Thursday, May 3rd, 2007
Daily Archive
Daily Archive
Posted by senja on 03 May 2007 | Tagged as: etc
Kesempatan hanya datang sekali dan—mungkin– tidak akan bisa diulang lagi. Saat kesempatan itu datang dan tidak bisa memanfaatkan maka dia akan pergi dan kita tak tahu kapan dia akan datang menghampiri lagi. Dan yang ada hanyalah penyesalan, tangis dan kehampaan.
Itu adalah gambaran betapa laga semifinal dan final sepakbola sangat krusial. Batas antara tangis dan bahagia sungguh tipis. Hari ini, kiper Liverpool, Reina, yang berhasil menghalau 2 tendangan penalti pemain-pemain Chelsea di semifinal Piala Champions sehingga membawa The Reds masuk final dipuji. Liverpool menjadi pahlawan Inggris. Gegap gempita suporter terus terdengar hingga ke jalan-jalan. Semua koran memberitakan. Meletakkan sebagai headline. Kondisi ini akan berbalik jika AC Milan bisa mempencundangi Liverpool. Kemenangan dramatis di semifinal bakal tidak ada artinya. Keperkasaan Reina bukan lagi berarti. Perjuangan tim dari babak awal dan menyuguhkan kemenangan-kemenangan tidak lagi istimewa. Semua kebahagiaan lebur dalam semalam kala kekalahan menjadi pilihan yang tak bisa ditolak.
Dulu, setahun yang lalu, peristiwa yang hampir sama dialami PSIS. Tak pernah menang dengan Persekabpas di dua pertandingan reguler musim 2006, PSIS berhasil menjungkalkan the rising star ini di partai semifinal. Kemenangan melalui gol semata wayang ini disambut suka cita. Pertandingan ini bahkan disebut-sebut sebagai laga terbaik yang pernah dilakoni PSIS. Pressing ketat sepanjang pertandingan membuat 20 ribu penonton selalu dihampiri rasa khawatir. Bahkan kala waktu berderak semestinya, pendukung dan pemain PSIS berharap menit lebih cepat berlalu. Kaki sudah hampir kram. Tenaga sudah habis. Konsentrasi hampir buyar. Emosi muncrat sedikit demi sedikit. Dan kala wasit meniup peluit, kemenangan 1-0 disambut bagaikan juara akhir musim. Padahal partai final masih menunggu dua hari berikutnya. Namun, apa lagi yang harus dikhawatirkan, yang penting penantian panjang akan laga final akhirnya datang juga. Dan akhirnya, pertaruhan itu datang. Pemain antiklimaks. Semangat yang kemarin berkobar, seperti hilang diantara riuh rendah suporter. Kata hati ingin mengejar kemanapun si kulit bundar berlari, namun apa daya kaki tak sanggup menggapai. Dan Persik pun menari-nari diatas lapangan hijau. Continue Reading »