Image Hosted by ImageShack.us

Image Hosted by ImageShack.us

Image Hosted by ImageShack.us

Image Hosted by ImageShack.us

Image Hosted by ImageShack.us

Dua tahun berdomisili di Semarang belum sekalipun saya menginjakkan kaki ke situs sejarah Lawang Sewu, hingga kemarin bersamaan dengan even off print kantor akhirnya saya berkesempatan untuk menengoknya. Dari sekian banyak acara yang tersebar dari lantai 1-2, ada satu tempat yang dijubeli penonton yakni “Wisata Bawah Tanah”. Saya tertarik mencobanya. Sampe sana, saya lantas ditawari untuk segera memakai sepatu boot (hah, apa pula ini!). Sang guide bertanya, apakah saya mau menunggu antrian yang panjang atau sendirian. Saya jawab sendirian aja (plus dengan guide tentunya karena saya nggak ngerti jalannya) apalagi waktunya mepet. Lagian bukannya enak kalo tanpa rombongan biar jalan-jalannya puas.

Oke turing kecil-kecilan dimulai !!

Perjalanan berawal dengan menuruni beberapa anak tangga menuju lorong gelap. Gelap dan pengap. Kami hanya bermodalkan senter milik guide dan lampu hape milik saya. Kita menyusuri jalan yang ternyata lantainya penuh air hingga setinggi mata kaki (pantesan disuruh pake boot). Hal pertama yang saya tanyakan adalah dari mana datangnya air dan sepanjang apakah turing ini bakal dilalui. Air ternyata memang menjadi pemandangan lazim karena ruangan bawah tanah ini tidak bisa luput dari terjangan rob. Sepanjang –sekitar—500 meter kami berbincang sambil tak lupa mengedarkan cahaya ke segenap sisi untuk mengetahui lebih jelas ruangan ini. Belum sampai beberapa langkah, guide bilang bahwa disinilah lokasi syuting (acara komedi) dunia lain. Kala itu, tambahnya, ada beberapa penampakan yang konon adalah penunggu Lawang Sewu..hehehehe—emang gw pikirin.

Selanjutnya, saya makin kedalam, tata ruang cenderung monoton. Maklum ini memang bukan ruangan yang difungsikan untuk sebuah kegiatan namun hanya pondasi untuk menyangga bangunan diatasnya. Bisa dibayangkan pondasi ini begitu kuat dan kokoh. Bisa dilewati manusia dan saya tidak perlu merunduk. Beberapa sudutnya berbentuk rungan-ruangan kecil berisi pipa besar yang digunakan untuk mengalirkan air ke seluruh bangunan. Saya lantas berpikir, pondasi inilah yang mungkin lantas diterjemahkan ke dalam arsitektur modern berupa basement alias ruangan semi bawah tanah mutifungsi. Tak heran, Lawang Sewu sampai sekarang masih kokoh berdiri. Saya masih tidak percaya jika ruangan ini murni hanya pondasi. Apakah tidak mungkin jika ternyata digunakan sebagai penyimpanan senjata Belanda atau tempat persembunyian. Sang guide, menyahut bahwa mendiang Belanda memang tidak memfungsikan pondasi ini untuk tempat tertentu namun Jepang lantas mengubah beberapa sudutnya sebagai penjara. Lihatlah gambar bilik-bilik di kegelapan itu. Oleh penjajah negeri matahari, setiap bilik konon bisa berisi hingga 3 tahanan. Padahal lebarnya kurang dari setengah meter. Wuiiiiii, kejam nian.

Saya lantas menjadi akrab dengan kegelapan. Sebenarnya ada beberapa ventilasi. Namun jendela-jendela kecil itu ditutup agar tanah dari luar tak masuk dan lantas mengubur dalam ruangan–seperti yang terjadi di beberapa bagian pondasi lain.

Akhirnya tak terasa turing pun berakhir. Saya harus kembali menaiki anak tangga. Sebelumnya, kami berpapasan dengan rombongan anak-anak SD yang diantar beberapa guru untuk melihat-lihat ruangan gelap gulita ini. Sampai akhirnya, ada seorang ibu yang ngeri ketika melihat lorong yang berkelok minim cahaya. Namun, saya bilang ke ibu tadi, rugi kalau ia hanya berdiri di sini karena ada banyak hal yang bisa dipelajari termasuk filosofi tentang pondasi. Ibu itu mengangguk dan mengikuti beberapa muridnya yang sudah duluan masuk.

Nah, ternyata Lawang Sewu memang situs sejarah yang layak untuk ditengok. Ia merupakan bagian dari Semarang yang menarik, bahkan tanpa dibumbui dengan cerita mistik atau horor murahan sekalipun!!

Selanjutnya silahkan nikmati sepenggal foto-foto saya diatas…

Untuk sejarah Lawang Sewu sengaja tidak saya tulis karena sudah ada banyak situs yang menceritakan disini, disitu .