July 2007
Monthly Archive
Monthly Archive
Posted by senja on 11 Jul 2007 | Tagged as: etc
Semarang-Jogja
Minggu-Senin
Semarang-Jombor-Prambanan-Babarsari-Plaza Ambarukmo-Rawon Cak Sukar(depan Farmasi UGM)-GSP-Masjid UGM-Tamansari-Umbulharjo-Malioboro-Jombor-Semarang
Prambanan
-Hunting foto
-Prambanan masih dipagari, antisipasi pasca gempa setaun lalu, jadi nggak bisa masuk. Ada beberapa reruntuhan dan arca yang retak. Menyedihkan..
Plaza Ambarukmo
-Nonton “The Photograph” yang cuma diputer di 3 kota, Jakarta, Bandung, Jogja. Salah satu pilem Indonesia yang keren dengan setting kota lama Semarang. Menceritakan tentang kehidupan fotografer tua dan seorang PSK. Mereka tinggal satu atap, karena si fotografer memang menyewakan kontrakan. Halah…tonton aja sendiri deh. Pengambilan gambarnya sangat detail akan memanjakan mata anda. Dijamin seruuuuuu….
Rawon Cak Sukar
-Ah masih seperti yang dulu. Rawonnya teteup enak dan murah. Sambil menikmati hawa dingin Jogja dan pengamen yang satu dua lewat meramaikan suasana.
GSP
-Mo nongkrong tapi nggak bisa karena ada orang kawinan. Padahal biasanya, duduk-duduk depan GSP, sambil liat jalan raya depan bunderan UGM, sambil liat bintang dan bulan..
Masjid UGM
-Salah satu tempat favorit di Jogja soalnya banyak yang jual buku “rada aneh”. Sayang kesananya malem jadi nggak bisa ambil foto.
Tamansari
-Hunting foto
-hehehe, tempat mandi para bidadari. Mau lihat..
Maliobro
-Jalan-jalan melemaskan kaki. Rame bgt…maklum musim liburan. But i like it…
Jombor
-Waktunya buat balik ke Semarang
Semarang
-Waktunya buat kerja bukan sante2 atau belajar……
Saya juga bawa oleh-oleh buat temen2. Apa? silahkan liat di Flickr deh……
Posted by senja on 05 Jul 2007 | Tagged as: etc
*pa kabar teman-teman semua, lama tidak bersua. Lagi kena virus sibuk kerja dan sibuk maen nggak tentu arah, jadi jarang ngeblog. Pengen sekedar ngopi atau ngeteh-bagi yang nggak suka kopi– dengan temen-temen. Pengantar pembicaraan tentang sebuah bendera..
Pekan ini Indonesia kembali diguncang–sebenernya nggak guncang-guncang amat sih– dengan dua bendera non merah putih. Bendera OPM dan RMS. Bendera indah itu, konon bikin 2 kelompok–disebut pemerintah separatis– tersebut berhasil menarik dunia luar. Benerkah? saya nggak tau pasti sih. Yang justru mengherankan adalah peristiwa pasca pengibaran bendera yang semuanya disisipkan melalui sebuah tarian tersebut. Orang-orang justru sibuk tuding-tudingan siapa yang salah, siapa yang bertanggung jawab. Kendati memang tidak salah juga menyelidiki siapa sutradara di balik tarian politis ini, namun ada baiknya, menelisik lebih jauh esensi dua bendera tersebut.
Mereka hadir karena protes. Protes karena sebagai anak kandung, mereka diperlakukan seperti anak tiri. Kini, setelah berpuluh-puluh tahun ditindas, si anak tersebut ingin minggat saja, pergi menjadi orang bebas. Bebas se bebasnya. Biar apa yang ia punyai bisa diurus sendiri oleh si empunya. Sayangnya, sudah memperlakukan tidak adil dan setengah sayang, sang orang tua kandung ini enggan juga melepas anaknya itu. Kini setelah emosi sudah sampai ubun-ubun, anak-anak kandung yang diperlakukan layaknya anak tiri itu protes se protes protesnya. Sayangnya si ortu tak juga koreksi diri.
Saya sendiri ikut tersedu melihat tarian pemuda-pemudi yang membawa bendera OPM. Nyata betul kesedihannya. Ingin betul mereka pergi kendati sudah sepanjang hayat berada di bumi ini. Saya pikir sudah waktunya–kendati telat– pemimpin negeri ini bertanya dengan nurani. Enyahkan semua kepentingan mengeruk harta di sana. Berikan tempat yang sama seperti selayaknya….jangan sia-siakan. Saya tidak ingin kehilangan sodara lagi….