Monday, October 22nd, 2007

Daily Archive

Cerita…..

Posted by senja on 22 Oct 2007 | Tagged as: etc

Pakde*

Sepertinya musim penghujan sudah mulai tiba di Semarang. Tandanya, siang selalu dilingkupi teriknya sinar matahari namun mendung di sore hari dan hujan kerap datang kala malam mulai pekat. Itulah mengapa akhir-akhir ini aku selalu pulang kantor agak larut, maklum jika tak terpaksa sekali aku malas jika musti pulang dengan memakai jas hujan. Aku lebih memilih menunggu hujan reda. Bukankah naik motor justru nikmat kala hujan usai menyapa dan aspal penuh kubangan air. Angin semilir membuat kendaraan roda duaku makin lincah menghindari barisan air di tempat-tempat yang landai. Mirip sebuah tarian.

Kendati di rumah yang kutempati kini tidak memberlakukan jam malam seperti kos-kostanku dulu di daerah Babarsari Jogja, namun dua hari ini aku sebenarnya malas pulang malam. Kemarin badanku demam. Entah kenapa. Mungkin karena aku terkena sindrom ditinggal ibu, bapak dan adik yang pulang kampung setelah seminggu lebih liburan plus berlebaran di Semarang. Lagakku seperti perantau anyar saja. Anak mama kata temanku.

Kuseduh kopi Aroma begitu selesai membersihkan badan seraya naik ke kasur spring bed yang kubeli dua tahun lalu hasil dari gaji beberapa bulan. Warnanya biru. Warna favoritku. Spreinya juga biru. Kali ini motif kembang-kembang kuning pemberian ibuku. Kalau bukan dari ibu aku malas mengenakan barang yang bermotif bunga. Terlalu manis menurutku. Bukan seleraku.

Jam sudah menunjukkan pukul 11 malam lebih. Tapi sama sekali tak merasa ngantuk. Ini bukan gara-gara kopi. Aku sudah kebal dengan aneka jargon kopi yang katanya membuat orang betah melek. Kupeluk guling yang makin hari makin kempes. Mungkin sudah waktunya beli baru. Tapi mungkin juga sang pemilik harus diet, agar si guling tak kelebihan “muatan” biar lebih awet “berisinya”.

Ingatanku pun melayang. Pada kenangan masa kecil. Waktu SD tepatnya. Sebenarnya ada banyak rahasia dengan jaman seragam merah putih sekitar tahun 89an itu. Salah satunya adalah aku tak begitu suka masa belajar 6 tahun tersebut. Kenapa? Jawabannya sederhana. Karena aku tak pandai matematika dan bahasa Jawa. Padahal dua pelajaran itulah yang kerap dijadikan kuis jam terakhir oleh guru kelas. Alangkah gondoknya aku, karena peraturan kuisnya cukup jahat. Barang siapa yang bisa menjawabnya maka diperbolehkan pulang. Bagi yang tidak silahkan menjadi urutan paling bontot. Untuk ukuran anak kecil gembul yang mudah lapar tapi ber-otak pas-pasan model aku, proses itu terlalu lama. Padahal perut sudah menggedor ingin segera kembali pulang. Belum lagi bayangan dongeng ibuku penghantar tidur siang yang diambilkan dari majalah BOBO sudah menari-nari di depan mata.

Yang lebih menyebalkan lagi, guruku gemar sekali memberikan PR dua pelajaran itu. Matematika tak menjadi kendala terlalu serius karena ibuku dengan suka hati mengajari cara memecahkan aneka angka yang berderet. Nah, kebingunganku memucak kala membawa pulang pekerjaan rumah menulis huruf Jawa. Ha na ca ra ka. Sumpah, aku ini asli dan tulen orang Jawa. Terlahir dari ayah yang asli Jawa Timur dan ibu berdarah Jawa Tengah, tapi tidak satupun dari mereka yang mewariskan kebisaan menuliskan huruf Jawa. Kala itu aku memang masih punya mbah kakung dan mbah putri. Namun mereka sudah terlalu uzur untuk untuk kumintai bantuan menerangkan huruf-huruf yang bentuknya tak seperti tulisan latin. Setiap bapak atau ibuku kumintai tolong PR bahasa Jawa, antusiame keduanya langsung surut. Ya, mereka termasuk generasi muda yang tak paham dengan hanacaraka.

Beruntung sebelah rumahku adalah kediaman seorang kepala sekolah SD pelosok. Namanya Supangat. Aku memanggilnya pakde Pangat. Umurnya waktu itu kira-kira 50-an. Ayah dari 3 anak. Masih sehat dan sangat ramah. Baik pula. Buktinya, ia pernah membuatkanku mainan holahop. Itu lho mainan yang berbentuk cincin besar dari rotan yang diputar-putar di pinggang. Nah, pakde Pangat inilah yang selalu membantuku mengerjakan PR huruf Jawa. Sering sekali selepas Magrib aku bertandang ke rumahnya. Ku ketok pintu rumahnya. Dan ia selalu muncul dengan senyum menghiasi wajah. Kukeluarkan buku PR dengan hati-hati….

“Pakde Senja diwarahi peer bahasa nggih. Peer’e nulis Jawi,” tuturku agak malu. Maklum ini bukan kali pertama.
“Endi mbak Senja peer’e. Kene-kene…,” ucapnya sabar.

Kira-kira seperti itulah prolognya. Dengan berbicara menerangkan setiap huruf yang ditulis, pakde mulai mengerjakan PR ku satu per satu. Aku pun cuma bisa melongo. Sekali lagi ini bukan yang pertama. Dan aku juga hanya bisa diam saja. Padahal yang kumaksud, pakde cukup menerangkan saja sampai aku mengerti. Nanti PR-nya biar kukerjakan sendiri. Namun sudah kepalang tanggung dan aku terlalu malas untuk menanyakannya. Aku pun menikmatinya dan bahagia. Bebanku hilang. Runtuh bersamaan dengan tiap ayunan jari dan pulpen pakde. Sepuluh nomor soal yang diberikan guruku sudah tandas ia kerjakan dengan sempurna. Tulisannya rajin, apik, rapi, khas tulisan guru-guru SD. Mungkin pakde mengira aku murid cerdas yang jika diterangkan sambil lalu bisa langsung terpatri dalam otak. Wajahku saja yang sok jenius, tapi memori otakku sama sekali tak mampu menampung rentetan huruf Jawa yang rumit itu.

Oya, sewaktu aku di Jogja, antara tahun 2001-2005 silam, pakde menghembuskan nafas yang terakhir. Ia menghadap Illahi. Aku tak sempat melayat. Bahkan baru mendengar kabarnya beberapa hari kemudian saat ibuku menelpon dalam rangka sidak harian. Sedih? Tentu saja. Pakde Pangat sudah seperti mbahku sendiri. Holahop dan PR huruf Jawa adalah tanda sayangnya padaku. Walau tidak lagi butuh bantuan mengerjakan soal-soal pelajaran Jawa, namun masih ia masih terus mempengaruhi kehidupanku menginjak remaja. Pasalnya tiap aku nyanyi keras-keras, ibu pasti langsung memperingatkan agar volume suaraku dikecilkan.

“Jangan keras-keras, dek. Pakde tidur, istirahat, nanti keganggu,” ucap ibuku. Hahahahaha. Ibuku memang terkadang sok tahu.
Pakde, sekian tahun setelah peristiwa PR itu, aku masih mengingatmu. Semoga kau damai di sana dan menjadi salah satu penghuni surga. Amien.

Secangkir kopi Aroma sudah habis ku minum. Malam makin larut. Pekerjaan menjumput mimpi sudah menunggu esok pagi. Ku harus tidur. Penat dan kantuk ternyata datang tepat setelah aku selesai menuliskan cerita tentang pakde Pangat. Ahhhh, ternyata walau kau tak lagi ada, sosokmu tetap saja (sedikit banyak) membantuku.

*based on true story….

Oya saya nggak punya oleh-oleh lebaran, kecuali ini