Bad news is Good news??
Posted by senja on 27 Oct 2007 at 02:55 pm | Tagged as: my opinion
Bad news is good news (BN is GN) adalah jargon orang-orang media yang pernah sangat terkenal namun kemudian mulai rapuh beberapa tahun belakangan ini. BN is GN sering diartikan bahwa sebuah peristiwa yang buruk, menjijikkan, memilukan dan semacamnya adalah sasaran empuk pembuat berita untuk diwartakan ke khalayak ramai. Misalnya tentang kecelakaan yang memakan korban puluhan jiwa, kelaparan, pembunuhan, perampokan, bencana alam dll. Berita tentang hal itu, pasti akan lebih menarik atau layak jual jika dibandingkan dengan berita tentang murid yang juara karya ilmiah atau penemuan alat pendeteksi gempa bumi. Pembunuhan atau pemerkosaan pasti lebih hot dan “laku” ketimbang berita tentang kesuksesan atlet bulutangkis Indonesia di Piala Uber/Thomas.
Namun itu dulu. Kini banyak media (kecuali yeellow paper) yang berangsur-angsur mengubah politik redaksionalnya. Tren BN is GN terlindas dengan inspiring news. Menginspirasi pembaca untuk mengikuti jejak kesuksesan atau menggugah masyarakat ke arah perbaikan moral atau ekonomi misalnya. Berita-berita bencana, dibarengi atau ditampilkan dalam balutan solusi dan kekuatan untuk terus berjuang. Berita kejahatan didampingi dengan himbauan kewaspadaan dan semangat untuk selalu peduli dengan lingkungan sekitar. Atau warta tentang kerusakan hutan di beberapa pulau di Indonesia dengan selipan pesan bahwa begitulah pentingnya lingkungan yang seharusnya dijaga dengan penuh suka cita bukan sebaliknya. Selalu ada solusi di balik kritik. Selalu ada warning di balik berita mengagetkan. Hasilnya? Ternyata berita-berita “tidak sesansional ini” tidak kalah laku dengan BN is GN. Tengok saja, berita tentang keberhasilan usaha-usaha kecil yang bangkit di tengah keterpurukan ekonomi Aceh pasca tsunami. Atau pelajar miskin yang justru sukses melebihi murid-murid di sekolah elit.
Namun toh, nyatanya, arah ini tak bergaung sama di beberapa karya penulisan. Maksudnya, jika BN is GN dulu hampir tak pernah disentuh, kini justru tema-tema itulah yang paling laku untuk dijual.
Misalnya dalam cerpen atau novel/CN. Dari sekian banyak CN yang terbit setiap harinya, sekian persen didominasi dengan perbincangan seputar isu sensitif bermerk perempuan. PEREMPUAN-SEKS-MENGUAK TABIR TABU-FEMINISME. Bahasan “seksi” yang seolah musti dan wajib di tulis agar jadi layak bincang, layak beli dan layak debat, berujung pada satu hal yakni laris manis bak kacang goreng. Bukankah hal-hal yang tabu seputar seks, perselingkuhan, alat kelamin, pemaksaan hak laki-laki-perempuan dan “ketidaknormalan” lainnya makin asyik dikulik dengan bahasa vulgar dan berani adalah hal yang paling diminati sekarang???? benarkah????……..
Oke…..saya perlu pisau pembedah. Karena saya mendadak ketakutan jangan-jangan “kekagetan” ini hanya milik saya seorang. Jangan-jangan fenomena ini hanya tampak picisan bagi sebuah individu dan bukan menjadi kejenuhan massa. Ada sebuah buku yang memuat kritik tentang novel perempuan yang menuai aneka warna kritik sekaligus penghargaan yang bermuara pada popularitas. Si penulis buku kritik ini, Katrin Bendel dalam Sastra, Perempuan, Seks (Jalasutra, 2006) mengungkapkan sebuah kegelisahan tentang sensasi berlebihan yang dilahirkan dari sebuah novel seputar perempuan dan seks yang kemudian menurutnya memberikan efek yang merugikan bagi dunia sastra Indonesia. Ia kemudian merujuk pada para penulis perempuan yang berani menjelajah ke wilayah tabu ini dengan gaya penulisan vulgar dan berani yang kemudian mendapat sambutan luar biasa dari kalangan kritikus dan pembaca.
“Berbagai macam klaim muncul seputar para “pengarang baru” itu: tulisan mereka hebat, mereka menciptakan gaya penulis baru, mereka mendobrak tabu (terutama seputar seks—dan hal itu sering dipahami sebagai semacam “pembebasan perempuan”, bahkan sebagai feminisme).” (Sastra, Perempuan, Seks, halaman xviii)
“Saya ragu apakah cara membicarakan seksualitas dengan menantang dan penuh sensasi yang kita temukan dalam karya———-memang tepat disebut “pendobrakan tabu” atau bahkan “pembebasan perempuan” (Sastra, Perempuan, Seks, halaman xviii).
Katrin kemudian “menggugat”, mengapa karya-karya sensasional tersebut menjadi perbincangan yang cukup hangat dibandingkan karya lain yang cukup berkualitas. Tulisan-tulisan itu dianggap sebagai sebuah pencapaian yang luar biasa, padahal tidak ada represi sosial yang berarti pada pengarang karya sejenis itu. Dan bahkan ada beberapa karya yang justru cukup baik namun sepi dari publikasi karena sangat tidak sensasional…
Bagi saya jelas. Bahwa perempuan hanya disimbolkan sebagai sebuah bahasan yang tidak jauh dengan seputar seks dan persekongkolan semata. Yang kemudian menjadi dicap sebagai sebuah kemenangan atas nama perempuan atau feminisme karena tema-tema itu di cuatkan dalam kondisi masyarakat yang berlabel sopan santun plus tradisonal. Dalam skala yang lebih kecil lagi. Tema-tema seperti itu dan pemberontakan perempuan atas nilai yang teratur disebut-sebut sebagai sebuah pencapaian yang hakiki atas nama perempuan. Lebih repotnya lagi, tema itu tidak didalami dan hanya digunakan sebagai pemuas rasa ingin terlihat “kuat”.
Nah, apa benar, persoalan perempuan memang hanya berkutat pada hal-hal sensasional plus tabu saja? Apakah ketabuan yang kemudian di buka dengan serta merta lantas berubah menjadi barang berharga yang punya semangat solusi atas sebuah keterpurukan? Duh kok saya mencium aroma ketidakyakinan ……
Bukankah perempuan juga sangat “seksi dan sensual” jika didalami dan dikaitkan dengan isu seputar bobroknya pendidikan negeri ini. Atau dikaitkan dengan sudut ekonomi dan harkat martabat bangsa Indonesia di mata bangsa lain. Yang kemudian diejawantahkan dalam kasus TKI dan trafficking. Tampaknya ada banyak lapangan strategis yang bisa digali dan gali lagi.
Nah bukankah ada baiknya jika BN is GN ditinggalkan pelan-pelan….
Diganti dengan sebuah hal yang jauh dari unsur sensasi
Tema dan isu-isu “seksi” digali dan didalami dengan berbagai pendekatan yang inspiring dan kaya solusi…
Sekali lagi ini jeritan konsumen….sekaligus jeritan hati yang percaya bahwa kegiatan menulis adalah perkerjaan yang beresiko karena berpotensi menularkan virus positif dan atau sebaliknya…..
*oya, sama sekali tidak ada niat menggurui hanya bermaksud membuka ruang diskusi….








kok ga mudeng ya, apa karena dah ngantuk*0.28 am*
komen dulu baru baca
… saya mendadak terinspirasi.
Moco sik.
“keberhasilan usaha-usaha kecil yang bangkit di tengah keterpurukan ekonomi Aceh pasca Tsunami” - Bener banget tuh !!
katanya kalo kita terlalu sering mendengar bad news (termsuk berita2 kriminal di tv)..badan kita pun (sampai ke molekul2 dan sel2 di dalam tubuh kita)ikut terpengaruh jadi negatif juga.
jadi harus diseimbangkan degnan gudnyus dan berita/cerita ringan yang menyenangkan..
Lha ya…di balik rasa pahir juga kita akan mempelajari banyak hal to?
Saiki aku wis mudheng…
BN, GN, CN, SEKS,
kayaknya processor-ku musti di upgrade ke yg lebih tinggi deh….
[sambil tetap membaca untuk ke 2 kalinya]
Bukankah perempuan juga sangat “seksi dan sensual” jika didalami dan dikaitkan dengan isu seputar bobroknya pendidikan negeri ini. Atau dikaitkan dengan sudut ekonomi dan harkat martabat bangsa Indonesia di mata bangsa lain. Yang kemudian diejawantahkan dalam kasus TKI dan trafficking. Tampaknya ada banyak lapangan strategis yang bisa digali dan gali lagi.
sepakat. saya baca Kompas kemaren, di tiga Kabupaten, profil wanitanya bisa mengentaskan kemiskinan karena koperasi simpan pinjamnya mengurangi ketergantungan kepada pengijon.
tapi selera pasar memang seringkali “memaksa” media untuk tetap memberitakan BN karena lebih laku..
you go smart girl!
Nah kalau yang jeng tulis ini menurutku good news karena kabar itu baru saya dengar…
Mungkinkah cermin masyarakat kita dapat dilihat dari bacaan yang mereka nikmati setiap hari, terutama masyarakat kelas bawah? Yah, seperti berita perkosaan, kejahatan, kecelakaan, tindakan cabul (seks) dan yang semacamnya itu. Banyak surat kabar yang khusus mengulas seputar masalah itu malah laris manis dibanding yang memuat hal-hal yang sifatnya pengetahuan atau informasi penting lainnya. Darimana kita mau maju kalau yang dinikmati bacaan yang notabene tidak memberikan kontribusi yang positif.
Untuk berita sport, masih berlaku tuh BN is GN
sip, tulisan mantap nih
btw, kalo ak suka ngikutin kisah² sukses para pebisnis di tipi
panjang sangaaattt … besok aja yah bacanya
nja,kamu ga mudheng moco puisiku…aku yo rak mudheng moco iki…hahaha , eh …ojo bahas iki ro aku ya nek pas YM an…bahas sing enak2 wae, arto moro kek…woke jeng?
Sebuah pemikiran jenuh akan sastra sensasional?
atau pemikiran anti feminis kontemporer?
Entahlah,..
semua bisa jadi pembenaran yang saling membalikkan..
Tapi sepakat dengan “penggalian cerita” yang lebih mendalam terhadap permasalahan bangsa. Karena saya masih inget pesan guru saya dulu :
“Didalam Negara Yang Kuat, terdapat Wanita yang Sehat”
*kayak iklan SKJ ..hahaha…
nice topic overal .. :thumbup:
saya rasa itu berhubungan dengan kecerdasan dan kearifan masyarakat kita juga, jika seorang penulis hanya mampu membuat karya sastra yang mengedepankan kritik semata, atau mengeksploitasi sensualitas sebagai ide utama dalam karyanya, tanpa menekankan sebuah pesan moral yang lebih tinggi, mungkin dia adalah seorang penulis yang cerdas tapi kurang arif, atau barangkali seorang yang arif tapi kurang cerdas.
begitu juga dengan kritikus maupun para penikmat karya-karya sastera itu sendiri,jika seorang penikmat sastera lebih menyukai karya-karya yang mengesampingkan pesan moral dan mengedepankan “standar sastra yang di tentukan oleh para kritikus” mungkin dia sebagai penikmat hanya terhanyut oleh arus mode sastra, tanpa secara cerdas
mencoba ikut memikirkan apa yang sebenarnya dibutuhkan oleh masyarakat kita saat ini. karya sastera sebenarnya juga hasil dari propaganda media, tanpa sadar ulasan kritikus di media massa akan mempengaruhi kita untuk ikut terbawa kedalam MODE sastra yang sedang on.tapi ini sekedar opini lho,
saya sendiri tidak tahu apa-apa tentang sastera. tapi saya salut dengan postingan anda yang satu ini, berbobot!!
mmmmmmmm….. hehehe, agak berat nih. perlu dicerna lagi
maklum, mitra rada lemot…
ini ttg perempuan ya??
Bad news is bad news..
gak berubah jadi gud nyus!
BN is GN hanya merupakan slogan pembelaan untuk sembunyi diri bagi pehobi BN (halah opo to ki, wong yo ga paham)
saya setuju dengan pendapatmu. Biasanya org selalu berdalih CN yg ditulis oleh penulis perempuan dan begitu mengumbar ttg masalah yg dianggap tabu, selalu dihormati sebagai sebuah kejujuran. Apakah kejujuran harus vulgar dan begitu kasar? Yang terkesan justru murahan bagi saya…Ah, saya terlalu sinis.
Saya lebih prihatin pada soal bagaimana cara seorang ibu mendidik anaknya atas nama kasih sayang, tapi sebenarnya justru menjerumuskan anak itu pada kemanjaan, ketergantungan dan kesombongan. Mengapa begitu takutnya seorang ibu dicap sebagai orang yang keras dan galak yang katanya lebih tepat ditujukan sbg sifat laki2?
TOP nduk..
Bahasan yang ciamik mudah-mudahan bisa jadi tambahan “suplemen” untuk otakku yang saat ini sedang tumpul nja ;D
bahas opo tho..???
asli aku ga mudeng..!!!
saya trelalu OON ttg sastra2an gini….
Eh,soto yg murah dimana ya..???
punya langganan ga..??
nah bari bisa komen!!!
tentang yang laku dijual!!! kayaknya emang kita harus ngikutin pasar deh!
gw jug inget kata temen2, gw di cap sebagai org yg idealis sewaktu bekerja kmrn. ” dan ternyata nyaris dn hmpir betul :gak ada tempat hidup untuk orang idealis.
ikutin aja pasar dan tetap pd norma-norma