Kampus Menyebalkan
Posted by senja on 24 Jan 2008 at 08:22 am | Tagged as: my opinion
Lagi eneg, empet, sebel, mumet. Bukan sama seseorang tapi sama sebuah lembaga pendidikan yang terhormat Universitas Diponegoro Semarang Jawa Tengah Indonesia. Apa pasal?? karena saya dikecewakan saat raga dan hati ini tak ingin menerima penolakan.
Di saat matahari siang yang amat sangat menyengat, saya berduyun-duyun ke perpustakaan FISIP Undip untuk meminjam beberapa buku super penting untuk kelanjutan hidup. Setelah meneliti rak demi rak, deret demi deret, buku demi buku akhirnya ketemulah kitab berguna yang saya inginkan. Dengan percaya diri penuh dan senyum menyembul di wajah yang kusut masai saya membawa 2 buku tersebut ke bagian peminjaman. Korek di korek, cari di cari, nama saya tidak ada. Lho kok?? padahal jelas-jelas saya sudah membawa kartu tanda peminjaman, beberapa tahun lalu pun saya juga berhasil membawa pulang beberapa buku sebagai tanda saya sah sebagai anggota perpustakaan FISIP. Olalalalalalala, ternyata eh ternyata ujung-ujungnya saya tidak diizinkan untuk meminjam dan hanya boleh membaca di tempat terkutuk itu. Alasannya, cukup tidak masuk akal. Pertama karena jurusan yang saya huni sekarang tidak dalam lingkup perpustakaan FISIP UNDIP. Kedua, walau saya sudah pernah berhasil meminjam namun itu lama sekali. Ketiga, kesalahan petugas terdahulu yang sudah mengijinkan saya pinjam adalah kesalahan yang harus dimaafkan dan dilupakan selanjutnya tidak boleh diungkit-ungkit lagi.
Karena saya masih ngeyel, dengan mengatakan bahwa sebelumnya saya sudah pernah meminjam dan dalam kartu tidak ada syarat bahwa kartu ini bakal kadaluarsa maka saya dianjurkan untuk menghadap kepala perpustakaan. Kepada ibu yang terhormat itu, saya menyampaikan segala keluh kesah dan problem yang sedang dihadapi. Jawaban si ibu ini justru makin membuat saya kaget dan lalu naik sedikit darah. Katanya, saya tidak boleh meminjam karena jurusan saya tidak membuka jalur kerjasama dengan perpustakaan FISIP. HAH??????
Ibu yang cantik lagi budiman, apa anda lupa, BAHWA JURUSAN YANG SAYA HUNI BERADA DI BAWAH FAKULTAS YANG SAMA DENGAN PERPUSTAKAAN YANG ANDA PIMPIN, DENGAN UNIVERSITAS YANG SAMA WALAU BERBEDA LOKASI/ GEDUNG DAN DIPIMPIN OLEH REKTOR YANG SAMA. APAKAH ANDA LUPA, KORPS KITA DAN SELURUH MAHASIWA DI UNIVERSITAS INI SAMA DENGAN PERPUSTAKAAN YANG ANDA PIMPIN. APAKAH ANDA LUPA WOOOOOIIIIIIIIIIII!!!!!!!!!!
TENANG…
Hujatan itu hanya saya telan lagi. Saya harus sabar, tenang, sareh, eling. Tidak boleh emosi karena kami bakal terlibat hubungan intens selama beberapa bulan hingga genderang perang padam. Lantas bagaimana agar saya bisa meminjam buku di perpustakaan terhormat ini ibuku sayang???? Dengan kewibawaan penuh, dia menjawab. “Anda harus mendapatkan memo dari ketua jurusan anda agar ada yang bertanggung jawab secara penuh, tanpa itu anda tidak boleh membuat kartu anggota sebagai syarat peminjaman buku. Anda mengerti??” . YA SAYA MENGERTI……………..weits, belum selesai, si ibu kembali menyeringai. “Lebih baik, memonya diurus besok saja karena siang ini perpustakaan hampir tutup”. WHAT????
Kalau sedang waras, pasti sudah saya obrak abrik meja ibu tersebut. Namun baru saja niat itu muncul, saya teringat pepatah agung “Dimana bumi dipijak, disitulah langit dijunjung”.
Huh….
Dulu, dahulu kala…..di kampus tercinta ini semua mahasiswa dari jurusan dan fakultas manapun boleh meminjam buku di perpustakaan pusat yang ada di Condong Catur. Memang harusĀ membuat kartu baru, namun itu tidak memakan waktu lama. Tinggal isi ini dan itu, beres deh. Di perpustakaan UGM pun seperti itu, walau harus membuat kartu anggota dengan membayar namun mahasiwa dari luar kampus itu boleh meminjam literatur. Tidak dipersulit dan jelas, jelas, jelas menguntungkan.
Saya tidak tau apa yang terjadi dengan kampus ini. Tapi okelah, beribu rintangan akan kutaklukkan, seluas lautan akan ku seberangi. Ibu kepala perpustakaan yang saya hormati, tunggu di situ, besok saya akan kembali dengan memo dari jurusan. Ke ujung dunia pun akan kukejar!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!








Huahahahha ….
sabar Ndukkk.. sabar,…
emang repot kalo kampus makin komersil itu aturan ne jadi macem2.. *lha kok jadi urusan komersil …
Rasanya memang aneh deh. Di saat kampus2 punya layanan terbuka bagi mahasiswa PT lain di seluruh Indonesia (namanya FKP2T = Forum Komunikasi Perpustakaan Perguruan Tinggi), lha ini untuk mahasiswanya sendiri kok malah tidak boleh pinjam. Kampusnya ikutan gabung di FKP2T gak tuh mbak??
Huehehe, sabar.. sabar…
Kok iso gitu ki piye to?
Pengen pinter kok dipersulit. *nelepon SiboS*
Eh, maap.. inget pisip, aku malah jadi nyengir keinget yang gini niy:
Semarang-Kaligawe..
blahblah terusno dhewe…
:p
Masih satu kampus kan? Mestinya tak masalah, kan ada kartu mahasiswanya…dan seingatku setelah lulus, kita harus punya rekomendasi dari seluruh perpustakaan yang ada dilingkungan universitas, bahwa kita tak ada buku yang dipinjam, baru boleh ikut wisuda (dan diberi ijazah)…artinya bahwa mahasiswa bisa meminjam di semua perpustakaan di bawah kendali universitas tsb….
ahh…ahh….
harusnya tunjukkan pesonamu Nja…
ato
[eh…kartu wartawan yg berhasil buat polisi, kira2 berhasil juga buat pustakawan gak??] hihii…
whuaaaa,,, jadi korban birokrasi juga ya.. sabar-sabar
btw,,, kenap gak gunakan naluri… selip.. selippp .. bawa pulang bukunya…. (kelakar.com aja)
jadi inget iklan rokok, birokrasi yang harus melewati banyak meja… kalo ada yang ribet, kenapa dibikin gampang, pikirnya.
sabar ndukkkk sabar sareh…hehehehe…makanya cepet selesein tuh..biar ndak perlu lagi minjem2 buku…:D
hohoho..masak pinjem buku aja urusan nya ribet sampai gak dikasih pinjam atau bawa pulang..
Katanya orang Indonesia malas baca, budaya baca harus dikembangkan. Walah, ini kok malah ada perpus yang nolak pembacanya. Wierd country really
aku pernah ngerasain yang kaya gini waktu masih kul dulu diunpad.emang kesel sama yang aku rasain padahal dulu tuh butuh banget bukuinya emily dickinson.
ckckck…
semoga berhasil mendapatkan bukunya…
daku dulu pernah minjem di perpus jurusan, dan baru balikin setelah hampir lewat 3 bulan dari batas peminjaman.. mungkin gara2 orang kayak daku, ibu perpustakaannya jadi nolak minjemin..
sabar nduk, namun memang ada yg sakit di perpustakaanmu itu. perseteruan dan perpolitikan dari dulu memang sudah masuk kampus, masuk jurusan, dan masuk himpunan mahasiswa… ayo, jangan tanggung2 nduk, ngadep rektor wae lah…
uhmm…*sambil membayangkan raut mukanya senja pas kejadian dan nulis ini*
lama nja…ga ngeliat dirimuw ngoceh2 hihihihi
hajar nja….
ato pergunakan taktikmu dimasa lampau itu
hihihihi….
ck..ck…ck.. utk urusan perpustakaan pun harus menempuh birokrasi yang berbelit-belit
jadi inget sama kata-kata “Kalo Bisa dipersulit, kenapa harus dipermudah”.. Sabar ya Mba..
saya juga sebel kuliah di sana…..lebih baik saya kuliah di univ yg dulu….mungkin udah jadi dosen di univ yang dulu….ya semoga birokrasi di sana diperbaiki….karena sewaktu kuliah di sana, tidak ada yang namanya transparansi nilai…dan juga ndak boleh pinjem buku bawa pulang di perpus…
bagaimanapun juga UPN tetap yang terbaik. Bukan begitu, nja ??
semangat Mbak, gimana dapet memo dari jurusan?! hehehe…di kampusku juga banyak peraturan aneh2 bikin sakit kepala aja…
Waah.. Kok bisa sampai begitu ya..?
eh…..tarik napas panjang, minum banyak2……siapkan tenaga dgn emosi yg lebih terkontrol……
HIDUP SENJA !!
UNDIP BAKAR AJA !!
kekekeke~
yah begitulah nasib seorang mahasiswa
**nyruput kopi**
mana updatenya…, lanjutannya mana…
jng biarkan penonton kecewa nih…
wakakakka…soal seluk beluk undip???
japri masmu ini dulu….biar ga tersesat di tempat jahanam…
bakar??? sepakat saya.
memalukan alumni undip saja. fuihhhh