Thursday, November 15th, 2007
Daily Archive
Daily Archive
Posted by senja on 15 Nov 2007 | Tagged as: etc
Baru-baru ini ada sebuah film dokumenter sepakbola yang mampu menembus di beberapa gedung bioskop dan juga ditonton khalayak berbagai kota dan negara. Film tersebut berjudul The Jak. Seperti judulnya, film arahan Andi Bachtiar Yusuf ini menceritakan kelompok suporter The Jak atau yang juga kerap disebut Jakmania alias pendukung setia tim Persija si Macan Kemayoran.
Film ini juga sempat hampir tak bisa ditonton di Bandung yang notabene adalah home base Viking, kelompok suporter Persib Bandung. Viking dan Jakmania adalah suporter yang nyaris selalu bentrok kala Persija dan Persib bertemu di dalam kompetisi reguler.
Saya tak ingin menceritakan bagaimana film The Jak. Selain vcdnya sudah beredar dimana-mana, film ini juga sedang menjalani roadshow ke beberapa kota di Indonesia. Di Semarang sendiri The Jak sudah diputar untuk umum Selasa (13/11) kemarin di gedung perpustakaan Undip lantai 2, kampus Peleburan. 21 November mendatang, film produksi Bogalakon Pictures tersebut juga bakal mengikuti festival film di Paris, Perancis.
Ada sebuah pemandangan miris yang diceritakan dalam film itu yang merupakan fenomena lazim di kalangan suporter. Apalagi kalau bukan image suporter yang selalu rusuh, suka bentrok, kalau timnya kalah ngamuk dan lain-lain. Kita tentu belum lupa tragedi perusakan stadion Tambaksari Surabaya akibat amukan suporter Persebaya, Bonek beberapa waktu lalu. Dengan skala yang lebih kecil, hal serupa sempat terjadi kala panpel menunda pertandingan Persiba versus PSIS di Stadion Batang Jateng pada babak 8 besar Liga Indonesia 2006 lalu. Penonton mengamuk dan merusak seluruh fasilitas di stadion. Hal yang sama sering terjadi di setiap musim dan akhirnya menjadi tontonan biasa. Bahkan ada yang bilang bukan sepakbola Indonesia jika tidak ada berantemnya. Hihihihihihi….mungkin benar, namun toh dunia sepakbola Italia juga mengalami nasib yang sama. Artinya apa? Ini bukan problem kawasan tertentu, namun sudah menjadi kegelisahan umum.
Sesaat setelah kerusuhan di Surabaya oleh kelompok yang ditengarai Bonek kala itu, Metro TV mengangkat tema ini dalam todays dialog. Kalau tidak salah ingat, narasumbernya ada yang dari sosiolog. Apa kata pakar itu??? ia mengatakan bahwa kerusuhan suporter sepakbola seperti ini sebenarnya tidak bisa dilihat melulu melalui kacamata sepakbola (saja) namun juga harus dihubungkan dengan keadaan sosial dimana suporter itu tumbuh. Sepakbola yang kerap dicap sebagai olahraga rakyat, murah meriah, memang (mayoritas) diminati oleh masyarakat marginal atau kalangan bawah. Mereka adalah orang-orang yang tidak bisa menikmati hiburan kota besar seperti Jakarta atau Surabaya karena keterbatasan akses. Perkembangan kota sudah sangat jauh meninggalkan mereka. Mereka pun akhirnya mencari dunia mereka sendiri. Dan itu mereka temukan di sepakbola. Kala orang-orang kaya bisa menikmati segala fasilitas modern dan kemudian gaya hidup itu menjadi identitas mereka di kehidupan sosial, maka kaum marginal ini juga mendapatkan identitas dan merasa eksis di sepakbola dengan menjadi suporter. Tidak berlebihan memang pendapat ini. Tengok saja Surabaya atau Jakarta, sebagian besar ruangnya dikuasai oleh kaum berduit. Sedangkan bagi yang tidak punya akses, cukup hanya melongo saja. Orang-orang seperti inilah yang baru merasa punya eksistensi jika timnya bertanding. Mereka berbondong-bondong datang, menggunakan atribut kebesaran. Serasa mengusai area stadion. Saat eksistensi ini kemudian diganggu oleh orang lain. Maka terjadilah gesekan alias bentrokan untuk mempertahankan eksistensi ini. Begitu besar harapan orang terhadap tim-tim besar seperti Persija dan Persebaya—misalnya– terkadang juga berimbas pada tim itu sendiri. Saya sering mendengar, betapa pemain-pemain yang menjadi skuad tim ngetop ini sebenarnya memikul beban yang cukup besar karena menjadi sosok idola para suporternya yang punya harapan tinggi kepada tim ini untuk bisa selalu menang.
Nah, benang merah inilah yang coba dikupas oleh film The Jak. Dalam beberapa testimoni di film dokumenter berdurasi 79 menit ini, dikatakan bahwa Persija adalah sosok idola mereka. Menjadi tumpuan harapan bagi kaum marginal ini untuk bisa nonton setiap Bambang Pamungkas dkk main di Lebak Bulus. Mereka merasa tidak punya kebanggaan lain selain Persija. Dengan kaos oranye khas seragam Persija inilah mereka kemudian merasa eksis sebagai warga Jakarta. Hanya di hari saat Persija main, setelah itu mereka kembali pada garis dimana tidak punya akses apapun terhadap gedung-gedung pencakar langit, dunia hiburan dan fasilitas mewah lainnya.
Semakin tampaklah, bahwa fenomena kekerasan suporter sepakbola bukanlah semata-mata problem tentang timnya menang atau kalah, namun sudah menjadi masalah sosial, yang juga terjadi di kota-kota besar Indonesia lainnya…..