kelasnya
ini sih udah parah!
pimpinan yang di atas kurang kontrol dan efeknya udah kemana mana
nah gw paling setuju menganalogikan IPDN ama selimut ;))
sependapat dengan mu nja, ga perlu menghancurkan rumahnya kalo untuk mengusir tikus. tinggal pasang fotonya siapa gitu yang menakutkan, biar tikusnya kabur.. he..he nyang ini becanda.
sebuah sistem yang telah berakar dan berurat sejak lama, membutuhkan tenaga yang besar untuk merubahnya. dan pastinya, adanya keseriusan dari dalam dan luar untuk mengubahnya.
sekali lagi kalo saya PRESIDEN-nya….!!!
ga ambil pusing dgn hal ini…BUBARKAN..!!!
dulu STPDN..di ubah jd IPDN….sistem juga ga berubah..???
simpel aja…klo ada penanam modal pembuat tempe atau tahu,…bikin aja pabrik di STPDN…dan kampus itu di runtuhkan….
bikin aja pabrik tempe,tahu atau pabrik kecap……
itu akan lbh berguna….
Kurikukum harus diganti. itu mutlak. kurikulum menurutku adalah sumber dari segala masalah. lantas samakan IPDN dengan kampus2 pada umumnya. tidak perlu ada sistem pengasuhan. kurikulum ini nantinya yang bakal membuka ruang diskusi dsb dan nilai2 demokrasi lainnya. benar, IPDN memang pernah mengadopsi sistem IIP (setelah kematian praja Wahyu Hidayat). bukan sistem tepatnya, mereka menumpang kuliah di IIP. namun ini hanya kebijakan politik setengah hati. karena tidak sampe setaun, mereka kembali ke “selera asal”. saat itu juga ada rencana untuk desentralisasi IPDN di bbrp daerah namun urung dilaksanakan seiring dengan pergantian pemerintahan. nah, aku rasa, pemerintah harus di push untuk lebih banyak berpikir dan tidak hanya mengandalkan jalan keluar instan semata.
Institut Penganiayaan Dalam Negeri..
pantesan aja namanya serem gitu…
wahh.. tulisan mu semakin dahsyat saja nja. manteb! tp kyknya saya tidak mendukung kalo dibubarkan… kita lihat hasil evaluasi 1 atau 2 tahun saja dulu. kalo masih mengecewakan, BAKAR! eh BUBARKAN!
btw, shoutbox yg kmren ga jd dipake ya??
setuju ma mbak..
kalo indonesia bobrok, no 1 korupsinya, sering terjadi ‘perang’ sesama sodara sendiri, banyak copet, pungli, kriminal, banyak teroris, bla..bla..bla..
apa harus dibubarin indonesia nya??
nggak kan??
Blue: Yeee lagi ngimpi diceritain. btw, kemane aje g pernah OL. Oya, teman kita berkurang satu lagi lhooooo. Info lebih lengkap hubungi daku!
Mister: Dasyat? g ah, biasa aja. eh iya SB-nya dengan amat sangat terpaksa kututup, soalnya mulai dikunjungi tamu2 tak diundang…hehehe. btw, kemana aja sih??????????
DausohDaus : heheheh, setuju mas. Eh, rumahnya masih tutupan ya? kemana?