November 2007
Monthly Archive
Monthly Archive
Posted by senja on 27 Nov 2007 | Tagged as: media
Langit masih berbalut mendung hitam
Masihku cemas bila saatnya datang
Badai, angin, topan menghempas
Segalanya kapankah akan berakhir
Lumpur meredam
Pilunya belumlah sirna
Jika mentari panasnya tak lagi menyengat
Apakah ini adalah akhir dari tempatku berpijak
Kita mungkin terluka
Ataupun bisa mati
Tapi janganlah pernah menyalahkan hidup
Persiapkan hati
Persiapkan jiwa
Atas segalanya yang bisa terjadi
Gelombang biru menghujam menyapu bumi
Puing-puing tersisa
Mengiris hati
Bilakah fajar akan bersinar
Dan berpijar lagi menerangi dunia
Kita mungkin terluka
Ataupun bisa mati
Tapi janganlah pernah menyalahkan hidup
Persiapkan hati
Persiapkan jiwa
Atas segalanya yang bisa terjadi
*PADI—ALBUM TAK HANYA DIAM
Posted by senja on 15 Nov 2007 | Tagged as: etc
Baru-baru ini ada sebuah film dokumenter sepakbola yang mampu menembus di beberapa gedung bioskop dan juga ditonton khalayak berbagai kota dan negara. Film tersebut berjudul The Jak. Seperti judulnya, film arahan Andi Bachtiar Yusuf ini menceritakan kelompok suporter The Jak atau yang juga kerap disebut Jakmania alias pendukung setia tim Persija si Macan Kemayoran.
Film ini juga sempat hampir tak bisa ditonton di Bandung yang notabene adalah home base Viking, kelompok suporter Persib Bandung. Viking dan Jakmania adalah suporter yang nyaris selalu bentrok kala Persija dan Persib bertemu di dalam kompetisi reguler.
Saya tak ingin menceritakan bagaimana film The Jak. Selain vcdnya sudah beredar dimana-mana, film ini juga sedang menjalani roadshow ke beberapa kota di Indonesia. Di Semarang sendiri The Jak sudah diputar untuk umum Selasa (13/11) kemarin di gedung perpustakaan Undip lantai 2, kampus Peleburan. 21 November mendatang, film produksi Bogalakon Pictures tersebut juga bakal mengikuti festival film di Paris, Perancis.
Ada sebuah pemandangan miris yang diceritakan dalam film itu yang merupakan fenomena lazim di kalangan suporter. Apalagi kalau bukan image suporter yang selalu rusuh, suka bentrok, kalau timnya kalah ngamuk dan lain-lain. Kita tentu belum lupa tragedi perusakan stadion Tambaksari Surabaya akibat amukan suporter Persebaya, Bonek beberapa waktu lalu. Dengan skala yang lebih kecil, hal serupa sempat terjadi kala panpel menunda pertandingan Persiba versus PSIS di Stadion Batang Jateng pada babak 8 besar Liga Indonesia 2006 lalu. Penonton mengamuk dan merusak seluruh fasilitas di stadion. Hal yang sama sering terjadi di setiap musim dan akhirnya menjadi tontonan biasa. Bahkan ada yang bilang bukan sepakbola Indonesia jika tidak ada berantemnya. Hihihihihihi….mungkin benar, namun toh dunia sepakbola Italia juga mengalami nasib yang sama. Artinya apa? Ini bukan problem kawasan tertentu, namun sudah menjadi kegelisahan umum.
Sesaat setelah kerusuhan di Surabaya oleh kelompok yang ditengarai Bonek kala itu, Metro TV mengangkat tema ini dalam todays dialog. Kalau tidak salah ingat, narasumbernya ada yang dari sosiolog. Apa kata pakar itu??? ia mengatakan bahwa kerusuhan suporter sepakbola seperti ini sebenarnya tidak bisa dilihat melulu melalui kacamata sepakbola (saja) namun juga harus dihubungkan dengan keadaan sosial dimana suporter itu tumbuh. Sepakbola yang kerap dicap sebagai olahraga rakyat, murah meriah, memang (mayoritas) diminati oleh masyarakat marginal atau kalangan bawah. Mereka adalah orang-orang yang tidak bisa menikmati hiburan kota besar seperti Jakarta atau Surabaya karena keterbatasan akses. Perkembangan kota sudah sangat jauh meninggalkan mereka. Mereka pun akhirnya mencari dunia mereka sendiri. Dan itu mereka temukan di sepakbola. Kala orang-orang kaya bisa menikmati segala fasilitas modern dan kemudian gaya hidup itu menjadi identitas mereka di kehidupan sosial, maka kaum marginal ini juga mendapatkan identitas dan merasa eksis di sepakbola dengan menjadi suporter. Tidak berlebihan memang pendapat ini. Tengok saja Surabaya atau Jakarta, sebagian besar ruangnya dikuasai oleh kaum berduit. Sedangkan bagi yang tidak punya akses, cukup hanya melongo saja. Orang-orang seperti inilah yang baru merasa punya eksistensi jika timnya bertanding. Mereka berbondong-bondong datang, menggunakan atribut kebesaran. Serasa mengusai area stadion. Saat eksistensi ini kemudian diganggu oleh orang lain. Maka terjadilah gesekan alias bentrokan untuk mempertahankan eksistensi ini. Begitu besar harapan orang terhadap tim-tim besar seperti Persija dan Persebaya—misalnya– terkadang juga berimbas pada tim itu sendiri. Saya sering mendengar, betapa pemain-pemain yang menjadi skuad tim ngetop ini sebenarnya memikul beban yang cukup besar karena menjadi sosok idola para suporternya yang punya harapan tinggi kepada tim ini untuk bisa selalu menang.
Nah, benang merah inilah yang coba dikupas oleh film The Jak. Dalam beberapa testimoni di film dokumenter berdurasi 79 menit ini, dikatakan bahwa Persija adalah sosok idola mereka. Menjadi tumpuan harapan bagi kaum marginal ini untuk bisa nonton setiap Bambang Pamungkas dkk main di Lebak Bulus. Mereka merasa tidak punya kebanggaan lain selain Persija. Dengan kaos oranye khas seragam Persija inilah mereka kemudian merasa eksis sebagai warga Jakarta. Hanya di hari saat Persija main, setelah itu mereka kembali pada garis dimana tidak punya akses apapun terhadap gedung-gedung pencakar langit, dunia hiburan dan fasilitas mewah lainnya.
Semakin tampaklah, bahwa fenomena kekerasan suporter sepakbola bukanlah semata-mata problem tentang timnya menang atau kalah, namun sudah menjadi masalah sosial, yang juga terjadi di kota-kota besar Indonesia lainnya…..
Posted by senja on 10 Nov 2007 | Tagged as: media
Wikeennnnn lagiiii…apa yang anda lakukan di akhir minggu penuh hujan seperti sekarang ini??? Mungkin tidak bisa banyak jalan-jalan atau berkunjung ke rumah kerabat. Maklum, bagi yang rumahnya di Semarang-misalnya- hujan deras selama 10 menit saja akan menggenang beberapa ruas jalanan utama seperti Kaligawe dan Simpang 5. Untuk pengendara motor seperti saya, hal ini tentu saja sangat merugikan bagi perkembangan mesin dan kebersihan motor. Belum lagi kalo lampu lalin mati, wuih macet deh…
Jadi enaknya ngapain ya??? blogwalking??? baca buku?? ngopi di beranda rumah??. Paling enak sih baca buku sambil ditemani kopi anget dan sepiring kudapan sederhana seperti pisang goreng dan ketela rebus. Wuihhh sedep…bacaannya? ni saya mo ngasih beberapa rekomendasi. Siapa tau berguna bagi anda semua yang sedang nyari buku pengusir sepi dan pengisi luang..
1. Sastra, Perempuan, Seks oleh Katrin Bandel (Jalasutra, 2006).
Buku ini karangan dosen tamu kampus Sanata Darma Jogja (kampus ini kerap di singkat SADAR, bagi yang kuliah di Jogja pasti tau). Menurut saya, buku ini cukup bagus. Ada beberapa kritikan sastra yang cukup mengena dan reasonable. Bahasanya juga lugas dan cukup gampang dimengerti.
2. Setan Angka, Sebuah Petualangan Matematika oleh Hans Magnus Ezensberger (Transmedia, 1997).
Novel terjemahan ini cuku unik. Menceritakan seorang anak kecil yang sangat membenci matematika namun setiap tidurnya selalu didatangi mimpi oleh setan angka. Dalam mimpi itu berbagai rumus matematika diuraikan. Nah, karena saya juga nggak suka matematika jadi malah tertarik ma buku ini. Apalagi, ceritanya dilengkapi dengan gambar dan rumus-rumus angka yang ternyata jadi gampang dimengerti.
3. 168 Jam Dalam Sandera, Memoar Jurnalis Indonesia Yang Disandera di Irak oleh Meutya Hafid (Hikmah Memoar, 2007).
Seperti judulnya, buku ini memuat pengalaman Meutya, jurnalis Metro TV saat disandera penduduk Irak kala melakukan liputan jatuhnya rezim Saddam Husein. Bukunya cukup informatif semi novel. Ada keharuan dan ketegangan yang bercampur jadi satu. Tulisannya mengalir khas jurnalis ulung.
Nah, ini sekedar rekomendasi dari saya, silahkan di cari di toko buku terdekat jika ingin membelinya…
Oke, met wikennn semua …(padahal daku sendiri nggak pernah mengenal wiken..hiks hiks :p)
Posted by senja on 08 Nov 2007 | Tagged as: my opinion
Ternyata sesaat setelah postingan deklarasi BUKAN TIM MUSIMAN, banyak aneka pertanyaan yang masuk. Ya benar kami memang sedang mencurigai sebuah blog bernama Sayap Ade di sayapdotwordpressdotcom . Blog ini kami ketahui setelah melakukan kegiatan blog walking sekitar seminggu yang lalu. Blog dengan setting penderita leukimia berjenis kelamin perempuan tersebut kami sinyalir fiktif belaka. Padahal selain tidak mencantumkan warning bahwa isi blog itu hanya naskah drama atau skenario cerita, blog ini sudah banyak menarik simpati beberapa orang. Nah kami memberi waktu kepada anda sekalian untuk sekedar menengok blog itu terlebih dahulu sebelum kami membeberkan sejumlah fakta janggal yang bermuara pada satu kesimpulan bahwa blog itu fiktip.
Oke.. sudah???
Setelah kurang lebih seminggu meneliti dan menyelidiki, kami menemukan beberapa kejanggalan dan fakta tercecer yang sangat kait mengkait…
Posted by senja on 06 Nov 2007 | Tagged as: etc
Dengan ini kami resmikan tim bernama Bukan Tim Musiman yang sedang berusaha membongkar sebuah kebohongan publik yang menggunakan blog sebagai sarana penyebarluasan kebohongan.
Anggota tim
1. Senja yang lebih dikenal sebagai cewektulenkebangetan
2. Nico yang lebih dikenal sebagai tukangronda
Kami sedang menangani sebuah kasus perblog-an yang masih kami rahasiakan. Segera setelah yakin dan waktunya tepat kami akan mempublikasikannya. Oya, kami juga tidak menerima anggota baru untuk menghindarkan campur tangan dan pengaruh pihak luar. Apabila ada tim lain yang berdiri di luar kami, mohon jangan membuat nama yang sama agar tidak menimbulkan kebingungan.
Sekian dan terimakasih….kami sedang serius lhoooo
Tertanda
Senja
Nico