Wednesday, October 3rd, 2007

Daily Archive

Kopi Aroma

Posted by senja on 03 Oct 2007 | Tagged as: etc

Toko kopi Aroma pernah mengisi salah satu episode acara Wisata Kuliner. Produsen kopi yang berada di Bandung ini disebut-sebut sebagai salah satu penghasil kopi original di Indonesia. Pasalnya, semua kopi di sini di proses dengan menggunakan mekanisme tradisional dengan menggunakan alat-alat tua. Bahkan, sebelum di jual, kopinya disimpan selama 8 tahun untuk mendapatkan sensasi keaslian kopi yang memang tanpa menggunakan bahan pengawet dan pemanis kimia.

Kebetulan, saya mempunyai teman yang kini tengah menjadi mahasiswa baru di sebuah perguruan negeri di kota kembang ini. Saya pun lantas menawarkan jasa agar dia cepat menghapal jalan-jalan yang ada di Bandung. Yakni dengan mencari toko kopi tua ini di salah satu sudut kota. Bermodalkan alamat hasil surfing di internet untuk mendapatkan alamat lengkapnya, berangkatlah teman saya tadi ke toko kopi Aroma. Dia kemudian mengabarkan bahwa kopi sudah ditangan. Baru 2 hari yang lalu, akhirnya kopi Aroma ada dihadapan saya. Temen saya membelikan dua bungkus kopi, berjenis Mokka Arabika dan Robusta, masing-masing ¼ kilo.

Kesan pertama….
Saya suka bungkusnya. Packaging khas untuk produk yang ingin menampilkan citra klasik dan original. Kertas coklat. Di bungkus tersebut juga tertera himbauan, bahwa sebaiknya sesaat setelah dibuka, kopi ditempatkan ke dalam sebuah toples agar tidak mengurangi rasa dan aromanya. Teman saya juga bercerita kalo penjual memang tidak menganjurkan pembelian kopi dalam partai besar, semisal diatas ½ kilo. Dengan asumsi, semakin banyak kopi yang dibeli, maka akan semakin lama pula waktu yang dibutuhkan untuk menghabiskannya. Terlalu lama masa penyimpanan dalam wadah yang berbeda dibandingkan di pabriknya dikhawatirkan membuat kopi tersebut kehilangan rasa originalnya. Penjual juga menganjurkan agar kopi diseduh dengan air mendidih, bukan air termos atau dispenser. Konon, rasa kopinya akan jauh lebih nikmat jika dilarutkan dalam air yang mengalami proses pemasakan sempurna….

Kesan selanjutnya….
Saya buka bungkusnya…
Hmmm, aroma kopi langsung merebak
Seduh dengan air panas. Tangkupkan kedua tangan pada sisi kiri dan kanan gelas, lalu cium aroma kopinya perlahan…
Tangan akan dialiri kehangatan sedangkan, indra penciuman mengirimakan sensasi mokka arabika dan robusta ke otak..nikmat…
Tiup sekejap agar panasnya hilang lalu rasakan pelan-pelan…kopinya memang original, tidak ringan seperti produk kopi instan kebanyakan. Apalagi robusta yang “lebih keras” dari pada mokka arabika…
Rasanya kental dan lain dari pada yang lain….kopi Aroma memang paling top dari sekian kopi yang pernah saya rasakan hasil oleh-oleh teman luar Jawa…

Saya lantas berkhayal..
Duduk di bangku bawah pohon rindang, sore-sore
Ditemani kopi dan kudapan berupa ketela/pisang goreng…
Sesekali menyeruput kopi Aroma…….hehehehehe….dunia milik sendiri, yang laen ngontrak…wekekeke

Oya, bagi yang pengen tau seperti apa kopi Aroma…secara visual sudah saya abadikan di sini…
Selamat –ikut– menikmati….