January 2008
Monthly Archive
Monthly Archive
Posted by senja on 29 Jan 2008 | Tagged as: my opinion
Berita kematian Soeharto, sedikit banyak memberikan keuntungan kepada segelintir orang yang senang memperhatikan media. Bagaimana sebuah peristiwa besar yang sama namun diberitakan berbeda dalam rangka penyebaran opini publik. Ambil saja dua media televisi yang besar yakni SCTV dan RCTI.
SCTV dengan “arifnya” menonjolkan pemberitaan yang mengedepankan pesan perdamaian yakni dengan melupakan segala kesalahan Pak Harto yang dalam kurun 10 tahun belakangan ini kasus hukumnya tidak bisa ditangani secara tuntas. Untuk memperkuat misi ini, SCTV menggandeng beberapa tokoh “moderat” untuk mengomentari peristiwa kematian Pak Harto. Sebut saja, Amien Rais yang walaupun pengkritik setia Orba, beberapa waktu belakangan justru getol menyuarakan isu pengampunan kepada Pak Harto karena perangkat hukum Indonesia yang tidak tegas. SCTV kemudian juga menggandeng narasumber Emha Ainun Najib dengan pertimbangan bahwa ia—plus beberapa elit lain– adalah orang yang sempat dimintai pertimbangan ayah 6 anak itu di detik-detik sebelum lengser pada 1998 lalu. Emha memang kritis namun pendapatnya justru sangat “status quo” khas orang Jawa.
Menariknya, dalam beberapa reportase langsung sesaat setelah kematian Pak Harto, reporter Bayu Sutiyono, dengan semangatnya mengajak seluruh rakyat Indonesia untuk memaafkan segala kesalahan presiden kedua RI ini. Terlepas apakah mengajak publik untuk memaafkan kesalahan Pak Harto adalah tindakan yang dibenarkan ato/tidak, namun kegiatan memberi maaf adalah aktivitas yang sangat amat pribadi dalam hubungan antar manusia. Saya kemudian mengecek beberapa paket liputan SCTV baik di liputan6 maupun liputan khusus ternyata tidak ada satupun yang membahas tentang perbedaan prosesi pemakaman Pak Harto dengan sang proklamator Bung Karno secara intens.
Oke kita beralih ke RCTI. Berita sesaat setelah kematian Pak Harto tidak banyak berbeda dengan tv-tv lain. Namun sehari setelahnya atau beberapa jam setelah pemakaman di Astana Giri Bangun, tampak benar perbedaan liputannya. Di paket khusus “Indonesia Pasca Soeharto”, RCTI menampilkan kesaksian salah satu dokter Bung Karno saat dirawat di RSPAD menjelang ajal. Dia menyampaikan dengan gamblang betapa buruknya fasilitas yang diterima Sang Putra Fajar itu. Bahkan dengan detail, ia menguraikan fasilitas apa saja yang diperoleh Bung Karno. Dari sekian perawatan yang diterima, hanya alat rekam jantung saja yang berkualitas nomor satu. Kegagalan fungsi ginjal yang seharusnya sejak awal sudah bisa diprediksi dan diberikan perawatan juga alpa ditindaklanjuti. Bahkan narasumber ini lupa namanya juga menceritakan bagaimana obat-obatan yang seharusnya di berikan justru tidak dikomsumsi Bung Karno, terbukti saat Bung Karno meninggal obat-obat itu masih utuh di dalam lemari. Serentetan fakta ini sudah berbicara sangat banyak tentang kontoversi pemakaman Pak Harto yang dilakukan demikian “agung” hingga melibatkan Presiden SBY, Wakil Presiden JK, para menteri, dan panglima AD, AU dan AL. RCTI juga melakukan wawancara langsung dengan pengamat komunikasi politik Effendi Gozali (UI) dan Prof. Kacung Marijan (Unair).
Tulisan ini tidak hendak mengungkit bagaimana perlakuan Bung Karno dan Pak Harto. Sudah banyak tulisan yang mengupas masalah ini, seperti yang diturunkan Jawa Pos tanggal 28-29 Januari. Ulasan ini hanya hendak memberikan gambaran betapa media sangat tidak bebas nilai namun sarat nilai. Media adalah sarana pertarungan ideologi yang ujung-ujungnya merujuk pada kepentingan politik dan ekonomi media itu sendiri. Hingga kini saya masih menelusuri siapa saja yang duduk di jajaran direksi RCTI dan SCTV. Belakangan–terutama saat Piala Dunia lalu–di SCTV ada nama Siti Hedijati (Titik). Sedangkan RCTI yang tergabung dalam Media Citra Nusantara, berdiri di bawah PT Bimantara Citra, tbk yang kalau tidak salah dimiliki oleh Bambang Trihatmojo. Namun saya tidak menemukan nama Bambang di jajaran direksinya. Jadi mengapa RCTI dan SCTV membingkai dua peristiwa tersebut dengan sangat berbeda?????? perlu penelusuran lebih lanjut.
Posted by senja on 24 Jan 2008 | Tagged as: my opinion
Lagi eneg, empet, sebel, mumet. Bukan sama seseorang tapi sama sebuah lembaga pendidikan yang terhormat Universitas Diponegoro Semarang Jawa Tengah Indonesia. Apa pasal?? karena saya dikecewakan saat raga dan hati ini tak ingin menerima penolakan.
Di saat matahari siang yang amat sangat menyengat, saya berduyun-duyun ke perpustakaan FISIP Undip untuk meminjam beberapa buku super penting untuk kelanjutan hidup. Setelah meneliti rak demi rak, deret demi deret, buku demi buku akhirnya ketemulah kitab berguna yang saya inginkan. Dengan percaya diri penuh dan senyum menyembul di wajah yang kusut masai saya membawa 2 buku tersebut ke bagian peminjaman. Korek di korek, cari di cari, nama saya tidak ada. Lho kok?? padahal jelas-jelas saya sudah membawa kartu tanda peminjaman, beberapa tahun lalu pun saya juga berhasil membawa pulang beberapa buku sebagai tanda saya sah sebagai anggota perpustakaan FISIP. Olalalalalalala, ternyata eh ternyata ujung-ujungnya saya tidak diizinkan untuk meminjam dan hanya boleh membaca di tempat terkutuk itu. Alasannya, cukup tidak masuk akal. Pertama karena jurusan yang saya huni sekarang tidak dalam lingkup perpustakaan FISIP UNDIP. Kedua, walau saya sudah pernah berhasil meminjam namun itu lama sekali. Ketiga, kesalahan petugas terdahulu yang sudah mengijinkan saya pinjam adalah kesalahan yang harus dimaafkan dan dilupakan selanjutnya tidak boleh diungkit-ungkit lagi.
Karena saya masih ngeyel, dengan mengatakan bahwa sebelumnya saya sudah pernah meminjam dan dalam kartu tidak ada syarat bahwa kartu ini bakal kadaluarsa maka saya dianjurkan untuk menghadap kepala perpustakaan. Kepada ibu yang terhormat itu, saya menyampaikan segala keluh kesah dan problem yang sedang dihadapi. Jawaban si ibu ini justru makin membuat saya kaget dan lalu naik sedikit darah. Katanya, saya tidak boleh meminjam karena jurusan saya tidak membuka jalur kerjasama dengan perpustakaan FISIP. HAH??????
Ibu yang cantik lagi budiman, apa anda lupa, BAHWA JURUSAN YANG SAYA HUNI BERADA DI BAWAH FAKULTAS YANG SAMA DENGAN PERPUSTAKAAN YANG ANDA PIMPIN, DENGAN UNIVERSITAS YANG SAMA WALAU BERBEDA LOKASI/ GEDUNG DAN DIPIMPIN OLEH REKTOR YANG SAMA. APAKAH ANDA LUPA, KORPS KITA DAN SELURUH MAHASIWA DI UNIVERSITAS INI SAMA DENGAN PERPUSTAKAAN YANG ANDA PIMPIN. APAKAH ANDA LUPA WOOOOOIIIIIIIIIIII!!!!!!!!!!
TENANG…
Hujatan itu hanya saya telan lagi. Saya harus sabar, tenang, sareh, eling. Tidak boleh emosi karena kami bakal terlibat hubungan intens selama beberapa bulan hingga genderang perang padam. Lantas bagaimana agar saya bisa meminjam buku di perpustakaan terhormat ini ibuku sayang???? Dengan kewibawaan penuh, dia menjawab. “Anda harus mendapatkan memo dari ketua jurusan anda agar ada yang bertanggung jawab secara penuh, tanpa itu anda tidak boleh membuat kartu anggota sebagai syarat peminjaman buku. Anda mengerti??” . YA SAYA MENGERTI……………..weits, belum selesai, si ibu kembali menyeringai. “Lebih baik, memonya diurus besok saja karena siang ini perpustakaan hampir tutup”. WHAT????
Kalau sedang waras, pasti sudah saya obrak abrik meja ibu tersebut. Namun baru saja niat itu muncul, saya teringat pepatah agung “Dimana bumi dipijak, disitulah langit dijunjung”.
Huh….
Dulu, dahulu kala…..di kampus tercinta ini semua mahasiswa dari jurusan dan fakultas manapun boleh meminjam buku di perpustakaan pusat yang ada di Condong Catur. Memang harus membuat kartu baru, namun itu tidak memakan waktu lama. Tinggal isi ini dan itu, beres deh. Di perpustakaan UGM pun seperti itu, walau harus membuat kartu anggota dengan membayar namun mahasiwa dari luar kampus itu boleh meminjam literatur. Tidak dipersulit dan jelas, jelas, jelas menguntungkan.
Saya tidak tau apa yang terjadi dengan kampus ini. Tapi okelah, beribu rintangan akan kutaklukkan, seluas lautan akan ku seberangi. Ibu kepala perpustakaan yang saya hormati, tunggu di situ, besok saya akan kembali dengan memo dari jurusan. Ke ujung dunia pun akan kukejar!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
Posted by senja on 24 Jan 2008 | Tagged as: media
Dua hari yang lalu, sebuah kereta bermuatan solar anjlok di sebuah daerah dan menyebabkan tangki-nya terguling ke sebuah area persawahan penduduk. Solar beribu-ribu liter itu pun tumpah ruah. Masyarakat sekitar pun serta merta mengumpulkan tumpahan solar tersebut. Bahkan ada seorang ibu yang berhasil menadah hingga beberapa liter ke dalam wadah-wadah yang ia jajar. Katanya, solar temuan jatuh dari langit itu bakal ia jual lagi. Uangnya akan dipakai untuk membiayai hidup sehari-hari termasuk membeli beras dan lain-lain.
Di satu sisi, anjloknya kereta bermuatan solar ini membuat sejumlah aparat terkait harus repot membetulkan rel dan mengevakuasi bangkai kereta. Oya, si tengah keriangan puluhan warga yang memunguti solar di areal perwahan itu, ada petani yang hanya bisa mengelus dada. Ia adalah pemilih sawah yang sudah tercemari solar dan tanahnya diinjak-injak warga. Sawah yang masih ditanami padi menghijau itu terancam tidak akan bisa ditanami hingga 3 tahun mendatang. Kerugian yang sudah terlihat di depan mata adalah ia bakal gagal panen musim ini. Pertama, karena solarnya sudah menjadi pupuk kematian yang mencemari seluruh areal. Dan diperparah dengan rusaknya lahan karena diinjak oleh para pendulang solar hingga tak berbentuk lagi. Maksud hati sih ingin minta ganti rugi, namun kepada siapa? kepada KAI? suatu hal yang mustahil. Atau kepada para pendulang solar? lebih tidak mungkin lagi karena kondisi ekonomi mereka juga tak lebih baik darinya….
-Disarikan dari berita Reportase Sore TransTV-
Posted by senja on 17 Jan 2008 | Tagged as: etc
“Bubarkan saja sepakbola di Indonesia. Di Kediri panpel tidak siap, keamanan tidak tegas, pemain aleman, official maunya menang sendiri. Qua vadis sepakbola Indonesia?”+62811xxxxx
“Malam non Senja, pengin dapat berita menarik tentang wasit ga? Hubungi sumber berita, mantan komisi wasit PSSI, xxxxxx, no hp xxxxxx”. +62856xxxxxx
Itulah bunyi SMS yang masuk ke HP saya sesaat setelah siaran langsung ANTV pertandingan 8 besar antara Arema dan Persiwa di Stadion Brawijaya Kediri usai. Saya hanya manggut-manggut membacanya. Terlepas ada konspirasi apa yang sedang terjadi dalam pertandingan “penting” tersebut namun hal ini menjadi potret nyata bangsa Indonesia yang tidak pernah belajar dari kesalahan.
Saya ingat betul, bahwa kompetisi Liga Indonesia babak 8 besar musim lalu juga diwarnai oleh kejadian yang hampir serupa yaitu perusakan stadion yang berbuntut penundaan pertandingan. Saat itu, Stadion Muh. Sarengat Batang menjadi stadion pendamping grup A yang berlaga di Solo. Batang menjadi tuan rumah pertandingan PSIS melawan Persiba berbarengan dengan Stadion Manahan yang menjadi Persik dan Arema. Pertandingan dilakukan berbarengan di tempat terpisah agar terhindar dari aksi permainan “pengaturan skor”. Penonton pertandingan PSIS kontra Persiba luar biasa banyaknya sehingga stadion tak kuat menampung massa yang luber hingga berada di tepi lapangan. Kendati pihak keamanan dan panpel menjamin keamanan tim dan pemain selama pertandingan hingga usai, namun Persiba menolak melakoni pertandingan. Molor beberapa menit membuat panpel Solo dan Arema juga ogah melakoni laga karena pemain sudah “dingin” akibat terlampau lama menunggu kick off. Batalnya pertandingan Batang membuat ribuan penonton ngamuk. Mereka merangsek masuk stadion dan merusak semua perangkat stadion. Kaca-kaca loket dipecah dengan batu dan barang-barang yang ada di sekitar stadion. Gawang dan papan reklame dibakar massa. Penonton di lapangan melakukan pelemparan ke tribun, sebaliknya di tribun pun tak kalah ramai. Kursi dan apapun yang ada dirusak. Pemain diamankan ke ruang ganti. Panpel dan BLI di buru massa. Siapapun yang memakai seragam panpel di kejar untuk dimintai pertanggungjawaban tiket yang sudah terlanjur dibayar. Penonton kecewa karena pertandingan urung digelar. Setelah chaos usai, kami (pemain dan pewarta) sukses dievakuasi ke hotel dengan melewati “pagar hidup” yang dibuat ratusan suporter PSIS. Akhirnya pertandingan yang tertunda bisa dilanjutkan keesokan harinya dengan pengamanan ekstra ketat.
Sebelum mendapatkan kehormatan menjadi tuan rumah babak 8 besar, Stadion Muh. Sarengat tidak pernah menggelar pertandingan skala besar yang serupa. Paling banter, stadion ini menampung penonton untuk menyaksikan partai Persibat Batang yang berlaga di kompetisi divisi I.
Jika panpel dan BLI kala itu jeli dan “berpikir sehat”. Tidak seharusnya stadion kebanggaan Batang ini menjadi tuan rumah. Pertama, kapasitas stadion tidak memenuhi syarat. Stadion ini hanya dilengkapi 1 sisi tribun yang mungkin hanya menampung 1 -2 ribu penonton. Sisanya hanyalah tempat berdiri penonton yang dibatasi dengan pagar melingkar memutari stadion. Kendati kualitas rumput dan lapangan sangat memadai karena stadion ini tergolong baru namun tetap saja tak layak. BLI seharusnya memikirkan juga “magnet” pertandingan ini akan sangat besar. Pasalnya, PSIS adalah satu-satunya tim Jateng yang lolos 8 besar. Stadion pasti tidak akan kuat menampung ribuan penonton Semarang dan sekitar Batang-Pekalongan.
Kedua, stadion tidak dilengkapi sentelban. Sentelban adalah tempat steril antara lapangan dan tribun penonton. Kendati sepele, namun fasilitas ini cukup penting. Bagi stadion yang dibangun dengan konsep integratif, sentelban kerap diubah atau digunakan sebagai lintasan lari seperti yang terlihat di Stadion Manahan dan Kanjuruhan Malang atau dalam skala sederhana diterapkan pula di Stadion Jatidiri Semarang. Adanya sentelban memiliki beberapa keuntungan sekaligus. Satu, pemain akan leluasa melakukan lemparan ke dalam, tendangan pojok dan aksi pengamanan bola lainnya. Dua, sentelban menjadi daerah ring terdalam pasukan pengamanan agar jika tejadi sesuatu yang tidak diinginkan lapangan masih bisa dijaga. Misalnya, jika terjadi amukan penonton yang memaksa masuk ke arena pertandingan. Ketiga, lebarnya sentelban membuat calon oknum yang tak bertanggungjawab tidak bisa leluasa melemparkan benda ke lapangan karena terbatasnya jangkauan. Ketiga, stadion tidak dilengkapi lampu stadion yang memadai. Kendati pertandingan memang dilakukan pada sore hari yang notabene tidak memerlukan lampu namun alat penerangan yang maksimal perlu diperhatikan sebagai langkah antisipasi. Dengan kondisi stadion yang jauh dari standar ini, maka konsekuensinya adalah aparat keamanan harus siaga 3 kali lipat demi mengamankan pertandingan besar yang menyedot perhatian penggila bola.
Walaupun dipicu oleh hal yang berbeda, namun kondisi stadion Brawijaya Kediri turut memperkeruh suasana pertandingan Arema kontra Persiwa. Berawal dianulirnya 3 gol Arema oleh wasit Jajat Sudrajat penonton pun ngamuk. Aksi pertama adalah pemukulan hakim garis Yuli Suratno oleh penonton yang nyelonong masuk lapangan, kemudian di lanjutkan dengan aksi lempar batu sembunyi tangan penonton ke arena pertandingan. Kerusuhan terjadi lagi kala asisten wasit dipukul penonton yang turun ke lapangan. Situasi tambah kacau karena penonton lain berebut masuk. Pertandingan pun dihentikan pada menit ke-71.
Stadion Brawijaya diakui memang lebih baik daripada stadion Batang. Namun kondisinya masih di bawah standar. Jika, pelajaran laga PSIS versus Persiba bisa dijadikan pelajaran mungkin kerusuhan hingga menyebabkan pertandingan dihentikan dapat dihindari. Dalam kondisi seperti ini, penghentian pertandingan bakal mempengaruhi gelaran seluruhnya. Istirahat sehari dan kemudian melajutkan laga lagi, untuk pemain sangat merugikan karena berhubungan dengan massa recovery dan kebugaran. Padahal hasil satu pertandingan sedikit banyak bakal menjadi pertimbangan ataupun kalkulasi kekuatan untuk tim lawan baik dalam satu grup atau grup lain.
Di luar itu semua, peristiwa ini juga makin meneguhkan anggapan bahwa sepakbola Indonesia tidak akan maju atau jalan di tempat. Industri ini bakal mengalami kemunduran dan kesuraman. Hal ini akan terus berlangsung karena sepakbola justru dirusak oleh orang-orang “dalam” itu sendiri. Dirusak oleh pihak-pihak yang seharusnya punya tanggungjawab lebih untuk memajukan olahraga rakyat ini.
Posted by senja on 14 Jan 2008 | Tagged as: etc
Akhirnya saya kembali dari “liburan”selama beberapa hari belakangan ini. Segar dan mencerahkan setelah sekian lama sengaja tidak berhadapan dengan internet, YM, dan blog. Sedikit melegakan setelah sekian lama sengaja tak lagi bergumul dengan deadline dan block note. Kini saya sudah siap dengan “proyek baru” yang harus selesai tahun ini. Proyek idaman yang sudah sengaja dikorbankan beberapa tahun belakangan. Semoga segalanya berjalan sesuai target. Amien…
Ada beberapa yang bertanya kemana saja saya selama ini..hihihii. Bener, ini bukan dalam rangka hiatus lho, tapi memang sengaja jalan-jalan untuk menunaikan janji yang sudah terlanjur disebar, baik kepada teman dan orangtua. Hasilnya? Saya bahagia bisa bertemu dengan orang-orang yang sudah lama tak—juga belum– bersua dan hanya berhubungan via teknologi. Banyak obrolan yang mengalir deras. Perbincangan yang tak bisa digantikan oleh kecanggihan apapun. Bapak, ibu dan adik di kampung yang sebelumnya hanya saya sambangi lewat telpon dan sms-pun kemarin jadi barang nyata. Perjalanan sore yang biasanya hanya dilewati diantara deru kebisingan kota, seminggu lalu saya lewatkan dengan bertemu dengan kawan-kawan lama. Melihat hijaunya sawah yang membutuhkan banyak hujan, atau permukiman kecil yang sungguh membuat saya jadi lebih banyak bersyukur.
Di tengah asyiknya liburan, toh saya masih saja teringat teman-teman di sini. Mungkin tak penting oleh-oleh apa yang saya bawa sepulang liburan. Karena toh saya bukan siapa-siapa. Namun, kamera saku saya sepertinya tak berhenti mengaum menjalankan tugas merekam beberapa kejadian yang sudah saya lewati. Anda, tentu saja bisa melihat belasan foto selama “on vacation” saya. Foto-foto sederhana yang sudah saya kumpulkan mulai dari Jogja, kampung halaman, dan Kediri. Selamat menikmati…..