Lagi eneg, empet, sebel, mumet. Bukan sama seseorang tapi sama sebuah lembaga pendidikan yang terhormat Universitas Diponegoro Semarang Jawa Tengah Indonesia. Apa pasal?? karena saya dikecewakan saat raga dan hati ini tak ingin menerima penolakan.

Di saat matahari siang yang amat sangat menyengat, saya berduyun-duyun ke perpustakaan FISIP Undip untuk meminjam beberapa buku super penting untuk kelanjutan hidup. Setelah meneliti rak demi rak, deret demi deret, buku demi buku akhirnya ketemulah kitab berguna yang saya inginkan. Dengan percaya diri penuh dan senyum menyembul di wajah yang kusut masai saya membawa 2 buku tersebut ke bagian peminjaman. Korek di korek, cari di cari, nama saya tidak ada. Lho kok?? padahal jelas-jelas saya sudah membawa kartu tanda peminjaman, beberapa tahun lalu pun saya juga berhasil membawa pulang beberapa buku sebagai tanda saya sah sebagai anggota perpustakaan FISIP. Olalalalalalala, ternyata eh ternyata ujung-ujungnya saya tidak diizinkan untuk meminjam dan hanya boleh membaca di tempat terkutuk itu. Alasannya, cukup tidak masuk akal. Pertama karena jurusan yang saya huni sekarang tidak dalam lingkup perpustakaan FISIP UNDIP. Kedua, walau saya sudah pernah berhasil meminjam namun itu lama sekali. Ketiga, kesalahan petugas terdahulu yang sudah mengijinkan saya pinjam adalah kesalahan yang harus dimaafkan dan dilupakan selanjutnya tidak boleh diungkit-ungkit lagi.

Karena saya masih ngeyel, dengan mengatakan bahwa sebelumnya saya sudah pernah meminjam dan dalam kartu tidak ada syarat bahwa kartu ini bakal kadaluarsa maka saya dianjurkan untuk menghadap kepala perpustakaan. Kepada ibu yang terhormat itu, saya menyampaikan segala keluh kesah dan problem yang sedang dihadapi. Jawaban si ibu ini justru makin membuat saya kaget dan lalu naik sedikit darah. Katanya, saya tidak boleh meminjam karena jurusan saya tidak membuka jalur kerjasama dengan perpustakaan FISIP. HAH??????

Ibu yang cantik lagi budiman, apa anda lupa, BAHWA JURUSAN YANG SAYA HUNI BERADA DI BAWAH FAKULTAS YANG SAMA DENGAN PERPUSTAKAAN YANG ANDA PIMPIN, DENGAN UNIVERSITAS YANG SAMA WALAU BERBEDA LOKASI/ GEDUNG DAN DIPIMPIN OLEH REKTOR YANG SAMA. APAKAH ANDA LUPA, KORPS KITA DAN SELURUH MAHASIWA DI UNIVERSITAS INI SAMA DENGAN PERPUSTAKAAN YANG ANDA PIMPIN. APAKAH ANDA LUPA WOOOOOIIIIIIIIIIII!!!!!!!!!!

TENANG…

Hujatan itu hanya saya telan lagi. Saya harus sabar, tenang, sareh, eling. Tidak boleh emosi karena kami bakal terlibat hubungan intens selama beberapa bulan hingga genderang perang padam. Lantas bagaimana agar saya bisa meminjam buku di perpustakaan terhormat ini ibuku sayang???? Dengan kewibawaan penuh, dia menjawab. “Anda harus mendapatkan memo dari ketua jurusan anda agar ada yang bertanggung jawab secara penuh, tanpa itu anda tidak boleh membuat kartu anggota sebagai syarat peminjaman buku. Anda mengerti??” . YA SAYA MENGERTI……………..weits, belum selesai, si ibu kembali menyeringai. “Lebih baik, memonya diurus besok saja karena siang ini perpustakaan hampir tutup”. WHAT????

Kalau sedang waras, pasti sudah saya obrak abrik meja ibu tersebut. Namun baru saja niat itu muncul, saya teringat pepatah agung “Dimana bumi dipijak, disitulah langit dijunjung”.

Huh….

Dulu, dahulu kala…..di kampus tercinta ini semua mahasiswa dari jurusan dan fakultas manapun boleh meminjam buku di perpustakaan pusat yang ada di Condong Catur. Memang harusĀ  membuat kartu baru, namun itu tidak memakan waktu lama. Tinggal isi ini dan itu, beres deh. Di perpustakaan UGM pun seperti itu, walau harus membuat kartu anggota dengan membayar namun mahasiwa dari luar kampus itu boleh meminjam literatur. Tidak dipersulit dan jelas, jelas, jelas menguntungkan.

Saya tidak tau apa yang terjadi dengan kampus ini. Tapi okelah, beribu rintangan akan kutaklukkan, seluas lautan akan ku seberangi. Ibu kepala perpustakaan yang saya hormati, tunggu di situ, besok saya akan kembali dengan memo dari jurusan. Ke ujung dunia pun akan kukejar!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!