Perang Media, Perang Wacana
Posted by senja on 29 Jan 2008 at 04:39 am | Tagged as: my opinion
Berita kematian Soeharto, sedikit banyak memberikan keuntungan kepada segelintir orang yang senang memperhatikan media. Bagaimana sebuah peristiwa besar yang sama namun diberitakan berbeda dalam rangka penyebaran opini publik. Ambil saja dua media televisi yang besar yakni SCTV dan RCTI.
SCTV dengan “arifnya” menonjolkan pemberitaan yang mengedepankan pesan perdamaian yakni dengan melupakan segala kesalahan Pak Harto yang dalam kurun 10 tahun belakangan ini kasus hukumnya tidak bisa ditangani secara tuntas. Untuk memperkuat misi ini, SCTV menggandeng beberapa tokoh “moderat” untuk mengomentari peristiwa kematian Pak Harto. Sebut saja, Amien Rais yang walaupun pengkritik setia Orba, beberapa waktu belakangan justru getol menyuarakan isu pengampunan kepada Pak Harto karena perangkat hukum Indonesia yang tidak tegas. SCTV kemudian juga menggandeng narasumber Emha Ainun Najib dengan pertimbangan bahwa ia—plus beberapa elit lain– adalah orang yang sempat dimintai pertimbangan ayah 6 anak itu di detik-detik sebelum lengser pada 1998 lalu. Emha memang kritis namun pendapatnya justru sangat “status quo” khas orang Jawa.
Menariknya, dalam beberapa reportase langsung sesaat setelah kematian Pak Harto, reporter Bayu Sutiyono, dengan semangatnya mengajak seluruh rakyat Indonesia untuk memaafkan segala kesalahan presiden kedua RI ini. Terlepas apakah mengajak publik untuk memaafkan kesalahan Pak Harto adalah tindakan yang dibenarkan ato/tidak, namun kegiatan memberi maaf adalah aktivitas yang sangat amat pribadi dalam hubungan antar manusia. Saya kemudian mengecek beberapa paket liputan SCTV baik di liputan6 maupun liputan khusus ternyata tidak ada satupun yang membahas tentang perbedaan prosesi pemakaman Pak Harto dengan sang proklamator Bung Karno secara intens.
Oke kita beralih ke RCTI. Berita sesaat setelah kematian Pak Harto tidak banyak berbeda dengan tv-tv lain. Namun sehari setelahnya atau beberapa jam setelah pemakaman di Astana Giri Bangun, tampak benar perbedaan liputannya. Di paket khusus “Indonesia Pasca Soeharto”, RCTI menampilkan kesaksian salah satu dokter Bung Karno saat dirawat di RSPAD menjelang ajal. Dia menyampaikan dengan gamblang betapa buruknya fasilitas yang diterima Sang Putra Fajar itu. Bahkan dengan detail, ia menguraikan fasilitas apa saja yang diperoleh Bung Karno. Dari sekian perawatan yang diterima, hanya alat rekam jantung saja yang berkualitas nomor satu. Kegagalan fungsi ginjal yang seharusnya sejak awal sudah bisa diprediksi dan diberikan perawatan juga alpa ditindaklanjuti. Bahkan narasumber ini lupa namanya juga menceritakan bagaimana obat-obatan yang seharusnya di berikan justru tidak dikomsumsi Bung Karno, terbukti saat Bung Karno meninggal obat-obat itu masih utuh di dalam lemari. Serentetan fakta ini sudah berbicara sangat banyak tentang kontoversi pemakaman Pak Harto yang dilakukan demikian “agung” hingga melibatkan Presiden SBY, Wakil Presiden JK, para menteri, dan panglima AD, AU dan AL. RCTI juga melakukan wawancara langsung dengan pengamat komunikasi politik Effendi Gozali (UI) dan Prof. Kacung Marijan (Unair).
Tulisan ini tidak hendak mengungkit bagaimana perlakuan Bung Karno dan Pak Harto. Sudah banyak tulisan yang mengupas masalah ini, seperti yang diturunkan Jawa Pos tanggal 28-29 Januari. Ulasan ini hanya hendak memberikan gambaran betapa media sangat tidak bebas nilai namun sarat nilai. Media adalah sarana pertarungan ideologi yang ujung-ujungnya merujuk pada kepentingan politik dan ekonomi media itu sendiri. Hingga kini saya masih menelusuri siapa saja yang duduk di jajaran direksi RCTI dan SCTV. Belakangan–terutama saat Piala Dunia lalu–di SCTV ada nama Siti Hedijati (Titik). Sedangkan RCTI yang tergabung dalam Media Citra Nusantara, berdiri di bawah PT Bimantara Citra, tbk yang kalau tidak salah dimiliki oleh Bambang Trihatmojo. Namun saya tidak menemukan nama Bambang di jajaran direksinya. Jadi mengapa RCTI dan SCTV membingkai dua peristiwa tersebut dengan sangat berbeda?????? perlu penelusuran lebih lanjut.








sempet2e kowe nja. orang lagi mengharu biru*haiah*.
jadi gimana, mo ada investigasi lagikah:D
di investigasi aja nja
aku tunggu hasilnya
btw koq dah laa gak nulis PSIS lagi ?
kemana aja ?
pindah ya ?
iya nih, terlalu diagung2kan kayaknya…
tapi ya udah ah, sudah meninggal masak masi diomongin…
lha tapi klo g diomongin,,,duit yang jadi kasusnya gimana ya?
ooo!!!
RCTI sama SCTV?
HUAHAHAHAHA…….. kok bisa?
Sumpah kampret,..
gue ga baca blog loe,…
sedang menghilang stress bayaran kuliah…
tetapi, sebenarnya sama Nja..
Blow up hingar bingar itu yang dikejar…
walo mungkin kalo situ mau teliti, MNC si Agum Gumelar itu maunya apa? hehhehe
yang penting semoga beliau tenang di alam sana…
dan dua tv itu (sctv dan rcti) adalah yang rating nya paling bagus untuk liputan pak harto kemaren itu.
artinya ? masyarakat kita akan sangat mendengarkan dan percaya dg apa2 yang disampaikan itu.
tapi kenapa RCTI & SCTV ?? bukannya yang satu GROUP MNC itu RCTI, TPI & GLOBAL TV..
ga nonton aku …hehehehehe ga nonton opo2..
jadi ga perlu komen…hanya mikir warisan hutang2 nya yg akan ditanggung seluruh rakyat Indonesia
yg pasti sih, blog ini juga jelas keberpihakannya jeng……..makanya melihatnya jg begitu. So, gak usah ngomong obyektif, karena tiap hati pasti ingin memilih, tidak mungkin pernah obyektif !!!!
namanya juga moment langka…
wajarlah…..!!!
dulu pas gunung merapi mau meletus juga gitu…tapi,lambat laun…normal….
wajar kok
Ingat ketika shalat ied idul adha disiarkan langsung di media TV? hanya SCTV yang menayangkan sholat ied yang diikuti oleh keluarga cendana. TV lain langsung dari Istiqlal semua…
btw, kamu juga terbawa arus menuliskan berita tentang wafatnya Soeharto ini disini (media blog) nja, walau cuman mengapa RCTI dan SCTV membingkai dua peristiwa tersebut dengan sangat berbeda??????
hehehhe
**kapan nraktir ngopi nang Buket??
huuuuuu korban berita tipi…
uhmm..gak nonton aku…
di proyek gak da tipine…
pluz hari itu pulang kerja dah malem..
jadi yah gak tau apa2 :))
ada bau2 nek senja mau investigasi lebih dalem….*lanjuttt*
lha semua TV di Indo tak lepas dari keluarga cendana kok. Lagian, cuekin aja lagi .. kalo ga suka, pake aja tv kabel … gitu aja kok repot …
*pasang muka innocent
Jawabannya simple…. “RATING”
salam kenal
Ndak nonton pas pemakaman PH. Cuman nonton waktu ada Amien Rais di ANTV, itu juga cuman bentar.
Begitulah monopoli. Ketika MNC, SCTV dan Media Group sangat dekat dengan Cendana, semuanya menjadi upaya pemebentukan opini publik yang massif.
Begitu juga Lativi (TV-one) dan ANTEVE. Mereka adalah orang-orang yang dibesarkan dan dekat dengan keluarga Cendana.
So ada yang mau buat TV yang bisa independen? Susah kali…. apalagi harus independen sama pemasang iklan? itu mah susah banget.
Salam kenal…nice blog
Mbak Senja, judul tulisan ini memberi kesan pada saya seolah-olah ada perang antara media, padahal kalau yang saya lihat, media-media cenderung sehaluan dalam pemberitaan Soeharto.
Mengungkapkan perbedaan perlakuan justru buat saya sebuah upaya sengaja untuk menampilkan Soeharto sebagai sosok raja — “sehingga perlakuan yang diterima pun berbeda”. Ujung-ujungnya tetap glorifikasi.
Yah, tapi ini menurut saya loh
Meskipun sakit hati atas beda perlakuan yang diterima Pak Karno dan Pak Harto, mungkin kita semua masih bisa memakluminya.
Tetapi yang lebih menyakitkan lagi [saya baca di gusdur.net] perlakuan antara Pak Dur dan Pak harto yang sama-sama berobat di rumah sakit, berbeda langit dan bumi. Apakah begitu cara pemerintah kita menghormati mantan Presiden? [Untung Megawati jarang sakit]
Soal kematian Pak Harto salut buat TVRI, yang secara ekslusif menyiarkan secara lengkap.