Thursday, January 17th, 2008

Daily Archive

Blunder

Posted by senja on 17 Jan 2008 | Tagged as: etc

“Bubarkan saja sepakbola di Indonesia. Di Kediri panpel tidak siap, keamanan tidak tegas, pemain aleman, official maunya menang sendiri. Qua vadis sepakbola Indonesia?”+62811xxxxx

“Malam non Senja, pengin dapat berita menarik tentang wasit ga? Hubungi sumber berita, mantan komisi wasit PSSI, xxxxxx, no hp xxxxxx”. +62856xxxxxx

Itulah bunyi SMS yang masuk ke HP saya sesaat setelah siaran langsung ANTV pertandingan 8 besar antara Arema dan Persiwa di Stadion Brawijaya Kediri usai. Saya hanya manggut-manggut membacanya. Terlepas ada konspirasi apa yang sedang terjadi dalam pertandingan “penting” tersebut namun hal ini menjadi potret nyata bangsa Indonesia yang tidak pernah belajar dari kesalahan.

Saya ingat betul, bahwa kompetisi Liga Indonesia babak 8 besar musim lalu juga diwarnai oleh kejadian yang hampir serupa yaitu perusakan stadion yang berbuntut penundaan pertandingan. Saat itu, Stadion Muh. Sarengat Batang menjadi stadion pendamping grup A yang berlaga di Solo. Batang menjadi tuan rumah pertandingan PSIS melawan Persiba berbarengan dengan Stadion Manahan yang menjadi Persik dan Arema. Pertandingan dilakukan berbarengan di tempat terpisah agar terhindar dari aksi permainan “pengaturan skor”. Penonton pertandingan PSIS kontra Persiba luar biasa banyaknya sehingga stadion tak kuat menampung massa yang luber hingga berada di tepi lapangan. Kendati pihak keamanan dan panpel menjamin keamanan tim dan pemain selama pertandingan hingga usai, namun Persiba menolak melakoni pertandingan. Molor beberapa menit membuat panpel Solo dan Arema juga ogah melakoni laga karena pemain sudah “dingin” akibat terlampau lama menunggu kick off. Batalnya pertandingan Batang membuat ribuan penonton ngamuk. Mereka merangsek masuk stadion dan merusak semua perangkat stadion. Kaca-kaca loket dipecah dengan batu dan barang-barang yang ada di sekitar stadion. Gawang dan papan reklame dibakar massa. Penonton di lapangan melakukan pelemparan ke tribun, sebaliknya di tribun pun tak kalah ramai. Kursi dan apapun yang ada dirusak. Pemain diamankan ke ruang ganti. Panpel dan BLI di buru massa. Siapapun yang memakai seragam panpel di kejar untuk dimintai pertanggungjawaban tiket yang sudah terlanjur dibayar. Penonton kecewa karena pertandingan urung digelar. Setelah chaos usai, kami (pemain dan pewarta) sukses dievakuasi ke hotel dengan melewati “pagar hidup” yang dibuat ratusan suporter PSIS. Akhirnya pertandingan yang tertunda bisa dilanjutkan keesokan harinya dengan pengamanan ekstra ketat.

Sebelum mendapatkan kehormatan menjadi tuan rumah babak 8 besar, Stadion Muh. Sarengat tidak pernah menggelar pertandingan skala besar yang serupa. Paling banter, stadion ini menampung penonton untuk menyaksikan partai Persibat Batang yang berlaga di kompetisi divisi I.

Jika panpel dan BLI kala itu jeli dan “berpikir sehat”. Tidak seharusnya stadion kebanggaan Batang ini menjadi tuan rumah. Pertama, kapasitas stadion tidak memenuhi syarat. Stadion ini hanya dilengkapi 1 sisi tribun yang mungkin hanya menampung 1 -2 ribu penonton. Sisanya hanyalah tempat berdiri penonton yang dibatasi dengan pagar melingkar memutari stadion. Kendati kualitas rumput dan lapangan sangat memadai karena stadion ini tergolong baru namun tetap saja tak layak. BLI seharusnya memikirkan juga “magnet” pertandingan ini akan sangat besar. Pasalnya, PSIS adalah satu-satunya tim Jateng yang lolos 8 besar. Stadion pasti tidak akan kuat menampung ribuan penonton Semarang dan sekitar Batang-Pekalongan.

Kedua, stadion tidak dilengkapi sentelban. Sentelban adalah tempat steril antara lapangan dan tribun penonton. Kendati sepele, namun fasilitas ini cukup penting. Bagi stadion yang dibangun dengan konsep integratif, sentelban kerap diubah atau digunakan sebagai lintasan lari seperti yang terlihat di Stadion Manahan dan Kanjuruhan Malang atau dalam skala sederhana diterapkan pula di Stadion Jatidiri Semarang. Adanya sentelban memiliki beberapa keuntungan sekaligus. Satu, pemain akan leluasa melakukan lemparan ke dalam, tendangan pojok dan aksi pengamanan bola lainnya. Dua, sentelban menjadi daerah ring terdalam pasukan pengamanan agar jika tejadi sesuatu yang tidak diinginkan lapangan masih bisa dijaga. Misalnya, jika terjadi amukan penonton yang memaksa masuk ke arena pertandingan. Ketiga, lebarnya sentelban membuat calon oknum yang tak bertanggungjawab tidak bisa leluasa melemparkan benda ke lapangan karena terbatasnya jangkauan. Ketiga, stadion tidak dilengkapi lampu stadion yang memadai. Kendati pertandingan memang dilakukan pada sore hari yang notabene tidak memerlukan lampu namun alat penerangan yang maksimal perlu diperhatikan sebagai langkah antisipasi. Dengan kondisi stadion yang jauh dari standar ini, maka konsekuensinya adalah aparat keamanan harus siaga 3 kali lipat demi mengamankan pertandingan besar yang menyedot perhatian penggila bola.

Walaupun dipicu oleh hal yang berbeda, namun kondisi stadion Brawijaya Kediri turut memperkeruh suasana pertandingan Arema kontra Persiwa. Berawal dianulirnya 3 gol Arema oleh wasit Jajat Sudrajat penonton pun ngamuk. Aksi pertama adalah pemukulan hakim garis Yuli Suratno oleh penonton yang nyelonong masuk lapangan, kemudian di lanjutkan dengan aksi lempar batu sembunyi tangan penonton ke arena pertandingan. Kerusuhan terjadi lagi kala asisten wasit dipukul penonton yang turun ke lapangan. Situasi tambah kacau karena penonton lain berebut masuk. Pertandingan pun dihentikan pada menit ke-71.

Stadion Brawijaya diakui memang lebih baik daripada stadion Batang. Namun kondisinya masih di bawah standar. Jika, pelajaran laga PSIS versus Persiba bisa dijadikan pelajaran mungkin kerusuhan hingga menyebabkan pertandingan dihentikan dapat dihindari. Dalam kondisi seperti ini, penghentian pertandingan bakal mempengaruhi gelaran seluruhnya. Istirahat sehari dan kemudian melajutkan laga lagi, untuk pemain sangat merugikan karena berhubungan dengan massa recovery dan kebugaran. Padahal hasil satu pertandingan sedikit banyak bakal menjadi pertimbangan ataupun kalkulasi kekuatan untuk tim lawan baik dalam satu grup atau grup lain.

Di luar itu semua, peristiwa ini juga makin meneguhkan anggapan bahwa sepakbola Indonesia tidak akan maju atau jalan di tempat. Industri ini bakal mengalami kemunduran dan kesuraman. Hal ini akan terus berlangsung karena sepakbola justru dirusak oleh orang-orang “dalam” itu sendiri. Dirusak oleh pihak-pihak yang seharusnya punya tanggungjawab lebih untuk memajukan olahraga rakyat ini.