December 2007
Monthly Archive
Monthly Archive
Posted by senja on 29 Dec 2007 | Tagged as: my opinion
Tahun baru
Seperti pergantian hari biasa
Seperti perputaran jam biasa
Tidak ada apa-apa
Tidak bagaimana-bagaimana
Tidak kemana-mana
Biasa saja…
Posted by senja on 22 Dec 2007 | Tagged as: my opinion
ehmmmm…basi ya??? hahahaha. Tapi saya lagi pengen cuek dengan ke-basian. Tadi siang, sebelum menulis postingan ini tepatnya, saya bertemu dengan seorang WNI yang berkerja sebagai dosen sekaligus pelatih anggar di Malaysia. Sebut saja dia bernama “perantau”. Pertemuan kami memang tidak hendak membicarakan masalah politik dua negara tersebut tapi lebih pada olahraga anggar Jateng dalam kaitannya PON Kaltim 2008 mendatang. Tapi, apalah daya saya tergelitik juga untuk bertanya tentang sentimen Malaysia. Selama ini saya belum pernah berdialog langsung dengan orang yang berdomisili di negeri jiran ini, dan hanya memantau beritanya melalui media mainstream plus internet. Berikut petikan obrolan kami…
Senja penasaran (SP) : jadi anda selama ini berdomisili di Malaysia? lantas bagaimana membagi waktu dan perhatian dengan kegiatan olahraga di sini? (pertanyaan basa-basi)
Perantau (P) : ya memang tidak bisa terus-terusan di Indonesia, namun dalam setahun saya punya waktu libur 25 hari, plus juga liburan sekolah yang bisa saya gunakan untuk pulang ke Indonesia dan tentu saja mampir ke Semarang.
SP: emhh..maap agak melenceng, namun saya sangat ingin tahu bagaimana tanggapan orang Malaysia dengan protes orang-orang Indonesia yang akhir-akhir ini mengemuka seiring dengan banyaknya kebudayaan kita yang diklaim mereka?
P: di sana sama sekali tidak terasa jika sedang ada permasalahan seperti ini antara Malaysia dan Indonesia. Tidak seperti media di sini yang memberitakan secara besar-besaran, di sana sama sekali tidak ada.
SP: lantas? saya dengar media di Malaysia memang sangat dikendalikan oleh pemerintah?
P: saya hanya merasa, orang Indonesia sangat gampang di provokasi. Entah provokasi dari siapa, namun melihat responnya sangat terlihat, padahal masyarakat Malaysia biasa-biasa saja. Benar, media memang sangat dikendalikan oleh pemerintah, tidak sebebas di Indonesia, begitu juga dengan keadaan politiknya.
SP: ini kan sebenarnya akumulasi dari kekecewaan kita dengan apa yang sudah Malaysia lakukan. Mulai dari pencaplokan kepulauan, TKI, pengeroyokan wasit silat, klaim budaya dan sebagainya…
P: benar. Namun ada anggapan, ini yang saya tangkap, bahwa kita ini kan serumpun, jadi mungkin mereka juga menganggap budaya kita sama, jadi produk yang dihasilkan juga sama. Walaupun ternyata respon Indonesia tentu saja berbeda.
SP: orang-orang disana tau kan anda dari Indonesia? ada sentimen khusus nggak setelah banyak kejadian terjadi.
P: tau tapi tidak ada sentimen khusus. Aman-aman saja.
SP: bagaimana keadaan politik pasca penangkapan Anwar Ibrahim?
P: ya karena media di sana dikendalikan oleh pemerintah, ya seperti biasa-biasa saja. Namun dalam diskusi intern, masyarakat sana cukup kritis kok, tidak sedikit dari mereka yang mendukung perjuangan Anwar..
SP: maap, ada apa dengan orang Malaysia sehingga sering nyolong-nyolong? maap kasar.
P: hahahahaha….
……………………..
Obrolan terputus, waktu memisahkan kita…hiks hiks…
Pendapat perantau barusan, tentu saja bukan merupakan gambaran dari kondisi keseluruhan di sana. Sedikit rasa penasaran saya memang terobati dan melahirkan rasa penasaran-penasaran baru. Saya sendiri sebenernya cukup geram dengan aneka tindakan Malaysia yang senang meng-klaim. Tapi saya juga tak serta merta menyalahkan mereka. Bukankah kita juga tidak benar? hingga sedemikian lemah alias tak punya perlawanan diplomasi.
Huru hara di dunia maya, seolah semakin meneguhkan bahwa kita ini sedang putus asa dengan pemerintah kita sendiri. Sudah hilang kepercayaan. Percuma mengandalkan mereka di tingkat diplomasi sebagai penyambung lidah rakyat. Akhirnya…masing-masing orang menempuh jalannya sendiri untuk bisa sekedar “berteriak”. Lewat dunia maya, media mainstream atau sekedar bertanya dengan orang yang bermukim di negeri itu seperti yang barusan saya lakukan.
Di lain sisi, saya sering berpikir, bahwa kita sering mencoba untuk menembus tembok negara lain padahal kita juga tak bisa membobol tembok negeri sendiri. Kita tak bisa menjangkau pikiran para pemimpin. Bahkan untuk sekedar menitip pesan saja susah. Entah karena kita bisu atau mereka yang tuli…
Posted by senja on 17 Dec 2007 | Tagged as: my opinion
Manja
Kemanjaan
Bisa disebabkan karena kondisi lingkungan yang sarat fasilitas atau juga bawaan orok…
Saya sempat dimanja karena fasilitas….misalnya karena di rumah selalu ada yang bantu membuat saya hampir tidak pernah melakukan pekerjaan rumah. Beruntung selepas SMU saya lantas hijrah ke Jogjakarta. Ada banyak saudara di kota ini tapi ortu menginginkan saya untuk ngekost. Hidup di kost-kostan mau tak mau membuat semua harus dilakukan sendiri. Dari hal sepele seperti masang sprei kasur, nyapu, nyuci baju, setrika dan lain-lain. Walaupun ada jasa laundry tapi saya memang tidak pernah memanfaatkan fasilitas ini. Alasannya, saya kuatir baju saya bercampur dengan baju orang lain. Sampai akhirnya harus pindah ke Semarang, tuntutan untuk mengurus semuanya sendiri makin banyak. Jika sebelumnya hidup di kost-kostan, kini tinggal di rumah tanpa pembantu. Yang dikerjakan juga jadi tambah banyak. Dengan tuntutan pekerjaan yang lumayan padat, membuat kadang harus “lembur” untuk sekedar nyapu, nyuci baju dan ngepel rumah..itu pun dilakukan sepulang kantor….
Kemanjaan juga saya alami karena fasilitas yang melekat pada pekerjaan….
Maklum sebagai kuli tinta saya pun dibekali kartu pers. Kartu sakti kata banyak orang. Kartu pass untuk kemana-mana. Untuk nonton konser, untuk menghindari tilangan polisi dan lain sebagainya. Menyesatkan sebenarnya jika bergantung dengan kartu ini apalagi jika tidak dalam koridor menjalankan tugas jurnalistik. Saya biasanya langsung menyimpan di tas seusai liputan. Atau dimasukkan di sebalik baju agar tidak terlihat. Namun toh akal busuk kadang datang kala sedang diburu waktu alias deadline…
Deadline kadang menjadi kambing hitam mengapa saya sering ambil jalan pintas. Seperti melanggar lampu merah, ngebut, naik motor diatas trotoar dan banyak lagi. Disadari atau tidak keberanian untuk melanggar hukum dipengaruhi juga karena kartu pers ini. Sebenarnya, ini cukup menggangggu, tergantung dengan benda mati, manja karena punya sebuah kartu.
Pernah, saat itu pertandingan PSIS mengalami tunda beberapa menit karena bus tim tamu dilempar batu oleh oknum tak bertanggung jawab. Pertandingan molor membuat saya harus ngebut ke kantor. Sialnya sedikitnya ada 3 lampu merah menuju ke kantor. Di lampu merah kedua saya sudah tidak sabar lagi untuk tidak menerjang. Akhirnya setelah sempat berhenti beberapa menit begitu lalu lintas agak sepi saya pun menggeber motor dengan kecepatan maksimal. Saya nggak sadar kalau sedang dikejar oleh polisi. Polisi mengira saya ngebut karena ingin menghindari dia. Miskomunikasi. Entah mengapa hari itu saya lihai sekali. Baru menjelang beberapa meter menuju kantor, polisi berhasil menjajari saya. Saya masih saja nggak sadar. Akhirnya cek cok pun terjadi. Polisi menuduh saya kurang ajar karena melakukan pelanggaran dan mengelak tanpa rasa bersalah. Saya juga menuduh polisi kurang lihai sehingga saya nggak tahu kalau sedang dikejar. Permasalahan selesai setelah bertengkar 15 menit. Saya memang diijinkan untuk meneruskan perjalanan namun waktu terbuang itu cukup mengganggu. Intinya bukan pada punya kartu pers hidup jadi lebih mudah. Justru tidak disiplin, tidak sabar membuat hal yang gampang jadi lebih rumit.
Saya pun bertekad untuk tidak menggunakan kartu pers untuk kepentingan lolos dari kejaran hukum. Namun celaka lagi-lagi menghampiri. Plat nomor motor saya mati 2 tahun tanpa saya sadari. Begitu sadar, saya nggak punya banyak waktu untuk ngurus. Di sebuah malam saat akan ke balaikota Semarang, entah mengapa sial sedang menguntit saya. Seorang polisi yang tampaknya sedang pulang ke rumah setelah menjalankan tugas berbelok dan mengendarai motor di jalur persis di belakang motor saya. Duh, saya intip dari spion si polisi sudah “ngeh” kalo nopol motor saya mati. Dasar sial, dia pun memberhentikan si biru–panggilan untuk motor kesayangan. Singkat cerita motor saya dirampas dan bla bla. Saya tak membela diri. Memang salah, harus dihukum, mau apa lagi. Setelah itu, kelengkapan motor saya urus. Lengkap kini kecuali saya memang tidak memasang spion kiri. Wagu sih…
Sekarang, saya baru ngerasa deh…tertib, sabar, mentaati peraturan dan tidak menggunakan kartu pers sesuka hati justru bikin hidup lebih mudah. Lebih simple dan sederhana. Kini kalau keinginan untuk melanggar lalu lintas kumat, saya hanya bilang ke dalam diri sendiri bahwa jika saya sabar menanti lampu hijau berarti saya lulus level pertama ketertiban, kesabaran dan kemanjaan. Hal itu lebih membanggakan ketimbang cap aneh-aneh lainnya. Walau memang benar, 30 persen dari otak saya masih tersedia untuk tindakan-tindakan breaking the rule..tapi itu untuk KLB, alias kejadian luar biasa..kalau nggak…ya mending tertib, aman sentosa…..
Posted by senja on 07 Dec 2007 | Tagged as: resensi, my opinion
Martunis
Ingat nama ini?
Ya dia adalah salah satu korban tsunami yang ditemukan selamat 21 hari setelah bencana yang menghajar Aceh itu berlangsung.
Diantara ribuan korban tsunami, hanya Martunis-lah yang saat hari naas tersebut memakai pakaian timnas Portugal. Fotonya oleh fotografer asing lantas menyebar dengan cepat termasuk ke negara Potugal sana. Alhasil laki-laki kecil ini pun ngetop seiring dengan berita Aceh yang menjadi perbincangan dunia. Bahkan beberapa waktu kemudian Martunis sempat diundang ke Potugal untuk nonton langsung salah satu pertandingan negara ini dalam babak kualifikasi pra piala dunia. Tidak itu saja, sosok Martunis (sempat) seakan-akan menjadi bagian dari aksi sosial negara-negara asing dan juga olahraga sepakbola. Tidak hanya di Aceh namun juga di Indonesia pada umumnya.
Saya (mungkin) salah satu yang beruntung bisa bertemu dengan anak ini. Medio 2006 lalu kala mengikuti (dan liputan) FIFA WORLD CUP TROPHY TOUR BY COCA COLA di Jakarta pihak panitia mengundang Martunis dkk dalam acara ini. Entah mengapa panitia lantas mengundang mereka yang pasti saya jadi bisa sedikit berbincang dan berfoto bersama dengan Martunis. Berbincang dengan Martunis dan juga pendampingnya karena jaga-jaga jika redaktur menanyakan dan menyuruh saya membuat berita Martunis. Berfoto karena sekedar kenang-kenangan saja dan bahan dokumentasi saya.
Sepanjang acara, jujur perhatian saya tertuju pada sosok Martunis. Senyumnya manis, terlihat cukup cerdas dan komunikatif. Beberapa orang tampak sangat tertarik untuk sekedar menanyai Martunis dan foto bersama. Sayang terkadang ia sedikit ogah menjawab pertanyaan. Mungkin saat itu sudah ratusan pertanyaan singgah. Pendampingnya mengakui bahwa sejak pagi mereka sudah padat dengan acara. Tak heran jika Martunis dkk justru lebih tertarik bermain ketimbang serius menjawab aneka tanya. Saat itu saya hanya tertegun. Saya hanya merasa Martunis dkk sedang dieksploitasi (semoga dugaan ini salah) oleh sebuah industri. Saya tentu sangat senang jika Martunis ternyata juga bahagia bisa berkenalan dengan Cristiano Ronaldo (pemain timnas Portugal) dan bahkan melihat dari dekat pertandingan salah satu timnas terkuat di dunia ini. Saya pun bahagia jika Martunis bisa sesaat lupa dengan kondisi Aceh dan keluarganya yang menyedihkan pasca tsunami. Namun asumsi-asumsi ini muncul dibarengi dengan berbagai pertanyaan-pertanyaan aneh saya. “Apakah Martunis diberikan waktu yang leluasa untuk “sekedar” misalnya menjalankan kewajiban agamanya di sela-sela acara. Ataukah “Apakah orang-orang itu juga memberikan Martunis keleluasaan untuk memilih, dan menjalankan rutinitas sosial seperti kala ia di kampung halaman walaupun ia sedang tidak di Aceh?”. Pertanyaan sederhana ini saya pendam hingga sekarang. Bukan karena saya tidak berani menanyakannya. Saya hanya takut jika ternyata jawabannya tidak seperti yang saya inginkan. Kekhawatiran yang sama sebenarnya saya simpan dengan bantuan-bantuan asing di Aceh yang mengalir dari negara asing. Saya takut ini adalah bentuk “penjajahan” lain oleh negara besar kepada Indonesia. Aceh menjadi pintu bagi penjajahan baru. Menjadi pintu untuk menaklukkan Indonesia yang sedang di ujung bangkrut.
Sekarang sudah setahun lewat dari peristiwa itu. Tapi minggu-minggu ini ingatan saya kembali melayang ke sosok Martunis dan “martunis-martunis lainnya”. Berawal dari buku Pengakuan Bandit Ekonomi John Perkins *, Kelanjutan Kisah Petualangannya di Indonesia dan Negara Dunia Ketiga ** (ini adalah buku kedua dari penulis Confession Of An Economic Hitman). Buku penting ini sebenarnya sudah harus saya baca setahun yang lalu. Namun karena di kampus hanya ada satu buku dan saya selalu telat mendapatkan giliran meminjam maka baru kali ini saya membacanya. Itu pun bukan lantaran saya kena giliran pinjam, tapi karena buku kedua setelah confession pertama sudah terbit dan rasanya akan sangat rugi jika saya tidak membacanya. Oke, saya bohong. Sebenarnya bukan hanya karena selalu nggak dapat giliran pinjam, tapi saya khawatir isi buku ini bikin saya tambah marah dengan pemerintah Indonesia.
Ternyata dugaan saya benar. Maksudnya dugaan bahwa saya menjadi makin marah dengan pemerintahan republik ini….
Oke, saya nukilkan saja dari dari bab Mendulang Emas dari Tsunami-karena saya tidak yakin punya bahasa yang lebih baik lagi untuk menggambarkan kebobrokan ini.
“Pemerintahan Bush tidak menyia-nyiakan waktu. Sebulan setelah tsunami, tepatnya januari 2005, Washington membalik kebijakan Clinton pada 1999 yang memutuskan hubungan dengan militer Indonesia yang represif. Gedung putih mengirimkan peralatan militer senilai 1 juta dollar ke Jakarta. Pada 7 Februari 2005, The New York Times melaporkan: “Washington menyabet kesempatan yang muncul pasca tsunami…menlu Condoleza Rice mengambil langkah dengan memperkuat pelatihan Amerika terhadap pejabat Indonesia secara signifikan ..di Aceh, angkatan bersenjata Indonesia, yang selama 30 tahun memerangi pemberontakan separatis, mencapai kondisi prima sejak tsunami. Sepertinya, kepentingan terbesar angkatan bersenjata tak lain terus menghambat angkatan perang Gerakan Aceh Merdeka”. (halaman 53)
“Dari program radio tersebut juga diketahui bahwa setelah tsunami, sejumlah perusahaan kontruksi dan permesinan AS, melobi Bank Dunia dan lembaga “bantuan” lain untuk membangun jalan raya, yang utamanya akan menguntungkan industri minyak dan kayu”. (halaman 54)
Entahlah
Yang pasti Aceh–dan daerah-daerah lain yang dihisap oleh penjajah– memang bukan hanya menyimpan cerita-cerita romantis belaka. Namun juga seabrek kesedihan dan masalah. Dan saya tak bisa membayangkan bagaimana kesedihan yang disimpan oleh banyak propinsi kaya negeri ini. Setiap jengkalnya tak lepas dari incaran negara lain yang sama sekali tidak ingin Indonesia bermartabat. Kemudian pertayaanpun muncul….apakah harus dengan menggadaikan harga dini dan nurani untuk hidup dan mempertahankan di tanah ini?????. Dan tentang kesepakatan AS di UN Climate Chage Conference 2007 yang bakal memberikan bantuan untuk menghentikan pembalakan liar di Indonesia, InsyaAllah saya tidak mempercayainya…..
*penulis adalah mantan bandit ekonomi yang sejak 2004 lalu menuliskan buku yang mengungkap kejahatan korporatokrasi yaitu jaringan yang bertujuan untuk memetik laba dengan cara-cara korupsi, kolusi dan nepotisme dari negara dunia ketiga termasuk Indonesia. Ia pernah bekerja di perusahaaan konsultan MAIN di AS.
** Perkins, John. 2007. PENGAKUAN BANDIT EKONOMI JOHN PERKINS DAN KELANJUTAN KISAH PETUALANGANNYA DI INDONESIA DAN NEGARA DUNIA KETIGA. Jakarta Selatan: Ufuk Press.
***Terimakasih untuk kawan yang telah menjawab beberapa pertanyaan saya dan menjadi masukan yang berharga…
Posted by senja on 01 Dec 2007 | Tagged as: etc
Semalam, menjelang dini hari tepatnya, saya bertemu teman lama satu profesi di stasiun Tawang. Ia kuli tinta asal Jakarta yang sudah seminggu lebih berada di Kudus karena sang bunda meninggal dunia. Kami bertemu karena tiket kereta api Semarang-Jakarta-nya saya pegang….
Wajahnya kuyu, menahan lelah sekaligus kantuk…
Senja (S): Capek sekali ya????
Teman Senja (TS): Iya. Beberapa hari belakangan ini nggak tidur. Selasa minggu lalu dikabari ibu sudah nggak sadar. Sempet masuk rumah sakit selama 2 hari. Trus akhirnya dibawa pulang ke rumah lagi karena nggak ada perkembangan. Sampe rumah beberapa hari lalu meninggal. sebelumnya, aku sempet muter-muter ke semua apotek di Kudus, nyari obat….
S: Owww….(nggak ngerti mo ngomong apa)
TS: Obat-obatnya masih banyak yang utuh. Termasuk infus-infus belum kepakai, eh ibu udah meninggal duluan.
S: (diem)
TS: Senja orang tuanya masih lengkap?
S: Alhamdulillah masih
TS: Enak ya..
S: (bingung) Ya udah jangan sedih. Semua orang tua kan juga meninggal, waktunya aja yang nggak sama.
Obrolan berseling ke hal yang berhubungan dengan pekerjaan, sepakbola, Sea Games, menpora dan lain-lain.
TS: Sebenernya aku pengen banget punya kerjaan yang deket ma keluarga. Bisa deket ma ibu. Tapi belum deket ibu udah keburu meninggal.
S: Ya berarti sekarang enggak perlu deket lagi kan??
TS: Tetep masih pengen cari yang deket. Apalagi bapak masih ada. Tadi nyampai stasiun aku telpon rumah. Katanya rumah sepi. Yang pengajian dah pada pulang.
S: Tapi bapak (bapaknya dia, red.) kuat kan ditinggal ibu (ibunya dia, red.) ?
TS: Sedih nja. Tetep aja sedih. Semalam aku nangis, aku tau bapakku tau aku nangis, tapi dia nggak mau deketin aku. Aku tau karena dia juga sedih
Obrolan kembali melenceng ke hal lain. Tentang biaya hidup di Jakarta, sebagian duit yang ilang di ATM, mahalnya pesawat Jakarta-Semarang, Kudus yang nggak punya lapangan golf dan lain-lain.
S: Mungkin, makanya orang itu musti punya banyak anaknya biar nggak kesepian, kalau salah satu dari mereka meninggal?
TS: Iya bener. Aku 3 besaudara, masih ada 2 adek di rumah, tapi tetap aja kerasa sepi
S: oooo (padahal aku cuma 2 bersaudara)
TS: Lebaran besok dah nggak ada ibu lagi di rumah. Pantesan, waktu lebaran dulu, pas mo pulang aku diciumin, dipelukin ma ibu…sekarang, setelah ada peristiwa ini jadi inget lagi
S: (diem)
Dini hari tadi. Setelah ia naik kereta, saya pulang sendiri. Menyusuri kota lama, jalan Gajahmada, Simpang 5, Ngesrep, Tembalang. Dingin. Dan sebagian sedihnya masih terasa…