Orang Miskin Dilarang Sekolah
Posted by senja on 20 Jul 2007 at 04:42 am | Tagged as: my opinion
Musim ajaran baru telah tiba (dirasakan juga oleh Salma Kirana yang memulai SD-nya sejak Senin lalu). Ada banyak keceriaan. Namun juga tak sedikit kesedihan. Apalagi kalau bukan soal biaya sekolah yang melambung tinggi. Jika dulu sekolah berbiaya boros menempel pada label sekolah swasta, kini ternyata merek itu sudah tak pandang bulu lagi. Mau sekolah negeri, swasta, SD, SMP, SMA semuanya menguras kantong.
Tempo hari saya mendapat aduan, tingginya besaran SPI (Sumbangan Pengembangan Institusi) sebuah SMU negeri di Semarang yang mencapai Rp 4 juta. Besaran ditentukan, cara pembayarannya pun ditetapkan. Dengan aneka penalti dan tenggat. Teman kantor juga ada beberapa yang anaknya masuk SD tahun ini pun tak kalah pusing dengan deretan 6 digit pembayaran. Belum lagi proses-proses berbelit. Saya lantas mikir. Bagaimana dengan nasib anak-anak dari kalangan tidak mampu. Jangankan berpikir memilih sekolah favorit atau berkualitas, sekadar mimpi untuk sekolah saja sudah mulai di intervensi. Masuk sekolah biasa dengan murid yang lumayan banyak, berarti harus merogoh kocek ekstra. Belum lagi kalau masuk daftar cadangan karena ukuran tebal kantong yang berbeda. Ada juga sekolah yang murah, pasalnya yayasannya sebentar lagi ambruk dan kekurangan murid.
Sulit sekali sekolah sekarang ini. Sekolah hanya milik orang yang punya banyak duit. Bagi yang miskin ya harus minggir dan nggak punya akses dengan fasilitas pendidikan kelas satu. Padahal otak anak-anak itu mungkin juga tak kalah dengan mereka yang serba berkelimpahan. Nah, kalo pendidikan adalah salah satu pintu menuju kesetaraan hak sebagai warga negara baik di bidang politik maupun sosial maka apakah orang miskin adalah orang yang secara kodrati termarjinalkan karena tertutup akses pendidikannya? Saya pikir tidak. Dimana letak salahnya? Itulah yang sedang saya cari-cari sekarang.
Saya lantas berpikir banyaknya program pemerintah yang akhirnya hanya berhenti pada jargon semata. Misalnya pendidikan wajib 9 tahun. Masyarakat dan khususnya tenaga pendidikan berkali-kali ditekankan pada program penting itu. Namun pintu menuju pendidikan wajib 9 tahun tidak dibuka seluas-luasnya. Atau pemberantasan buta huruf. Hanya sampai pada gertakan permberantasan saja, namun akses untuk memberantas justru makin sempit dan sulit bagi kaum tak berakses. Padahal bukankah justru kasus-kasus putus sekolah dan buta huruf lebih sering menjadi teman setia barisan satu ini. Menggugat pemerintah sebenarnya juga bukan pekerjaan mulia. Karena menggugat tanpa solusi juga sama aja bohong. Menggugat dan hanya berpangku tangan juga tidak bijak. Terlebih meng-kritik keras tapi yang di kritik ternyata sehari-harinya malah pake headphone. Alias membebalkan dan menulikan diri.
Jadi apa dong yang bisa dilakuin? Jadi orang tua asuh mungkin jadi solusi paling sederhana yang bisa dilakukan oleh kaum berpunya. Tengok tetangga kanan kiri, mungkin ada yang kesulitan sekolah. Atau justru ada sodara dekat yang lagi kesulitan biaya belajar. Mungkin lebih ada gunanya daripada ngomel nggak jelas kayak saya sekarang ini. *paragraf terakhir sekaligus pengingat buat yang nulis supaya ingat pada sekitar dan nggak asik sendiri hidup di dunia yang serba indah ini*
.…kenyataannya, komersialisasi pendidikan sudah memangkas hak politik dan sipil mereka yang miskin. Pilihan politik maupun sipil, dengan begitu hanya terbuka bagi mereka yang berkecukupan. Karena itu, perluasan lingkup kebebasan tidak sekedar berkisar seputar kebebasan demokratis, melainkan juga syarat-syarat aksentuasinya seperti fasilitas ekonomi, kesempatan sosial dan perlindungan sosial.
Adian, Donny Gahral. 2006. Demokrasi Kami. Koekoesan. Depok








duuuuh, gimana dooong ya…agar pendidikan itu merata bisa dinikmatin semua lapisan masyarakat…..pendidikan itu hukumnya wajib alias kudu, sebagai pintu gerbang mengentaskan kebodohan dan kemiskinan, meraij kesejahteraan dan kemakmuran
tapi….bukan hanya orang miskin nggak bisa sekolah..orang pendek juga dilarang sekolah koq…nggak percaya ? coba tanya persyaratan masuk SMK 1 cimahi bandung…atau baca postingan astrini tentang orang pendek dilarang sekolah….duuuuhhh
harusnya pendidikan dan kesehatan adalah tanggng jawab negara……
Setiap awal tahun ajaran baru .. semua orang yang mempunyai anak usia sekolah dibikin pusing. Yang berpunya aja pusing apalagi orang tidak berpunya, pusing-nya double. Barusan aku baca di koran, kalo anggaran 20% untuk pendidikan masih lama bisa terwujudkan. Wadoh .. berapa tahun kita akan tetap jadi bangsa yang tertinggal?
Nja, karena negoro ini koyok dodol penyok dan orang-orang di atas sana sibuk ngurus pemilu 09 dan gelut rebutan kekuasaan.. (makanya gue benci banget ma poliTIKUS)… jangan deh terlalu ngarepin mereka-mereka itu mau ngurusin kita.
Mendingan sekarang kita ngurus diri-sendiri aja kalo urusannya nyangkut pendidikan anak.
Kalo gak mampu nyekolahin mereka di tempat yang (dianggap-) bermutu, ya masukin ke sekolah biasa2 ajah, tapi terus di rumah para emak kayak gue dan calon emak kayak lu yang memperkaya wawasan anak.
Caranya? Dengan “masukin pendidikan” via bacaan bermutu, ngedongengin mereka, dan menghindarkan anak-anak mulia itu dari segala bentuk racun, terutama racun2 yang bertebaran di media massa, terutama lagi televisi (duuuuh, minta ampun deh anak sekarang… ngomongnya kayak artis sinetron semua–> kec. anak gue kali ye? :p)
Teruuuus, mendingan kamu sekarang nyari duit yg banyak, nabung –> jangan boros2, biar nanti bisa nyekolahke anak ke sekolah yang bagus (…mungkin adanya di Planet Mars).
Sabar, Nja…
pusing, mo sekolah ja mahal..gimana 20 taun kedepan ya?
pendidikan dan kesehatan bukankah sudah menjadi tanggungjawab negara??
negara sudah menyediakan aneka fasilitas dan membangun infrastruktur yang berhubungan dengan khalayak banyak.
namun, semuanya memang berbayar… anggaran pendidikan kita untuk tahun ini saja berkurang. tak sampai 20%.
saya berfikir, jika seluruh anggaran (sebanyak 20%) dialokasikan untuk pendidikan semua? lantas kesehatan dll tak kebagian dunk???
kita bukan negara kaya. tak seperti finlandia yang bisa memberikan jaminan pendidikan mulai SD sampai s3 gratis.
sangat bermimpi jika kita idamkan pendidikan gratis. mau pinter ya keluarin duit.
aku sepakat dengan EMAK RAHMA.
kalau kita tak mampu bayar sekolah favorit, kenapa tidak yang biasa saja?? toh keluarga memiliki waktu paling besar untuk mendidik anak.
konon, ibu menjadi guru paling baik dalam mendidik anak. mulai sekarang nja, ayo, belajar untuk mendidik anak-anak kita sebaik mungkin. kalau kita minta duit, baru sekolahin ke yang favorit..
sekolah hanya mendidik orang pintar.
padahal, harusnya yang dibutuhkan adalah kecerdasan
pintar bisa dinilai dari seberapa mampu kita menghafal lembar demi lembar buku diktat. acuannya nilai rapor.
sedangkan cerdas?? sekolah tidak mendidik orang cerdas. lingkungan yang mendidiknya. keluarga. kebiasaan membaca yang terus menerus dilakukan si bocah.
yang disayangkan sebenarnya adalah pola pikir masyrakat kita.
kita terlanjur memuja ijasah sebagai salah satu jalan untuk mempermudah cari kerja.
perusahaan menyukai lulusan dengan IPK 3. lagi-lagi nilai rapor. PINTAR.
kasir restoran aja syaratnya IPK minimal 3.
padahal, belum tentu orang pintar memiliki kecakapan dalam bekerja. belum tentu juga mereka mampu menguasai dunia kerja dengan cepat, hanya mengandalkan kepintarannya.
berapa banyak ilmuwan yang kita punya??
ilmuwan memang sangat diperlukan. tapi di Indonesia, tak banyak yang mau menekuni dunia satu ini.
lebih baik jadi PNS, Polisi, Tentara.
meski mereka harus maen sikut, maen sogok yang ironisnya, jumlahnya lebih dari 10X dari angka untuk masuk sebuah SMU negeri.
kamu mengerti kenapa, senja???
Aihh…. panjang kali komenku??? maapp senja aku penuhi blog kamu dengan tulisan tak bermutu.
sekedar info aja , SD Nasima Semarang, uang SPI nya 8 juta..wah mumet aku….besok taun depan pas Baby ke SD jadi berapa coba….kenapa yah…untuk bersekolah di sekolah yg bagus aja harus merogoh kocek yang bener2 dualem…sedih aku…sedih….
kasihan Endonesa
looh program pendidikan gratis 9 th ga jalan kayanya yah….koq sekolah harus bayar gitu
semoga kelak ada sekolah yg bener2 gratis yah…semoga negeri ini ngga lagi terpuruk
hah?!! ini sekolah apa rentenir?! eh..bukan rentenir sih, sesuatu deh. heran…geblek banget! pantesan negara ini gak maju2, pendidikannya macem gini sih. jadi inget mimpi saya yang dulu. bisa nggak ya kecapai…wah saya harus berusaha supaya bisa deh. kita bikin sekolah gratis!!!
Sori OOT:
kapan ke kota gue?
kangen niy…
Menyedihkan sekaligus tantangan bagi kami. Pendidikan kualitas memerlukan biaya tinggi dan mahal. Tetapi tidak harus dibebankan sepenuhnya kepada orang tua murid. Tetapi melalui sumber-sumber produktif berbagai usaha yang dikelola oleh manajemen sekolah/perguruan tinggi atau donasi penyisihan keuntungan pelaku bisnis.
Sekedar informasi kampus yang saya kelola sejak tahun 2001 sudah menyelenggarakan program beasiswa dan kuliah gratis bagi anak yatim/piatu atau tidak mampu. Tahun ini direncanakan dialokasikan 200 orang. “Kuliah dengan beasiswa tamat jadi wirausaha”.
Silakan yang berminat boleh mampir.
Ayo Indonesia bangkit-lah!
Saya termasuk yang amat prihatin dengan sekolah yang makin mahal. Sekolah hanya untuk orang kaya dan super kaya. Beberapa rektor berkilah, mereka kasih beasiswa untuk anak2 yang sangat pintar dari kalangan miskin. Selebihnya, tampaknya diasumsikan kaya dan mampu bayar amat mahal, misalnya 45 juta dengan spp 3,5 juta /semester. Wow!!
Masalahnya, sulit cari anak miskin yang amat pintar tadi, mungkin ada segelintir. Tapi yang ada kebayakan adalah anak yang tidak sangat pintar (tapi gak bodoh, mungkin biasalah, sampai di atas rata2 sedikit), dari kalangan yang tidak miskin, tapi juga gak kaya, dan gak sanggup bayar 45 juta uang masuk dan spp 3,5 juta tiap semester. Belum lagi biaya buku, biaya hidup, kost, dll. Yang gini banyak sekali, mau dikemanain mereka????
Kalo hari gini pemerintah masih target wajar 9 tahun, yang sudah dilakukan jaman orba, apa gak telat??? Apa sebagian besar anak indonesia yang notabene gak amat pintar dan gak miskin tapi juga gak kaya ini cuma ditargetkan sekolah sampe smu doang, setelah selesai cuma jadi buruh pabrik dan pelayan supermarket. Lalu yang ngisi jajaran sarjana masa depan bangsa kita cuma golongan anak2 jusuf kalla dan bakrie doang, plus orang2 keturunan cina yang kaya2 itu? Wah jadi juga kita singapore besar, ya. Orang pri cuma jadi pelayan dan kacung, sementara segelintir pri yang yang sukses bersama orang non pri atur negeri ini.