October 2007
Monthly Archive
Monthly Archive
Posted by senja on 27 Oct 2007 | Tagged as: my opinion
Bad news is good news (BN is GN) adalah jargon orang-orang media yang pernah sangat terkenal namun kemudian mulai rapuh beberapa tahun belakangan ini. BN is GN sering diartikan bahwa sebuah peristiwa yang buruk, menjijikkan, memilukan dan semacamnya adalah sasaran empuk pembuat berita untuk diwartakan ke khalayak ramai. Misalnya tentang kecelakaan yang memakan korban puluhan jiwa, kelaparan, pembunuhan, perampokan, bencana alam dll. Berita tentang hal itu, pasti akan lebih menarik atau layak jual jika dibandingkan dengan berita tentang murid yang juara karya ilmiah atau penemuan alat pendeteksi gempa bumi. Pembunuhan atau pemerkosaan pasti lebih hot dan “laku” ketimbang berita tentang kesuksesan atlet bulutangkis Indonesia di Piala Uber/Thomas.
Namun itu dulu. Kini banyak media (kecuali yeellow paper) yang berangsur-angsur mengubah politik redaksionalnya. Tren BN is GN terlindas dengan inspiring news. Menginspirasi pembaca untuk mengikuti jejak kesuksesan atau menggugah masyarakat ke arah perbaikan moral atau ekonomi misalnya. Berita-berita bencana, dibarengi atau ditampilkan dalam balutan solusi dan kekuatan untuk terus berjuang. Berita kejahatan didampingi dengan himbauan kewaspadaan dan semangat untuk selalu peduli dengan lingkungan sekitar. Atau warta tentang kerusakan hutan di beberapa pulau di Indonesia dengan selipan pesan bahwa begitulah pentingnya lingkungan yang seharusnya dijaga dengan penuh suka cita bukan sebaliknya. Selalu ada solusi di balik kritik. Selalu ada warning di balik berita mengagetkan. Hasilnya? Ternyata berita-berita “tidak sesansional ini” tidak kalah laku dengan BN is GN. Tengok saja, berita tentang keberhasilan usaha-usaha kecil yang bangkit di tengah keterpurukan ekonomi Aceh pasca tsunami. Atau pelajar miskin yang justru sukses melebihi murid-murid di sekolah elit.
Namun toh, nyatanya, arah ini tak bergaung sama di beberapa karya penulisan. Maksudnya, jika BN is GN dulu hampir tak pernah disentuh, kini justru tema-tema itulah yang paling laku untuk dijual.
Misalnya dalam cerpen atau novel/CN. Dari sekian banyak CN yang terbit setiap harinya, sekian persen didominasi dengan perbincangan seputar isu sensitif bermerk perempuan. PEREMPUAN-SEKS-MENGUAK TABIR TABU-FEMINISME. Bahasan “seksi” yang seolah musti dan wajib di tulis agar jadi layak bincang, layak beli dan layak debat, berujung pada satu hal yakni laris manis bak kacang goreng. Bukankah hal-hal yang tabu seputar seks, perselingkuhan, alat kelamin, pemaksaan hak laki-laki-perempuan dan “ketidaknormalan” lainnya makin asyik dikulik dengan bahasa vulgar dan berani adalah hal yang paling diminati sekarang???? benarkah????……..
Oke…..saya perlu pisau pembedah. Karena saya mendadak ketakutan jangan-jangan “kekagetan” ini hanya milik saya seorang. Jangan-jangan fenomena ini hanya tampak picisan bagi sebuah individu dan bukan menjadi kejenuhan massa. Ada sebuah buku yang memuat kritik tentang novel perempuan yang menuai aneka warna kritik sekaligus penghargaan yang bermuara pada popularitas. Si penulis buku kritik ini, Katrin Bendel dalam Sastra, Perempuan, Seks (Jalasutra, 2006) mengungkapkan sebuah kegelisahan tentang sensasi berlebihan yang dilahirkan dari sebuah novel seputar perempuan dan seks yang kemudian menurutnya memberikan efek yang merugikan bagi dunia sastra Indonesia. Ia kemudian merujuk pada para penulis perempuan yang berani menjelajah ke wilayah tabu ini dengan gaya penulisan vulgar dan berani yang kemudian mendapat sambutan luar biasa dari kalangan kritikus dan pembaca.
“Berbagai macam klaim muncul seputar para “pengarang baru” itu: tulisan mereka hebat, mereka menciptakan gaya penulis baru, mereka mendobrak tabu (terutama seputar seks—dan hal itu sering dipahami sebagai semacam “pembebasan perempuan”, bahkan sebagai feminisme).” (Sastra, Perempuan, Seks, halaman xviii)
“Saya ragu apakah cara membicarakan seksualitas dengan menantang dan penuh sensasi yang kita temukan dalam karya———-memang tepat disebut “pendobrakan tabu” atau bahkan “pembebasan perempuan” (Sastra, Perempuan, Seks, halaman xviii).
Katrin kemudian “menggugat”, mengapa karya-karya sensasional tersebut menjadi perbincangan yang cukup hangat dibandingkan karya lain yang cukup berkualitas. Tulisan-tulisan itu dianggap sebagai sebuah pencapaian yang luar biasa, padahal tidak ada represi sosial yang berarti pada pengarang karya sejenis itu. Dan bahkan ada beberapa karya yang justru cukup baik namun sepi dari publikasi karena sangat tidak sensasional…
Bagi saya jelas. Bahwa perempuan hanya disimbolkan sebagai sebuah bahasan yang tidak jauh dengan seputar seks dan persekongkolan semata. Yang kemudian menjadi dicap sebagai sebuah kemenangan atas nama perempuan atau feminisme karena tema-tema itu di cuatkan dalam kondisi masyarakat yang berlabel sopan santun plus tradisonal. Dalam skala yang lebih kecil lagi. Tema-tema seperti itu dan pemberontakan perempuan atas nilai yang teratur disebut-sebut sebagai sebuah pencapaian yang hakiki atas nama perempuan. Lebih repotnya lagi, tema itu tidak didalami dan hanya digunakan sebagai pemuas rasa ingin terlihat “kuat”.
Nah, apa benar, persoalan perempuan memang hanya berkutat pada hal-hal sensasional plus tabu saja? Apakah ketabuan yang kemudian di buka dengan serta merta lantas berubah menjadi barang berharga yang punya semangat solusi atas sebuah keterpurukan? Duh kok saya mencium aroma ketidakyakinan ……
Bukankah perempuan juga sangat “seksi dan sensual” jika didalami dan dikaitkan dengan isu seputar bobroknya pendidikan negeri ini. Atau dikaitkan dengan sudut ekonomi dan harkat martabat bangsa Indonesia di mata bangsa lain. Yang kemudian diejawantahkan dalam kasus TKI dan trafficking. Tampaknya ada banyak lapangan strategis yang bisa digali dan gali lagi.
Nah bukankah ada baiknya jika BN is GN ditinggalkan pelan-pelan….
Diganti dengan sebuah hal yang jauh dari unsur sensasi
Tema dan isu-isu “seksi” digali dan didalami dengan berbagai pendekatan yang inspiring dan kaya solusi…
Sekali lagi ini jeritan konsumen….sekaligus jeritan hati yang percaya bahwa kegiatan menulis adalah perkerjaan yang beresiko karena berpotensi menularkan virus positif dan atau sebaliknya…..
*oya, sama sekali tidak ada niat menggurui hanya bermaksud membuka ruang diskusi….
Posted by senja on 22 Oct 2007 | Tagged as: etc
Pakde*
Sepertinya musim penghujan sudah mulai tiba di Semarang. Tandanya, siang selalu dilingkupi teriknya sinar matahari namun mendung di sore hari dan hujan kerap datang kala malam mulai pekat. Itulah mengapa akhir-akhir ini aku selalu pulang kantor agak larut, maklum jika tak terpaksa sekali aku malas jika musti pulang dengan memakai jas hujan. Aku lebih memilih menunggu hujan reda. Bukankah naik motor justru nikmat kala hujan usai menyapa dan aspal penuh kubangan air. Angin semilir membuat kendaraan roda duaku makin lincah menghindari barisan air di tempat-tempat yang landai. Mirip sebuah tarian.
Kendati di rumah yang kutempati kini tidak memberlakukan jam malam seperti kos-kostanku dulu di daerah Babarsari Jogja, namun dua hari ini aku sebenarnya malas pulang malam. Kemarin badanku demam. Entah kenapa. Mungkin karena aku terkena sindrom ditinggal ibu, bapak dan adik yang pulang kampung setelah seminggu lebih liburan plus berlebaran di Semarang. Lagakku seperti perantau anyar saja. Anak mama kata temanku.
Kuseduh kopi Aroma begitu selesai membersihkan badan seraya naik ke kasur spring bed yang kubeli dua tahun lalu hasil dari gaji beberapa bulan. Warnanya biru. Warna favoritku. Spreinya juga biru. Kali ini motif kembang-kembang kuning pemberian ibuku. Kalau bukan dari ibu aku malas mengenakan barang yang bermotif bunga. Terlalu manis menurutku. Bukan seleraku.
Jam sudah menunjukkan pukul 11 malam lebih. Tapi sama sekali tak merasa ngantuk. Ini bukan gara-gara kopi. Aku sudah kebal dengan aneka jargon kopi yang katanya membuat orang betah melek. Kupeluk guling yang makin hari makin kempes. Mungkin sudah waktunya beli baru. Tapi mungkin juga sang pemilik harus diet, agar si guling tak kelebihan “muatan” biar lebih awet “berisinya”.
Ingatanku pun melayang. Pada kenangan masa kecil. Waktu SD tepatnya. Sebenarnya ada banyak rahasia dengan jaman seragam merah putih sekitar tahun 89an itu. Salah satunya adalah aku tak begitu suka masa belajar 6 tahun tersebut. Kenapa? Jawabannya sederhana. Karena aku tak pandai matematika dan bahasa Jawa. Padahal dua pelajaran itulah yang kerap dijadikan kuis jam terakhir oleh guru kelas. Alangkah gondoknya aku, karena peraturan kuisnya cukup jahat. Barang siapa yang bisa menjawabnya maka diperbolehkan pulang. Bagi yang tidak silahkan menjadi urutan paling bontot. Untuk ukuran anak kecil gembul yang mudah lapar tapi ber-otak pas-pasan model aku, proses itu terlalu lama. Padahal perut sudah menggedor ingin segera kembali pulang. Belum lagi bayangan dongeng ibuku penghantar tidur siang yang diambilkan dari majalah BOBO sudah menari-nari di depan mata.
Yang lebih menyebalkan lagi, guruku gemar sekali memberikan PR dua pelajaran itu. Matematika tak menjadi kendala terlalu serius karena ibuku dengan suka hati mengajari cara memecahkan aneka angka yang berderet. Nah, kebingunganku memucak kala membawa pulang pekerjaan rumah menulis huruf Jawa. Ha na ca ra ka. Sumpah, aku ini asli dan tulen orang Jawa. Terlahir dari ayah yang asli Jawa Timur dan ibu berdarah Jawa Tengah, tapi tidak satupun dari mereka yang mewariskan kebisaan menuliskan huruf Jawa. Kala itu aku memang masih punya mbah kakung dan mbah putri. Namun mereka sudah terlalu uzur untuk untuk kumintai bantuan menerangkan huruf-huruf yang bentuknya tak seperti tulisan latin. Setiap bapak atau ibuku kumintai tolong PR bahasa Jawa, antusiame keduanya langsung surut. Ya, mereka termasuk generasi muda yang tak paham dengan hanacaraka.
Beruntung sebelah rumahku adalah kediaman seorang kepala sekolah SD pelosok. Namanya Supangat. Aku memanggilnya pakde Pangat. Umurnya waktu itu kira-kira 50-an. Ayah dari 3 anak. Masih sehat dan sangat ramah. Baik pula. Buktinya, ia pernah membuatkanku mainan holahop. Itu lho mainan yang berbentuk cincin besar dari rotan yang diputar-putar di pinggang. Nah, pakde Pangat inilah yang selalu membantuku mengerjakan PR huruf Jawa. Sering sekali selepas Magrib aku bertandang ke rumahnya. Ku ketok pintu rumahnya. Dan ia selalu muncul dengan senyum menghiasi wajah. Kukeluarkan buku PR dengan hati-hati….
“Pakde Senja diwarahi peer bahasa nggih. Peer’e nulis Jawi,” tuturku agak malu. Maklum ini bukan kali pertama.
“Endi mbak Senja peer’e. Kene-kene…,” ucapnya sabar.
Kira-kira seperti itulah prolognya. Dengan berbicara menerangkan setiap huruf yang ditulis, pakde mulai mengerjakan PR ku satu per satu. Aku pun cuma bisa melongo. Sekali lagi ini bukan yang pertama. Dan aku juga hanya bisa diam saja. Padahal yang kumaksud, pakde cukup menerangkan saja sampai aku mengerti. Nanti PR-nya biar kukerjakan sendiri. Namun sudah kepalang tanggung dan aku terlalu malas untuk menanyakannya. Aku pun menikmatinya dan bahagia. Bebanku hilang. Runtuh bersamaan dengan tiap ayunan jari dan pulpen pakde. Sepuluh nomor soal yang diberikan guruku sudah tandas ia kerjakan dengan sempurna. Tulisannya rajin, apik, rapi, khas tulisan guru-guru SD. Mungkin pakde mengira aku murid cerdas yang jika diterangkan sambil lalu bisa langsung terpatri dalam otak. Wajahku saja yang sok jenius, tapi memori otakku sama sekali tak mampu menampung rentetan huruf Jawa yang rumit itu.
Oya, sewaktu aku di Jogja, antara tahun 2001-2005 silam, pakde menghembuskan nafas yang terakhir. Ia menghadap Illahi. Aku tak sempat melayat. Bahkan baru mendengar kabarnya beberapa hari kemudian saat ibuku menelpon dalam rangka sidak harian. Sedih? Tentu saja. Pakde Pangat sudah seperti mbahku sendiri. Holahop dan PR huruf Jawa adalah tanda sayangnya padaku. Walau tidak lagi butuh bantuan mengerjakan soal-soal pelajaran Jawa, namun masih ia masih terus mempengaruhi kehidupanku menginjak remaja. Pasalnya tiap aku nyanyi keras-keras, ibu pasti langsung memperingatkan agar volume suaraku dikecilkan.
“Jangan keras-keras, dek. Pakde tidur, istirahat, nanti keganggu,” ucap ibuku. Hahahahaha. Ibuku memang terkadang sok tahu.
Pakde, sekian tahun setelah peristiwa PR itu, aku masih mengingatmu. Semoga kau damai di sana dan menjadi salah satu penghuni surga. Amien.
Secangkir kopi Aroma sudah habis ku minum. Malam makin larut. Pekerjaan menjumput mimpi sudah menunggu esok pagi. Ku harus tidur. Penat dan kantuk ternyata datang tepat setelah aku selesai menuliskan cerita tentang pakde Pangat. Ahhhh, ternyata walau kau tak lagi ada, sosokmu tetap saja (sedikit banyak) membantuku.
*based on true story….
Oya saya nggak punya oleh-oleh lebaran, kecuali ini
Posted by senja on 06 Oct 2007 | Tagged as: etc
Makin ujung, puasa makin berat….
Makin ujung, makin memperlihatkan kontradiksi
Hari ini, adalah 7 hari menjelang usainya ramadhan..
Pusat-pusat pertokoan penuh dengan geliat manusia, pojok-pojok pasar sesak tawar menawar. Sudut warung dan gerai makanan ludes di siang hari bolong. Aneka tulisan potongan harga menyembul di balik kepala orang-orang.
Jalan makin macet, asap knalpot makin menyesakkan. Pemudik menyemut seperti rombongan pawai. Ada yang sabar antre, tak sedikit yang main sodok. Laju bus, motor, pesawat, kereta api memerahkan mata.
Dapur-dapur diisi aneka makanan. Toples-toples aneka warna berjejer di meja. Sudut kamar dipenuhi cekikikan anak-anak yang mencoba baju baru. Semuanya tumpah ruah…
Hari ini, 7 hari menjelang usainya ramadhan
Mushola, surau, masjid, kian kosong ditinggal penghuninya. Tadarus quran makin kecil suaranya. Saf-saf tarawih berjamaah tak lagi berdesakan. Sandal-sandal di depan pintuMu makin sedikit jumlahnya.
Dan ada jiwa-jiwa suka-duka, diantara hiruk pikuknya kota..
Mereka yang tidak membeli baju baru, mereka yang masih memikirkan segunung hutang, mereka yang menunggu hari pembebasan, mereka yang terpencil di titik pulau terpisah ratusan kilometer dari keluarga, para orang tua yang tidak dikunjungi anak dan cucu.
Mereka yang tetap bekerja di hari raya. Juru rawat, penjaga palang pintu kereta, penjaga keamanan, pengais rejeki dari yang mereka berlebaran.
SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI, MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN. SEMOGA TETAP MERINDUKAN RAMADHAN SELANJUTNYA……
Posted by senja on 03 Oct 2007 | Tagged as: etc
Toko kopi Aroma pernah mengisi salah satu episode acara Wisata Kuliner. Produsen kopi yang berada di Bandung ini disebut-sebut sebagai salah satu penghasil kopi original di Indonesia. Pasalnya, semua kopi di sini di proses dengan menggunakan mekanisme tradisional dengan menggunakan alat-alat tua. Bahkan, sebelum di jual, kopinya disimpan selama 8 tahun untuk mendapatkan sensasi keaslian kopi yang memang tanpa menggunakan bahan pengawet dan pemanis kimia.
Kebetulan, saya mempunyai teman yang kini tengah menjadi mahasiswa baru di sebuah perguruan negeri di kota kembang ini. Saya pun lantas menawarkan jasa agar dia cepat menghapal jalan-jalan yang ada di Bandung. Yakni dengan mencari toko kopi tua ini di salah satu sudut kota. Bermodalkan alamat hasil surfing di internet untuk mendapatkan alamat lengkapnya, berangkatlah teman saya tadi ke toko kopi Aroma. Dia kemudian mengabarkan bahwa kopi sudah ditangan. Baru 2 hari yang lalu, akhirnya kopi Aroma ada dihadapan saya. Temen saya membelikan dua bungkus kopi, berjenis Mokka Arabika dan Robusta, masing-masing ¼ kilo.
Kesan pertama….
Saya suka bungkusnya. Packaging khas untuk produk yang ingin menampilkan citra klasik dan original. Kertas coklat. Di bungkus tersebut juga tertera himbauan, bahwa sebaiknya sesaat setelah dibuka, kopi ditempatkan ke dalam sebuah toples agar tidak mengurangi rasa dan aromanya. Teman saya juga bercerita kalo penjual memang tidak menganjurkan pembelian kopi dalam partai besar, semisal diatas ½ kilo. Dengan asumsi, semakin banyak kopi yang dibeli, maka akan semakin lama pula waktu yang dibutuhkan untuk menghabiskannya. Terlalu lama masa penyimpanan dalam wadah yang berbeda dibandingkan di pabriknya dikhawatirkan membuat kopi tersebut kehilangan rasa originalnya. Penjual juga menganjurkan agar kopi diseduh dengan air mendidih, bukan air termos atau dispenser. Konon, rasa kopinya akan jauh lebih nikmat jika dilarutkan dalam air yang mengalami proses pemasakan sempurna….
Kesan selanjutnya….
Saya buka bungkusnya…
Hmmm, aroma kopi langsung merebak
Seduh dengan air panas. Tangkupkan kedua tangan pada sisi kiri dan kanan gelas, lalu cium aroma kopinya perlahan…
Tangan akan dialiri kehangatan sedangkan, indra penciuman mengirimakan sensasi mokka arabika dan robusta ke otak..nikmat…
Tiup sekejap agar panasnya hilang lalu rasakan pelan-pelan…kopinya memang original, tidak ringan seperti produk kopi instan kebanyakan. Apalagi robusta yang “lebih keras” dari pada mokka arabika…
Rasanya kental dan lain dari pada yang lain….kopi Aroma memang paling top dari sekian kopi yang pernah saya rasakan hasil oleh-oleh teman luar Jawa…
Saya lantas berkhayal..
Duduk di bangku bawah pohon rindang, sore-sore
Ditemani kopi dan kudapan berupa ketela/pisang goreng…
Sesekali menyeruput kopi Aroma…….hehehehehe….dunia milik sendiri, yang laen ngontrak…wekekeke
Oya, bagi yang pengen tau seperti apa kopi Aroma…secara visual sudah saya abadikan di sini…
Selamat –ikut– menikmati….