July 2007
Monthly Archive
Monthly Archive
Posted by senja on 30 Jul 2007 | Tagged as: etc
Saya sedang nyeri, pilu, menangis sekaligus bangga dan haru. Negara yang porak poranda akibat perang buatan dan perang sodara itu mampu membawa pulang gelar Piala Asia 2007…entahlah saya tidak sanggup berkata-kata lagi. Akhir kata, mengutip perkataan sang Kapten, Younis Mahmoud. “Saya ingin Amerika pergi!”
Posted by senja on 28 Jul 2007 | Tagged as: etc
Awakku kesel kabeh, lungkrah rasane…..pengen turu neng omah, ora usah kerjo. Sedino wae cukup….
(Badanku capek semua, remuk rasanya….pengen tidur di rumah, nggak usah ngantor. Sehari aja cukup…)
Posted by senja on 26 Jul 2007 | Tagged as: media
Jalan-jalan ma mbak tia ke Kota Lama. Blusukan nyari objek-objek yang bisa di poto. Hasilnya, liat di flickr deh….
Posted by senja on 24 Jul 2007 | Tagged as: etc
“Inilah pertandingan paling seru dan ketat selama babak playoff yang digelar di Semarang. Kedua tim yang sama-sama bernafsu untuk lolos ke final four berhasil menyajikan permainan memukau. Apalagi agregat 1-1 membuat siapapun yang menang dalam pertandingan ini berhak mendapatkan tiket ke Malang. Kendati kedua tim terus saling mengejar angka dari kuarter pertama hingga terakhir namun puncak ketegangan memang terjadi di babak ke 4. Bhineka sebenarnya sudah sempat mengamankan kedudukan saat skor terpaut 12 angka dari IM. Sayangnya menjelang 41 detik terakhir Bhineka hanya mampu memimpin 1 poin dengan skor 65-64. Keadaaan semakin genting kala akurasi tembakan I Made “Lolik” Sudiatnyana dkk cukup buruk. Sebaliknya IM yang dijaga dengan defend ketat lawan mampu menyarangkan raihan 3 angka. Untungnya semangat pemain-pemain lain Bhineka seperti Anang Sulistyawan, Daniel Iskandar dan Rahmad Febri Utomo mampu menghasilkan angka di saat-saat kritis. Harapan IM untuk melaju ke final four sempat terbit kala di detik ke 35 mereka bisa menyamakan kedudukan atas Bhineka, 65-65 dan bahkan sempat memimpin satu poin. Kesempatan berikutnya, Bhineka mendapatkan peluang menambah poin melalui lemparan bebas. Sayangnya kesempatan ini tidak bisa diselesaikan dengan baik oleh Febri. Namun tampaknya dewi fortuna memang masih berpihak ke tim kebanggaan warga Solo tersebut. Menjelang 2 detik terakhir serangan balik IM gagal dan diganjar lemparan 2 angka Daniel yang mampu membawa Bhineka unggul sebelum akhirnya peluit wasit berbunyi. Di lain pihak, penonton yang memadati GOR Sahabat mempunyai andil yang besar terhadap kemenangan Bhineka karena selama kuarter ke-4 mereka tak henti-hentinya memberikan semangat kepada Lolik dkk”
Ternyata saya masih sangat-sangat-sangat, mencintai bola basket. Kendati tak lagi maen basket selama bertahun-tahun namun cinta ini tidak luntur. Tak luntur sedikitpun. Gemuruh penonton dan semangat pemain basket masih mampu membuat saya tak sungkan memberikan aplaus pada siapa saja yang berhasil membuat timnya unggul. Ya, mengejar ketinggalan dan unggul hingga 2 detik menjelang bubaran.GILA. I luv this game!!!!!!!!!!
Posted by senja on 20 Jul 2007 | Tagged as: my opinion
Musim ajaran baru telah tiba (dirasakan juga oleh Salma Kirana yang memulai SD-nya sejak Senin lalu). Ada banyak keceriaan. Namun juga tak sedikit kesedihan. Apalagi kalau bukan soal biaya sekolah yang melambung tinggi. Jika dulu sekolah berbiaya boros menempel pada label sekolah swasta, kini ternyata merek itu sudah tak pandang bulu lagi. Mau sekolah negeri, swasta, SD, SMP, SMA semuanya menguras kantong.
Tempo hari saya mendapat aduan, tingginya besaran SPI (Sumbangan Pengembangan Institusi) sebuah SMU negeri di Semarang yang mencapai Rp 4 juta. Besaran ditentukan, cara pembayarannya pun ditetapkan. Dengan aneka penalti dan tenggat. Teman kantor juga ada beberapa yang anaknya masuk SD tahun ini pun tak kalah pusing dengan deretan 6 digit pembayaran. Belum lagi proses-proses berbelit. Saya lantas mikir. Bagaimana dengan nasib anak-anak dari kalangan tidak mampu. Jangankan berpikir memilih sekolah favorit atau berkualitas, sekadar mimpi untuk sekolah saja sudah mulai di intervensi. Masuk sekolah biasa dengan murid yang lumayan banyak, berarti harus merogoh kocek ekstra. Belum lagi kalau masuk daftar cadangan karena ukuran tebal kantong yang berbeda. Ada juga sekolah yang murah, pasalnya yayasannya sebentar lagi ambruk dan kekurangan murid.
Sulit sekali sekolah sekarang ini. Sekolah hanya milik orang yang punya banyak duit. Bagi yang miskin ya harus minggir dan nggak punya akses dengan fasilitas pendidikan kelas satu. Padahal otak anak-anak itu mungkin juga tak kalah dengan mereka yang serba berkelimpahan. Nah, kalo pendidikan adalah salah satu pintu menuju kesetaraan hak sebagai warga negara baik di bidang politik maupun sosial maka apakah orang miskin adalah orang yang secara kodrati termarjinalkan karena tertutup akses pendidikannya? Saya pikir tidak. Dimana letak salahnya? Itulah yang sedang saya cari-cari sekarang.
Saya lantas berpikir banyaknya program pemerintah yang akhirnya hanya berhenti pada jargon semata. Misalnya pendidikan wajib 9 tahun. Masyarakat dan khususnya tenaga pendidikan berkali-kali ditekankan pada program penting itu. Namun pintu menuju pendidikan wajib 9 tahun tidak dibuka seluas-luasnya. Atau pemberantasan buta huruf. Hanya sampai pada gertakan permberantasan saja, namun akses untuk memberantas justru makin sempit dan sulit bagi kaum tak berakses. Padahal bukankah justru kasus-kasus putus sekolah dan buta huruf lebih sering menjadi teman setia barisan satu ini. Menggugat pemerintah sebenarnya juga bukan pekerjaan mulia. Karena menggugat tanpa solusi juga sama aja bohong. Menggugat dan hanya berpangku tangan juga tidak bijak. Terlebih meng-kritik keras tapi yang di kritik ternyata sehari-harinya malah pake headphone. Alias membebalkan dan menulikan diri.
Jadi apa dong yang bisa dilakuin? Jadi orang tua asuh mungkin jadi solusi paling sederhana yang bisa dilakukan oleh kaum berpunya. Tengok tetangga kanan kiri, mungkin ada yang kesulitan sekolah. Atau justru ada sodara dekat yang lagi kesulitan biaya belajar. Mungkin lebih ada gunanya daripada ngomel nggak jelas kayak saya sekarang ini. *paragraf terakhir sekaligus pengingat buat yang nulis supaya ingat pada sekitar dan nggak asik sendiri hidup di dunia yang serba indah ini*
.…kenyataannya, komersialisasi pendidikan sudah memangkas hak politik dan sipil mereka yang miskin. Pilihan politik maupun sipil, dengan begitu hanya terbuka bagi mereka yang berkecukupan. Karena itu, perluasan lingkup kebebasan tidak sekedar berkisar seputar kebebasan demokratis, melainkan juga syarat-syarat aksentuasinya seperti fasilitas ekonomi, kesempatan sosial dan perlindungan sosial.
Adian, Donny Gahral. 2006. Demokrasi Kami. Koekoesan. Depok
Posted by senja on 15 Jul 2007 | Tagged as: my opinion
Hari ini saya melupakan semua komentar, berita miring, ulasan pakar dan lain-lain. Apapun hasilnya, saya tetap bangga dengan perjuangan timnas Indonesia di Piala Asia, kendati semalam langsung lemas begitu tendangan injury time Saad Al Harthi menjebol gawang Jendry Pitoy……