Friday, December 7th, 2007

Daily Archive

“Martunis”

Posted by senja on 07 Dec 2007 | Tagged as: resensi, my opinion

Martunis

Ingat nama ini?

Ya dia adalah salah satu korban tsunami yang ditemukan selamat 21 hari setelah bencana yang menghajar Aceh itu berlangsung.

Diantara ribuan korban tsunami, hanya Martunis-lah yang saat hari naas tersebut memakai pakaian timnas Portugal. Fotonya oleh fotografer asing lantas menyebar dengan cepat termasuk ke negara Potugal sana. Alhasil laki-laki kecil ini pun ngetop seiring dengan berita Aceh yang menjadi perbincangan dunia. Bahkan beberapa waktu kemudian Martunis sempat diundang ke Potugal untuk nonton langsung salah satu pertandingan negara ini dalam babak kualifikasi pra piala dunia. Tidak itu saja, sosok Martunis (sempat) seakan-akan menjadi bagian dari aksi sosial negara-negara asing dan juga olahraga sepakbola. Tidak hanya di Aceh namun juga di Indonesia pada umumnya.

Saya (mungkin) salah satu yang beruntung bisa bertemu dengan anak ini. Medio 2006 lalu kala mengikuti (dan liputan) FIFA WORLD CUP TROPHY TOUR BY COCA COLA di Jakarta pihak panitia mengundang Martunis dkk dalam acara ini. Entah mengapa panitia lantas mengundang mereka yang pasti saya jadi bisa sedikit berbincang dan berfoto bersama dengan Martunis. Berbincang dengan Martunis dan juga pendampingnya karena jaga-jaga jika redaktur menanyakan dan menyuruh saya membuat berita Martunis. Berfoto karena sekedar kenang-kenangan saja dan bahan dokumentasi saya.

Sepanjang acara, jujur perhatian saya tertuju pada sosok Martunis. Senyumnya manis, terlihat cukup cerdas dan komunikatif. Beberapa orang tampak sangat tertarik untuk sekedar menanyai Martunis dan foto bersama. Sayang terkadang ia sedikit ogah menjawab pertanyaan. Mungkin saat itu sudah ratusan pertanyaan singgah. Pendampingnya mengakui bahwa sejak pagi mereka sudah padat dengan acara. Tak heran jika Martunis dkk justru lebih tertarik bermain ketimbang serius menjawab aneka tanya. Saat itu saya hanya tertegun. Saya hanya merasa Martunis dkk sedang dieksploitasi (semoga dugaan ini salah) oleh sebuah industri. Saya tentu sangat senang jika Martunis ternyata juga bahagia bisa berkenalan dengan Cristiano Ronaldo (pemain timnas Portugal) dan bahkan melihat dari dekat pertandingan salah satu timnas terkuat di dunia ini. Saya pun bahagia jika Martunis bisa sesaat lupa dengan kondisi Aceh dan keluarganya yang menyedihkan pasca tsunami. Namun asumsi-asumsi ini muncul dibarengi dengan berbagai pertanyaan-pertanyaan aneh saya. “Apakah Martunis diberikan waktu yang leluasa untuk “sekedar” misalnya menjalankan kewajiban agamanya di sela-sela acara. Ataukah “Apakah orang-orang itu juga memberikan Martunis keleluasaan untuk memilih, dan menjalankan rutinitas sosial seperti kala ia di kampung halaman walaupun ia sedang tidak di Aceh?”. Pertanyaan sederhana ini saya pendam hingga sekarang. Bukan karena saya tidak berani menanyakannya. Saya hanya takut jika ternyata jawabannya tidak seperti yang saya inginkan. Kekhawatiran yang sama sebenarnya saya simpan dengan bantuan-bantuan asing di Aceh yang mengalir dari negara asing. Saya takut ini adalah bentuk “penjajahan” lain oleh negara besar kepada Indonesia. Aceh menjadi pintu bagi penjajahan baru. Menjadi pintu untuk menaklukkan Indonesia yang sedang di ujung bangkrut.

Sekarang sudah setahun lewat dari peristiwa itu. Tapi minggu-minggu ini ingatan saya kembali melayang ke sosok Martunis dan “martunis-martunis lainnya”. Berawal dari buku Pengakuan Bandit Ekonomi John Perkins *, Kelanjutan Kisah Petualangannya di Indonesia dan Negara Dunia Ketiga ** (ini adalah buku kedua dari penulis Confession Of An Economic Hitman). Buku penting ini sebenarnya sudah harus saya baca setahun yang lalu. Namun karena di kampus hanya ada satu buku dan saya selalu telat mendapatkan giliran meminjam maka baru kali ini saya membacanya. Itu pun bukan lantaran saya kena giliran pinjam, tapi karena buku kedua setelah confession pertama sudah terbit dan rasanya akan sangat rugi jika saya tidak membacanya. Oke, saya bohong. Sebenarnya bukan hanya karena selalu nggak dapat giliran pinjam, tapi saya khawatir isi buku ini bikin saya tambah marah dengan pemerintah Indonesia.

Ternyata dugaan saya benar. Maksudnya dugaan bahwa saya menjadi makin marah dengan pemerintahan republik ini….

Oke, saya nukilkan saja dari dari bab Mendulang Emas dari Tsunami-karena saya tidak yakin punya bahasa yang lebih baik lagi untuk menggambarkan kebobrokan ini.

“Pemerintahan Bush tidak menyia-nyiakan waktu. Sebulan setelah tsunami, tepatnya januari 2005, Washington membalik kebijakan Clinton pada 1999 yang memutuskan hubungan dengan militer Indonesia yang represif. Gedung putih mengirimkan peralatan militer senilai 1 juta dollar ke Jakarta. Pada 7 Februari 2005, The New York Times melaporkan: “Washington menyabet kesempatan yang muncul pasca tsunami…menlu Condoleza Rice mengambil langkah dengan memperkuat pelatihan Amerika terhadap pejabat Indonesia secara signifikan ..di Aceh, angkatan bersenjata Indonesia, yang selama 30 tahun memerangi pemberontakan separatis, mencapai kondisi prima sejak tsunami. Sepertinya, kepentingan terbesar angkatan bersenjata tak lain terus menghambat angkatan perang Gerakan Aceh Merdeka”. (halaman 53)

“Dari program radio tersebut juga diketahui bahwa setelah tsunami, sejumlah perusahaan kontruksi dan permesinan AS, melobi Bank Dunia dan lembaga “bantuan” lain untuk membangun jalan raya, yang utamanya akan menguntungkan industri minyak dan kayu”. (halaman 54)

Entahlah

Yang pasti Aceh–dan daerah-daerah lain yang dihisap oleh penjajah– memang bukan hanya menyimpan cerita-cerita romantis belaka. Namun juga seabrek kesedihan dan masalah. Dan saya tak bisa membayangkan bagaimana kesedihan yang disimpan oleh banyak propinsi kaya negeri ini. Setiap jengkalnya tak lepas dari incaran negara lain yang sama sekali tidak ingin Indonesia bermartabat. Kemudian pertayaanpun muncul….apakah harus dengan menggadaikan harga dini dan nurani untuk hidup dan mempertahankan di tanah ini?????. Dan tentang kesepakatan AS di UN Climate Chage Conference 2007 yang bakal memberikan bantuan untuk menghentikan pembalakan liar di Indonesia, InsyaAllah saya tidak mempercayainya…..

*penulis adalah mantan bandit ekonomi yang sejak 2004 lalu menuliskan buku yang mengungkap kejahatan korporatokrasi yaitu jaringan yang bertujuan untuk memetik laba dengan cara-cara korupsi, kolusi dan nepotisme dari negara dunia ketiga termasuk Indonesia. Ia pernah bekerja di perusahaaan konsultan MAIN di AS.

** Perkins, John. 2007. PENGAKUAN BANDIT EKONOMI JOHN PERKINS DAN KELANJUTAN KISAH PETUALANGANNYA DI INDONESIA DAN NEGARA DUNIA KETIGA. Jakarta Selatan: Ufuk Press.

***Terimakasih untuk kawan yang telah menjawab beberapa pertanyaan saya dan menjadi masukan yang berharga…