ehmmmm…basi ya??? hahahaha. Tapi saya lagi pengen cuek dengan ke-basian. Tadi siang, sebelum menulis postingan ini tepatnya, saya bertemu dengan seorang WNI yang berkerja sebagai dosen sekaligus pelatih anggar di Malaysia. Sebut saja dia bernama “perantau”. Pertemuan kami memang tidak hendak membicarakan masalah politik dua negara tersebut tapi lebih pada olahraga anggar Jateng dalam kaitannya PON Kaltim 2008 mendatang. Tapi, apalah daya saya tergelitik juga untuk bertanya tentang sentimen Malaysia. Selama ini saya belum pernah berdialog langsung dengan orang yang berdomisili di negeri jiran ini, dan hanya memantau beritanya melalui media mainstream plus internet. Berikut petikan obrolan kami…

Senja penasaran (SP) : jadi anda selama ini berdomisili di Malaysia? lantas bagaimana membagi waktu dan perhatian dengan kegiatan olahraga di sini? (pertanyaan basa-basi)

Perantau (P) : ya memang tidak bisa terus-terusan di Indonesia, namun dalam setahun saya punya waktu libur 25 hari, plus juga liburan sekolah yang bisa saya gunakan untuk pulang ke Indonesia dan tentu saja mampir ke Semarang.

SP: emhh..maap agak melenceng, namun saya sangat ingin tahu bagaimana tanggapan orang Malaysia dengan protes orang-orang Indonesia yang akhir-akhir ini mengemuka seiring dengan banyaknya kebudayaan kita yang diklaim mereka?

P: di sana sama sekali tidak terasa jika sedang ada permasalahan seperti ini antara Malaysia dan Indonesia. Tidak seperti media di sini yang memberitakan secara besar-besaran, di sana sama sekali tidak ada.

SP: lantas? saya dengar media di Malaysia memang sangat dikendalikan oleh pemerintah?

P: saya hanya merasa, orang Indonesia sangat gampang di provokasi. Entah provokasi dari siapa, namun melihat responnya sangat terlihat, padahal masyarakat Malaysia biasa-biasa saja. Benar, media memang sangat dikendalikan oleh pemerintah, tidak sebebas di Indonesia, begitu juga dengan keadaan politiknya.

SP: ini kan sebenarnya akumulasi dari kekecewaan kita dengan apa yang sudah Malaysia lakukan. Mulai dari pencaplokan kepulauan, TKI, pengeroyokan wasit silat, klaim budaya dan sebagainya…

P: benar. Namun ada anggapan, ini yang saya tangkap, bahwa kita ini kan serumpun, jadi mungkin mereka juga menganggap budaya kita sama, jadi produk yang dihasilkan juga sama. Walaupun ternyata respon Indonesia tentu saja berbeda.

SP: orang-orang disana tau kan anda dari Indonesia? ada sentimen khusus nggak setelah banyak kejadian terjadi.

P: tau tapi tidak ada sentimen khusus. Aman-aman saja.

SP: bagaimana keadaan politik pasca penangkapan Anwar Ibrahim?

P: ya karena media di sana dikendalikan oleh pemerintah, ya seperti biasa-biasa saja. Namun dalam diskusi intern, masyarakat sana cukup kritis kok, tidak sedikit dari mereka yang mendukung perjuangan Anwar..

SP: maap, ada apa dengan orang Malaysia sehingga sering nyolong-nyolong? maap kasar.

P: hahahahaha….

……………………..

Obrolan terputus, waktu memisahkan kita…hiks hiks…

Pendapat perantau barusan, tentu saja bukan merupakan gambaran dari kondisi keseluruhan di sana. Sedikit rasa penasaran saya memang terobati dan melahirkan rasa penasaran-penasaran baru. Saya sendiri sebenernya cukup geram dengan aneka tindakan Malaysia yang senang meng-klaim. Tapi saya juga tak serta merta menyalahkan mereka. Bukankah kita juga tidak benar? hingga sedemikian lemah alias tak punya perlawanan diplomasi.

Huru hara di dunia maya, seolah semakin meneguhkan bahwa kita ini sedang putus asa dengan pemerintah kita sendiri. Sudah hilang kepercayaan. Percuma mengandalkan mereka di tingkat diplomasi sebagai penyambung lidah rakyat. Akhirnya…masing-masing orang menempuh jalannya sendiri untuk bisa sekedar “berteriak”. Lewat dunia maya, media mainstream atau sekedar bertanya dengan orang yang bermukim di negeri itu seperti yang barusan saya lakukan.

Di lain sisi, saya sering berpikir, bahwa kita sering mencoba untuk menembus tembok negara lain padahal kita juga tak bisa membobol tembok negeri sendiri. Kita tak bisa menjangkau pikiran para pemimpin. Bahkan untuk sekedar menitip pesan saja susah. Entah karena kita bisu atau mereka yang tuli…