Tuesday, February 12th, 2008

Daily Archive

Sadisme Media

Posted by senja on 12 Feb 2008 | Tagged as: my opinion

Disadari atau tidak, kejahatan yang terjadi di masyarakat merupakan implikasi dari “teladan” yang sudah diberikan media melalui pemberitaan. Modus operandi berbagai bentuk kejahatan bisa ditiru dari media cetak maupun elektronik. Tidak adanya sensor membuat segala peristiwa bisa direkam dengan amat jelas tanpa tendeng aling-aling…

Hal itu juga yang terlihat dalam berita drama penyanderaan seorang bocah bernama Salma di Makassar kemarin. Salah satu stasiun TV swasta ini, berhasil merekam seluruh peristiwa penyanderaan dari awal polisi mengetahui jejak si penjahat hingga akhirnya tewas karena terjangan peluru. Miris melihatnya, apalagi membayangkan bagaimana trauma yang bakal diderita si Salma yang baru berusia 9 tahun itu. Kamera televisi ini entah mengapa bisa sangat dekat dengan lokasi penyanderaan yang sudah dikepung oleh polisi. Gambar yang sangat jelas itu memperlihatkan bagaimana Salma menjerit-jerit karena mulutnya dibekap oleh si penculik. Tragisnya, kepala penculik dan Salma tidak terlihat namun hanya rontaan yang terdengar serta gerak kaki yang menghentak tanda Salma ingin melepaskan diri. Efek dramatis ini terus berlanjut kala sang penculik memperlihatkan diri di depan umum dengan membawa senjata tajam yang siap menghunus Salma. Salma tetap meronta antara takut dan ingin lari. Polisi seakan tak punya pilihan lain selain melumpuhkan si penculik dengan timah panas. Lebih dari 2 kali tembakan terdengar dan menghujam badan di penculik di bagian perut dan kaki. Bagaimana kejadian itu selanjutnya sudah bisa diduga. Karena si penculik akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya di perjalanan kala akan dibawa ke Rumah Sakit.

Media –khususnya elektronik– yang sama sebenarnya pernah juga melakukan “kejahatan” –setidaknya menurut saya–dengan merekam ekspresi istri Taufik Savalas kala mengetahui sang suami meninggal karena kecelakaan tragis. Sang wartawan dan kameramen sebelumnya sudah mengetahui bahwa Taufik meninggal namun sengaja tak memberitahukan kepada keluarga tentang kejadian itu. Bagaikan reality show, respon sang istri begitu mengetahui kabar itu terekam dengan jelas di layar kaca. Kaget, lemas dan menangis bagaikan gambar yang indah dan diputar berulang-ulang. Sama seperti kejadian penculikan Salma yang diulang hingga 2 kali.

Pasti ada rasa kepuasan dari pewarta setelah mendapatkan gambar itu. Namun toh, apakah rentetan peristiwa itu harus direkam demi kepuasan pribadi semata tanpa mengindahkan perasaan orang lain. Ada banyak cara agar tampilan berita lebih indah dan menarik tanpa melakukan hal-hal yang kebabablasan. Saya, pernah hampir merasa bersalah. Pasalnya, kala itu ada seorang manajer tim sepakbola Indonesia yang tergolek lemas di Rumah Sakit sehari setelah big match di Semarang. Kala itu, hanya pewarta Semarang yang mengetahui kondisi sang manajer. Kami bahkan diperbolehkan masuk ruang ICU. Dari penglihatan mata biasa, kami merasa umur sang manajer sudah tidak lama lagi. Berbagai selang dan alat bantu dipasang. Matanya nanar, napasnya tinggal satu dua. Tidak ada satupun pewarta yang bisa merekam kejadian “berharga”. Hanya kamera HP saya yang bisa digunakan untuk mengabadikan peristiwa langka ini. Setelah gambar diambil, pilihannya hanya ada dua, meloloskan rekaman itu ke media atau tidak. Di satu sisi, gambar ini adalah aset yang berharga, di sisi lain pihak keluarga tidak mau dipublikasikan. Kami menghargai ditengah kesedihan yang amat dalam, pihak keluarga masih mau menerima para kuli tinta. Akhirnya salah satu teman saya, mengatakan, bahwa seadainya ia berada di kejadian itu, ia tidak akan mau ayahnya jadi bahan liputan para wartawan. Ini memang kejadian kecil, namun cukup memberikan pelajaran. Kala akhirnya sang manajer meninggal keesokan harinya, kami jadi tak menanggung beban berlebihan karena lebih mendengarkan kata hati daripada tuntutan kepuasan sesaat semata. Saya juga beruntung, akibat perkataan teman tadi, semuanya tidak jadi kebablasan….