Dua hari yang lalu, sebuah kereta bermuatan solar anjlok di sebuah daerah dan menyebabkan tangki-nya terguling ke sebuah area persawahan penduduk. Solar beribu-ribu liter itu pun tumpah ruah. Masyarakat sekitar pun serta merta mengumpulkan tumpahan solar tersebut. Bahkan ada seorang ibu yang berhasil menadah hingga beberapa liter ke dalam wadah-wadah yang ia jajar. Katanya, solar temuan jatuh dari langit itu bakal ia jual lagi. Uangnya akan dipakai untuk membiayai hidup sehari-hari termasuk membeli beras dan lain-lain.

Di satu sisi, anjloknya kereta bermuatan solar ini membuat sejumlah aparat terkait harus repot membetulkan rel dan mengevakuasi bangkai kereta. Oya, si tengah keriangan puluhan warga yang memunguti solar di areal perwahan itu, ada petani yang hanya bisa mengelus dada. Ia adalah pemilih sawah yang sudah tercemari solar dan tanahnya diinjak-injak warga. Sawah yang masih ditanami padi menghijau itu terancam tidak akan bisa ditanami hingga 3 tahun mendatang. Kerugian yang sudah terlihat di depan mata adalah ia bakal gagal panen musim ini. Pertama, karena solarnya sudah menjadi pupuk kematian yang mencemari seluruh areal. Dan diperparah dengan rusaknya lahan karena diinjak oleh para pendulang solar hingga tak berbentuk lagi. Maksud hati sih ingin minta ganti rugi, namun kepada siapa? kepada KAI? suatu hal yang mustahil. Atau kepada para pendulang solar? lebih tidak mungkin lagi karena kondisi ekonomi mereka juga tak lebih baik darinya….

-Disarikan dari berita Reportase Sore TransTV-