Episode Kick Andy semalam adalah tentang para pejuang veteran. Dibuka dengan dengan percakapan antara Andy dan Dedy “Nagabonar” Mizwar. Ya, film Nagabonar Jadi 2 memang sedikit banyak mengupas masalah kepahlawan. Nagabonar yang seorang pahlawan dan kegelisahannya akan jaman ini. Termasuk bagaimana caranya mengatasi “gap” gaya hidup plus pemikiran antara seorang ayah dan anak. Representasi jaman dulu dan sekarang.

Namun bukan itu yang bikin saya tertarik. Ada satu part yang bikin saya terheyak. Ucapan seorang veteran (-wati) tentang generasi masa kini yang cengengesan kala menyanyikan lagu Indonesia Raya. Saya lantas teringat. Dulu waktu wisuda di Universitas yang memang ada embel2 veterannya kami harus menyanyikan lagu kebangsaan. Entah mengapa saya jadi pengen ketawa. Keinget jaman dulu waktu masih SMU. Saya emang kurang ajar banget. Bukannya nyanyi, tapi ngintipin temen-temen dari jurusan lain. Ternyata mereka pada serius-serius.

Nah si veteran (-wati) ini memang sedang sangat gelisah. Ia kecewa mengapa tidak ada rasa hikmat sama sekali. Ia lantas memperagakan bagaimana menyanyikan lagu ini dengan penuh penghayatan. Saya rasa ini bukanlah kegelisahan tentang lagu Indonesia Raya semata. Bukan pula pada “berhala” yang lain seperti si gagah garuda pancasila, sang perlambang sakti merah putih, dll. Namun ini adalah kegelisahan tentang bangsa ini. Tentang injak-menginjak yang menjadi sangat lazim.

Saya sebagai koranholic, akhir-akhir ini selalu skip baca tentang berita bencana. Apalagi jika berita itu lanjutan dari berita awal. Bukan karena malas baca. Saya makin nggak tega baca. Peringatan 1 tahun lumpur Lapindo yang di salah satu koran nasional di buka dengan foto A genangan lumpur dari udara membuat saya miris. Jangan salahkan jika masyarakat di sana jadi galak. Hidup yang ditata bertahun-tahun hancur karena kesalahan yang dibikin oleh orang lain. Kasus hunter Pasuruan adalah gambar betapa nyawa menjadi sangat mudah hilang. Seorang korban meninggal saat ia memasak di dapur. Nah, jangan-jangan sekarang semua orang musti pakai rompi anti peluru, karena terbunuh menjadi sangat mudah. Peluru seperti punya mata menyasar orang-orang yang nggak mungkin protes karena kerabatnya meninggal. Kasus Meruya dan ratusan kasus lainnya membuat saya pedih…Kami ini bangsa yang selalu di hampiri bencana. Namun hal itu tidak membuat setiap orang jadi saling sayang. Yang kuat, yang punya kapital, kekuasaan justru menjadi sangat menakutkan bagi kami…..

…………………..
“Jenderaaaaaal …..” Aku berteriak keras menyaingi lalu lintas di sekelilingku. “Siapa yang kau hormati siang dan malam itu?” Aku melihat ke arah jalan raya. “Apa karena mereka yang lalu lalang di depanmu itu memakai roda empat, Jenderal? Bah, tidak semua dari mereka pantas kau hormati, Jenderal. Turunkan tanganmu!”
…………………
(Buku Nagabonar Jadi 2 (p.91), Akmal Nasery Basral)