February 2008

Monthly Archive

Foto yang Bercerita

Posted by senja on 23 Feb 2008 | Tagged as: foto

Ada yang bilang kalau foto/gambar, khususnya yang menyangkut human interest, mampu lebih bercerita 1000 kali lipat dibandingkan serentetan kata-kata….

Mungkin ungkapan itu ada benarnya juga..karena foto yang mampu bercerita itulah yang terlihat dalam pameran foto Peter Sanders bertajuk “The Art of Integration Islam, In British Green an Pleasant Land”, di Aula Masjid Kampus UGM, 18-21 Februari kemarin. Ada 40 hasil bidikan fotografer muslim ini dipajang. Semuanya diambil dari sisi kehidupan masyarakat muslim Inggris. Sanders sendiri tampaknya tidak datang untuk sekedar membuka seremoni pameran foto-nya yang entah sudah keberapa ini. Pembukaan justru diawali dengan diskusi terbuka antara audiens dengan Dubes Inggris Charles Humrey dan budayawan Emha Ainun Najib. Sayang saya telat datang sehingga tidak bisa mengikuti seluruh isi diskusi.

Free Image Hosting at www.ImageShack.us

Free Image Hosting at www.ImageShack.us

Kembali ke foto-foto Sanders…

Saya cukup takjub dengan ide-ide foto yang dibingkai secara serius sehingga membentuk sebuah cerita. Saya memang masih sangat awam dengan fotografi, tapi–menurut saya–kekuatan foto Sanders bukan pada angle atau tingkat kesulitan pengambilan foto, namun pada kejujuran dan ketulusan fotografer terhadap sebuah wacana muslim yang sejuk dan bersahabat.

Ada beberapa foto yang punya daya tarik cerita cukup kuat.Misalnya foto berjudul “An International Family”. Foto ini menampilkan sebuah keluarga muslim yang berasal dari bangsa berbeda. Sang ayah berwajah sangat Arab dan ibunya berwajah Mongoloid. Kedua anaknya merupakan campuran antara kedua, tersenyum bahagia dengan balutan busana muslim. Foto berjudul “A Muslim Choir” mengetengahkan barisan pemuda muslim yang tengah belajar bernyanyi dalam paduan suara dengan latar belakang bangunan University of Cambridge. Paduan suara yang sangat identik dengan gereja atau Nasrani, dimunculkan dengan nuansa muslim yang kental. Modelnya tidak banyak gaya, warnanya juga sangat soft, tapi pesannya jelas. Ada foto berjudul “The Cat is Back”. Dengan model Yusuf Islam, penyanyi bule yang belakangan ini justru menjadi penyanyi religi tersebut difoto ketika sedang memeluk kucing. Ekspresinya santai tapi terlihat sangat menyayangi. Sanders dengan sangat jeli membingkai foto multitafsir ini. Pertama, Yusuf dulunya bernama Cat Stevens. Kedua, kucing ini—mungkin– memang pernah hilang dan ditemukan lagi sehingga Yusuf terlihat begitu gemas dan bahagia. Ketiga, pesan tersembunyi tentang keputusan Yusuf masuk Islam dianalogikan dengan kembali ke jalan yang benar…Cat Is Back….hahahahaha…Sanders memang cerdas…

Ada foto keren berjudul “Peace In Classroom”. Menampilkan seorang guru TK yang sedang memperlihatkan tata cara shalat di kelas yang berisi murid-murid bule. Anak-anak itu memandang takjub si guru. Foto ini memberikan sindiran halus kepada orang-orang tua/dewasa yang suka berperang hanya karena perbedaan, khususnya agama. Lihatlah, anak-anak kecil polos ini justru begitu mudah menerima hal yang lain dari dirinya, bahkan sangat menghargai….

Dan masih banyak foto-foto human interest lainnya yang mungkin akan membuat bengong dan kagum. Seperti “The World Meet” yang menampilkan seorang muslimah bercadar merias wanita lainnya yang digambarkan dari golongan non muslim. Ada “A Prince Visit Islamic School” yakni gambar pangeran Charles sedang duduk berdampingan dengan dua anak muslim dari sekolah dasar. Atau “Hijab and Hard Hat”, anak kecil berjilbab yang dengan jenakanya memakai topi/helm.

Di aula dimana tempat pameran dilangsungkan, selain memajang foto, panitia juga menempelkan artikel tentang Sanders. Dari sekilas membaca, tampaknya, kelihaian Sanders bukan hanya karena kematangan tekniknya mengoperasikan kamera dan meramu berbagai resep fotografi, tapi juga karena pengalaman hidupnya. Kekayaan itulah yang membuat ia begitu peka dalam membingkai peristiwa…..Hal yang tampaknya sulit dan harus dipelajari oleh para fotografer pemula maupun hobi….

Sebuah Solusi Bernama Trans Jogja

Posted by senja on 18 Feb 2008 | Tagged as: etc

Hari ini, armada baru transportasi darat di Jogjakarta mulai beroperasi bernama Bus Trans Jogjakarta (BTJ). Sebenarnya, bus ini sudah mulai disosialisasikan kemarin. Penumpang boleh naik gratis kemanapun sambil nyoba-nyoba beberapa jalur. Cuman karena kemarin hari Minggu, jadi nggak ikutan nyoba karena kampus biru tutup. Nah, hari ini kelar nonton pameran foto (update selanjutnya tentang pameran foto keren…) berangkat deh naik BTJ tanpa tujuan alias cuma pengen jalan-jalan doang, kalau di F1 kegiatan ini dinamakan test drive..yah, beda-beda tipislah…wekekeke…

Eh..sebelumnya, tidak ada salahnya daku menjelaskan dulu apakah BTJ itu…. Sebenarnya konsep BTJ tidak jauh beda dengan Bus Trans Jakarta atau justru kerap disebut sebagai busway. Intinya sih, bus ini menyediakan/menjanjikan pelayanan memuaskan untuk penumpang karena busnya ber-AC, bersih, dan hanya berhenti di halte-halte yang disebar di 76 titik seluruh Jogja. Di halte yang beberapa diantaranya digunakan sebagai Point on Sales (PoS) inilah penumpang bakal turun dan naik menuju ke halte-halte berikutnya tergantung tujuannya. Tujuh PoS, salah satunya di Halte Kopma UGM, para penumpang bisa membeli kartu berlangganan yang bisa digunakan untuk jangka waktu tertentu. Jadi dengan punya member card, penumpang tak perlu repot-repot membawa duit cash setiap akan naik, karena perjalanan –dalam kurun waktu tertentu– sudah dibayar dimuka. Oya, terkadang untuk mencapai satu tempat, penumpang harus berganti dari bus jalur satu ke yang lain. Jika ini terjadi, penumpang tak perlu membayar lagi, karena selama pergantian bus selama dilakukan antar halte/tidak diluar halte, maka itu dianggap sekali jalan. Sebagai awal sosialisasi, kita hanya perlu merogoh kocek Rp 1000. Selanjutnya, ongkos bakal dinaikkan menjadi Rp 3000 sejauh apapun tujuan kita. Sekedar perbandingan, di Jogjakarta bus biasa mematok tarif Rp 2000 jarak jauh/dekat.

Ada satu perbedaan vital yang membedakan BTJ dengan Bus Trans Jakarta. Jika di Jakarta, bus ini melintasi jalur khusus yang ditandai dengan separator yang memisahkan jalur biasa dengan busway, di Jogja tidak ada separator. Jadi BTJ tetap berjalan di jalur biasa bercampur dengan kendaraan lain dan tentu saja kemacetan di beberapa titik. Kenapa tidak ada separator? Pertama, karena lebar jalan-jalan di Jogja tidak seluas Jakarta atau Semarang sehingga sudah tidak memungkinkan pembagian jalan untuk bus khusus dan umum. Kedua, ini semata-mata (dugaan pribadi) dilatarbelakangi alasan kearifan lokal, agar BTJ tidak serta merta mengkhususkan diri dengan dengan dominasi di jalur khusus, sedangkan bus-bus lain masih bergumul dengan macet di jalur biasa. Efeknya waktu tempuh BTJ dari halte ke halte tidak bisa dipastikan. Jangka waktunya sekitar 10-15 menit.

Sekedar info–dari beberapa petugas yang saya tanyai– belum ada demonstrasi penolakan besar-besaran terkait peluncuran BTJ. Semuanya berjalan lancar. Mungkin kuncinya adalah karena beberapa sopir dan trayek bus lama dialihkanke BTJ sehingga tidak ada penumpukan armada. Bahkan beberapa halte BTJ juga berada di dalam terminal pemberhentian/pemberangkatan bus umum seperti terminal Condong Catur dan Jombor. Faktanya, para sopir biasa dan awak BJT gayeng bercanda dan ngobrol :). Satu lagi info penting, BTJ beroperasi hingga pukul 21.30 WIB. Hal ini memecahkan problem angkutan di Jogja yang selama ini hanya beroperasi hingga sebelum magrib.

Balik lagi ke perjalanan saya muter-muter tanpa arah…cukup menyenangkan. Walau berdesakan karena ternyata tidak hanya saya yang jalan tanpa arah, namun penumpang-penumpang lain yang cuma jalan-jalan dari satu halte ke halte lain agar lebih familiar dengan jalur yang dilalui. Anak-anak sekolah juga menyambut gembira, bahkan ada gerombolan pemuda SMP yang merencanakan untuk pergi keliling kota Rabu lusa dengan bus. Ya, halte-halte BTJ memang sengaja di bangun dekat dengan sekolah dan kampus agar memudahkan akses konsumen. Perjalanan yang berawal halte depan RS Panti Rapih, terus melaju hingga SMP 5, Kusumanegara,Umbulharjo, Wirobrajan, Jalan Magelang, Monjali. Pas di tengah jalan daerah Wirobrajan, bus yang saya tumpangi nabrak becak plus sopirnya (tukang. red). Becaknya terbalik. Tukang becaknya marah-marah. Walau nggak luka tapi becaknya rusak. BTJ terus melaju karena penumpang harus mengantarkan penumpang ke halte berikutnya. Pas di halte tujuan, si sopir digelandang ke kantor polisi oleh pak polisi (ya iyalah :p) untuk dimintai pertanggungjawaban. BTJ kemudian meneruskan perjalanan dengan sopir lain. Duh…

Pelayanan awak bus juga memuaskan. Mereka dengan sukarela menjelaskan jalur-jalur yang tidak kita ketahui. Bahkan beberapa kondektur selalu mengumumkan ke halte mana tujuan kita berikutnya. Tentu saja hal ini memudahkan untuk para penumpang awam.

Akhirnya, saya terpaksa turun Monjali karena nggak tahan kelaperan…hehehehe. Akhirnya berganti bus menuju terminal Condong Catur dan pakai bus biasa untuk pulang…capek..tapi menyenangkan jalan-jalan kali ini..

But, saya nggak sempet motret. Suasana bus yang hiruk pikuk dan sesak membuat saya malas untuk motret. Lagian bentuknya kayak bus biasa kok, tapi bedanya di dalam ada tempat dan pegangan untuk penumpang yang berdiri. Akhirnya..seperti yang tertulis di kaca BTJ, “Selamat di datang di kawasan bebas rokok, copet dan pengamen”!!! wekekekeke

Tertusuk Duri

Posted by senja on 14 Feb 2008 | Tagged as: etc

Pernakah anda ke Rumah Sakit untuk urusan sakit yang sedikit remeh temeh, tidak penting, agak memalukan tapi harus dilakukan??? saya pernah….kemarin tepatnya…

Semarang yang sedang dilanda musim penghujan membuat warganya rentan dengan penyakit demam berdarah, atau minimal diare, pusing, demam dan lain sebagainya. Tapi bukan keluhan itu yang membawa saya harus ke salah satu rumah sakit pemerintah di kota lunpia ini. Saya ke rumah sakit juga bukan karena penyakit tipes saya tiba-tiba kambuh seperti dua tahun belakangan ini. Saya, si cewektulen ini harus ke UGD karena secara tidak sengaja menelan duri ikan. Duri ikan ini saya sinyalir masih nyangkut di tenggorokan sehingga menimbulkan rasa sakit yang luar biasa….waaaa lucu bukan….tidak penyakit serius tapi harus ditangani…kalau tidak, saya takut pita suara saya rusak dan tidak bisa lagi melakoni kegiatan berkaraoke ria…hiks hiks..

Bencana ini berawal dari aksi makan siang setelah sebelumnya tidak sarapan. Baru 4 kali menyendok, plus memakan ikan tersebut, si mbak warung menanyakan minuman apa yang saya inginkan. Dengan susah payah karena nasi masih mengumpul di mulut saya jawab minum es teh. Setelah dirasa cukup alias tidak ada duri ikan lagi, saya telan-lah si makanan tersebut. Wakssss…..ternyata masih ada duri dan nyangkut di tenggorokan. Saya gelontor pakai segelas es teh, tetap bandel. Saya sendokkan makanan lagi ke mulut agar si duri cantik itu mau hanyut, eh tetep aja nakal. Tenggorokan udah mulai sakit. Saya pesan lagi satu gelas es teh agar duri nan indah mau menuju perut. Ahhhh tetap saja tidak mau. Berbagai cara sudah dilakukan. Saya berinisiatif meneruskan makan agar durinya mau luruh. Tapi yang terjadi saya justru sudah tidak bisa menerima makanan lagi. Muntah-muntah karena ada benda asing nangkring di tenggorokan. Olala…capek deh…baru makan 4 sendok sudah dapat bencana. Akhirnya saya hengkang dari warung itu, di jalan, sambil nyetir motor, saya muntah-muntah lagi. Duh, antara ngebut agar cepat sampai di rumah salah satu sodara, tenggorokan saya makin nggak enak. Duri ini sepertinya bingung memutuskan apakah ke perut atau mau keluar…waaaaaaaa

Nyampe di rumah saudara, saya coba minum lagi. Tetap tidak berhasil, kue milik Fazel saya makan agar duri ini mau mengalah tapi nihil. Yang ada saya justru muntah-muntah lagi. Air mata, keringat sudah memenuhi wajah. Saya pun nyerah….tenggorokan makin sakit, dibuat geleng-geleng kepala sakit, dipake nunduk nyeri…waduh…

Akhirnya saya cabut ke UGD dengan menahan sakit dan malu. Setelah menunggu giliran cukup lambretta alias lama, akhirnya nama saya dipanggil.

Mas Dokter (MD): Namanya siapa mbak?

CewektulenButuhBantuan(CBB): Senja

MD: Siapa? Cintia?

CBB: S E N J A (yeeee Cintia mah nama penyanyi dangdut kaleeeee)

MD: Sakit apa?

CBB: Hiks…tertusuk duri, eh maksudnya pas saya makan, nggak sengaja nelan duri…sekarang masih ada di ternggorokan (maluuuuuuu….)

MD: ooooooo, masih kuliah? Jurusan apa? Bla..bla….

CBB: Iya…bla bla (Duh masnya yang ditanyain nggak penting banget, nggak ada hubungannya ma penyakit..huh…….woiiiiiiii)

MD: Oke mari saya periksa…wahhh, ini musti ke THT

CBB: Gpp yang penting durinya keluar. Emang kalau di THT mulutnya diapain dok?

MD: Ya dikeluarkan….

 

CBB: Hah….pake alat?

MD: Iya, hayooo katanya tadi mau diapa-apain asal keluar..

CBB: Iya, saya kan cuma nanya..masak nggak boleh..

Setelah diperiksa, si dokter ini lantas menyerahkan tanggungjawabnya kepada dokter spesialis THT. Bu dokter yang budiman ini juga tidak menemukan duri nangkring di tenggorokan saya. Sudah diobservasi. Lidah saya sudah ditarik, udah diapa-apain sampe muntah-muntah, tapi hasilnya nihil. Hiks. Dokter cantik ini menyimpulkan masih ada dua kemungkinan. Pertama, duri itu memang masih ada di tenggorokan sehingga menimbulkan rasa sakit yang teramat dalam. Yang kedua, duri sudah hilang namun meninggalkan luka di tenggorokan….Duhhhhh

Akhirnya saya pulang dengan gontai. Setelah menebus obat di apotik, saya pun pulang…..Kalau seperti ini….saya jadi takut makan ikan berduri. Mungkin baru beberapa bulan ke depan saya sanggup makan diwarung itu lagi…hiks…..

 

Sadisme Media

Posted by senja on 12 Feb 2008 | Tagged as: my opinion

Disadari atau tidak, kejahatan yang terjadi di masyarakat merupakan implikasi dari “teladan” yang sudah diberikan media melalui pemberitaan. Modus operandi berbagai bentuk kejahatan bisa ditiru dari media cetak maupun elektronik. Tidak adanya sensor membuat segala peristiwa bisa direkam dengan amat jelas tanpa tendeng aling-aling…

Hal itu juga yang terlihat dalam berita drama penyanderaan seorang bocah bernama Salma di Makassar kemarin. Salah satu stasiun TV swasta ini, berhasil merekam seluruh peristiwa penyanderaan dari awal polisi mengetahui jejak si penjahat hingga akhirnya tewas karena terjangan peluru. Miris melihatnya, apalagi membayangkan bagaimana trauma yang bakal diderita si Salma yang baru berusia 9 tahun itu. Kamera televisi ini entah mengapa bisa sangat dekat dengan lokasi penyanderaan yang sudah dikepung oleh polisi. Gambar yang sangat jelas itu memperlihatkan bagaimana Salma menjerit-jerit karena mulutnya dibekap oleh si penculik. Tragisnya, kepala penculik dan Salma tidak terlihat namun hanya rontaan yang terdengar serta gerak kaki yang menghentak tanda Salma ingin melepaskan diri. Efek dramatis ini terus berlanjut kala sang penculik memperlihatkan diri di depan umum dengan membawa senjata tajam yang siap menghunus Salma. Salma tetap meronta antara takut dan ingin lari. Polisi seakan tak punya pilihan lain selain melumpuhkan si penculik dengan timah panas. Lebih dari 2 kali tembakan terdengar dan menghujam badan di penculik di bagian perut dan kaki. Bagaimana kejadian itu selanjutnya sudah bisa diduga. Karena si penculik akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya di perjalanan kala akan dibawa ke Rumah Sakit.

Media –khususnya elektronik– yang sama sebenarnya pernah juga melakukan “kejahatan” –setidaknya menurut saya–dengan merekam ekspresi istri Taufik Savalas kala mengetahui sang suami meninggal karena kecelakaan tragis. Sang wartawan dan kameramen sebelumnya sudah mengetahui bahwa Taufik meninggal namun sengaja tak memberitahukan kepada keluarga tentang kejadian itu. Bagaikan reality show, respon sang istri begitu mengetahui kabar itu terekam dengan jelas di layar kaca. Kaget, lemas dan menangis bagaikan gambar yang indah dan diputar berulang-ulang. Sama seperti kejadian penculikan Salma yang diulang hingga 2 kali.

Pasti ada rasa kepuasan dari pewarta setelah mendapatkan gambar itu. Namun toh, apakah rentetan peristiwa itu harus direkam demi kepuasan pribadi semata tanpa mengindahkan perasaan orang lain. Ada banyak cara agar tampilan berita lebih indah dan menarik tanpa melakukan hal-hal yang kebabablasan. Saya, pernah hampir merasa bersalah. Pasalnya, kala itu ada seorang manajer tim sepakbola Indonesia yang tergolek lemas di Rumah Sakit sehari setelah big match di Semarang. Kala itu, hanya pewarta Semarang yang mengetahui kondisi sang manajer. Kami bahkan diperbolehkan masuk ruang ICU. Dari penglihatan mata biasa, kami merasa umur sang manajer sudah tidak lama lagi. Berbagai selang dan alat bantu dipasang. Matanya nanar, napasnya tinggal satu dua. Tidak ada satupun pewarta yang bisa merekam kejadian “berharga”. Hanya kamera HP saya yang bisa digunakan untuk mengabadikan peristiwa langka ini. Setelah gambar diambil, pilihannya hanya ada dua, meloloskan rekaman itu ke media atau tidak. Di satu sisi, gambar ini adalah aset yang berharga, di sisi lain pihak keluarga tidak mau dipublikasikan. Kami menghargai ditengah kesedihan yang amat dalam, pihak keluarga masih mau menerima para kuli tinta. Akhirnya salah satu teman saya, mengatakan, bahwa seadainya ia berada di kejadian itu, ia tidak akan mau ayahnya jadi bahan liputan para wartawan. Ini memang kejadian kecil, namun cukup memberikan pelajaran. Kala akhirnya sang manajer meninggal keesokan harinya, kami jadi tak menanggung beban berlebihan karena lebih mendengarkan kata hati daripada tuntutan kepuasan sesaat semata. Saya juga beruntung, akibat perkataan teman tadi, semuanya tidak jadi kebablasan….

 

Karaoke

Posted by senja on 07 Feb 2008 | Tagged as: etc

Entah, kenapa semenjak di Jogja Selasa lalu, ada aja sms dari temen lama yang mengabarkan bakal ke Jogja juga..wuah seneng jadinya, kan bisa jalan plus hunting poto bareng….

Nah, di suatu sore yang mendung, salah satu temen sms, ngajakin ketemuan plus jalan-jalan, malah ngajak karaoke segala..dengan senang hati daku menerima tantangan kendati hanya bermodalkan suara pas-pas-an….ehem–ehem-

Akhirnya waktu yang ditunggu datang juga. Gerombolan cewek suka nyanyi pun menuju salah satu tempat karoke keluarga di kawasan Colombo Jogja. Konser mini ini akan diramaikan oleh, saya sendiri sok pede, Tita, Yani dan Vera. Selama 1 jam penuh kami beraksi. Mulai dari nyetel-nyetel lagu-lagu jadul alias jaman dulu, seperti Kita (SO7), Tak Bisakah (Peterpan), ada juga yang lagu-lagu nggak banget seperti Stinky. Pas nyanyi lagu ini penghayatan Tita dalem banget…wakakakakak.

Ada juga beberapa lagu yang …ehem dalem-dalem….hehehehehe. The Best I Ever Had-nya Vertical Horizon, Better Man-nya Robbie Williams, dan salah satu lagu Matcbox Twenty, 11 Januari (Gigi). Kami, para pemudi yang yang sedang berbahagia ini melepaskan segala kepenatan rutinitas dalam aneka lirik lagu dan gaya. Capek bersedih-sedih, diputerlah lagu Mulan Jameelah yang asli membuat kami merasa tidak pantas menyanyikan lagu Mahkluk Tuhan Yang Paling Sexy. Ternyata lagu itu cuma “enak” didengerin tapi nggak asik dibawain….Ini ni yang paling oke, Umbrella-nya Rihanna..hehehehehehehehe……

Konser mini diakhiri dengan makan dan minum di bunderan UGM dan ngeceng nggak jelas di Masjid Kampus……..halah…

Jeda

Posted by senja on 04 Feb 2008 | Tagged as: etc

duniaku memang dunia tanpa koma. tapi sejak 30 hari yang lalu, aku mengambil jeda. jeda panjang, bukan sekedar koma atau titik. hasilnya……aku ditampar rasa rindu yang bertubi-tubi. rindu akan helaan waktu yang cepat dan tanpa ritme……