Manja

Kemanjaan

Bisa disebabkan karena kondisi lingkungan yang sarat fasilitas atau juga bawaan orok…

Saya sempat dimanja karena fasilitas….misalnya karena di rumah selalu ada yang bantu membuat saya hampir tidak pernah melakukan pekerjaan rumah. Beruntung selepas SMU saya lantas hijrah ke Jogjakarta. Ada banyak saudara di kota ini tapi ortu menginginkan saya untuk ngekost. Hidup di kost-kostan mau tak mau membuat semua harus dilakukan sendiri. Dari hal sepele seperti masang sprei kasur, nyapu, nyuci baju, setrika dan lain-lain. Walaupun ada jasa laundry tapi saya memang tidak pernah memanfaatkan fasilitas ini. Alasannya, saya kuatir baju saya bercampur dengan baju orang lain. Sampai akhirnya harus pindah ke Semarang, tuntutan untuk mengurus semuanya sendiri makin banyak. Jika sebelumnya hidup di kost-kostan, kini tinggal di rumah tanpa pembantu. Yang dikerjakan juga jadi tambah banyak. Dengan tuntutan pekerjaan yang lumayan padat, membuat kadang harus “lembur” untuk sekedar nyapu, nyuci baju dan ngepel rumah..itu pun dilakukan sepulang kantor….

Kemanjaan juga saya alami karena fasilitas yang melekat pada pekerjaan….

Maklum sebagai kuli tinta saya pun dibekali kartu pers. Kartu sakti kata banyak orang. Kartu pass untuk kemana-mana. Untuk nonton konser, untuk menghindari tilangan polisi dan lain sebagainya. Menyesatkan sebenarnya jika bergantung dengan kartu ini apalagi jika tidak dalam koridor menjalankan tugas jurnalistik. Saya biasanya langsung menyimpan di tas seusai liputan. Atau dimasukkan di sebalik baju agar tidak terlihat. Namun toh akal busuk kadang datang kala sedang diburu waktu alias deadline…

Deadline kadang menjadi kambing hitam mengapa saya sering ambil jalan pintas. Seperti melanggar lampu merah, ngebut, naik motor diatas trotoar dan banyak lagi. Disadari atau tidak keberanian untuk melanggar hukum dipengaruhi juga karena kartu pers ini. Sebenarnya, ini cukup menggangggu, tergantung dengan benda mati, manja karena punya sebuah kartu.

Pernah, saat itu pertandingan PSIS mengalami tunda beberapa menit karena bus tim tamu dilempar batu oleh oknum tak bertanggung jawab. Pertandingan molor membuat saya harus ngebut ke kantor. Sialnya sedikitnya ada 3 lampu merah menuju ke kantor. Di lampu merah kedua saya sudah tidak sabar lagi untuk tidak menerjang. Akhirnya setelah sempat berhenti beberapa menit begitu lalu lintas agak sepi saya pun menggeber motor dengan kecepatan maksimal. Saya nggak sadar kalau sedang dikejar oleh polisi. Polisi mengira saya ngebut karena ingin menghindari dia. Miskomunikasi. Entah mengapa hari itu saya lihai sekali. Baru menjelang beberapa meter menuju kantor, polisi berhasil menjajari saya. Saya masih saja nggak sadar. Akhirnya cek cok pun terjadi. Polisi menuduh saya kurang ajar karena melakukan pelanggaran dan mengelak tanpa rasa bersalah. Saya juga menuduh polisi kurang lihai sehingga saya nggak tahu kalau sedang dikejar. Permasalahan selesai setelah bertengkar 15 menit. Saya memang diijinkan untuk meneruskan perjalanan namun waktu terbuang itu cukup mengganggu. Intinya bukan pada punya kartu pers hidup jadi lebih mudah. Justru tidak disiplin, tidak sabar membuat hal yang gampang jadi lebih rumit.

Saya pun bertekad untuk tidak menggunakan kartu pers untuk kepentingan lolos dari kejaran hukum. Namun celaka lagi-lagi menghampiri. Plat nomor motor saya mati 2 tahun tanpa saya sadari. Begitu sadar, saya nggak punya banyak waktu untuk ngurus. Di sebuah malam saat akan ke balaikota Semarang, entah mengapa sial sedang menguntit saya. Seorang polisi yang tampaknya sedang pulang ke rumah setelah menjalankan tugas berbelok dan mengendarai motor di jalur persis di belakang motor saya. Duh, saya intip dari spion si polisi sudah “ngeh” kalo nopol motor saya mati. Dasar sial, dia pun memberhentikan si biru–panggilan untuk motor kesayangan. Singkat cerita motor saya dirampas dan bla bla. Saya tak membela diri. Memang salah, harus dihukum, mau apa lagi. Setelah itu, kelengkapan motor saya urus. Lengkap kini kecuali saya memang tidak memasang spion kiri. Wagu sih…

Sekarang, saya baru ngerasa deh…tertib, sabar, mentaati peraturan dan tidak menggunakan kartu pers sesuka hati justru bikin hidup lebih mudah. Lebih simple dan sederhana. Kini kalau keinginan untuk melanggar lalu lintas kumat, saya hanya bilang ke dalam diri sendiri bahwa jika saya sabar menanti lampu hijau berarti saya lulus level pertama ketertiban, kesabaran dan kemanjaan. Hal itu lebih membanggakan ketimbang cap aneh-aneh lainnya. Walau memang benar, 30 persen dari otak saya masih tersedia untuk tindakan-tindakan breaking the rule..tapi itu untuk KLB, alias kejadian luar biasa..kalau nggak…ya mending tertib, aman sentosa…..