Sadisme Media
Posted by senja on 12 Feb 2008 at 05:56 am | Tagged as: my opinion
Disadari atau tidak, kejahatan yang terjadi di masyarakat merupakan implikasi dari “teladan” yang sudah diberikan media melalui pemberitaan. Modus operandi berbagai bentuk kejahatan bisa ditiru dari media cetak maupun elektronik. Tidak adanya sensor membuat segala peristiwa bisa direkam dengan amat jelas tanpa tendeng aling-aling…
Hal itu juga yang terlihat dalam berita drama penyanderaan seorang bocah bernama Salma di Makassar kemarin. Salah satu stasiun TV swasta ini, berhasil merekam seluruh peristiwa penyanderaan dari awal polisi mengetahui jejak si penjahat hingga akhirnya tewas karena terjangan peluru. Miris melihatnya, apalagi membayangkan bagaimana trauma yang bakal diderita si Salma yang baru berusia 9 tahun itu. Kamera televisi ini entah mengapa bisa sangat dekat dengan lokasi penyanderaan yang sudah dikepung oleh polisi. Gambar yang sangat jelas itu memperlihatkan bagaimana Salma menjerit-jerit karena mulutnya dibekap oleh si penculik. Tragisnya, kepala penculik dan Salma tidak terlihat namun hanya rontaan yang terdengar serta gerak kaki yang menghentak tanda Salma ingin melepaskan diri. Efek dramatis ini terus berlanjut kala sang penculik memperlihatkan diri di depan umum dengan membawa senjata tajam yang siap menghunus Salma. Salma tetap meronta antara takut dan ingin lari. Polisi seakan tak punya pilihan lain selain melumpuhkan si penculik dengan timah panas. Lebih dari 2 kali tembakan terdengar dan menghujam badan di penculik di bagian perut dan kaki. Bagaimana kejadian itu selanjutnya sudah bisa diduga. Karena si penculik akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya di perjalanan kala akan dibawa ke Rumah Sakit.
Media –khususnya elektronik– yang sama sebenarnya pernah juga melakukan “kejahatan” –setidaknya menurut saya–dengan merekam ekspresi istri Taufik Savalas kala mengetahui sang suami meninggal karena kecelakaan tragis. Sang wartawan dan kameramen sebelumnya sudah mengetahui bahwa Taufik meninggal namun sengaja tak memberitahukan kepada keluarga tentang kejadian itu. Bagaikan reality show, respon sang istri begitu mengetahui kabar itu terekam dengan jelas di layar kaca. Kaget, lemas dan menangis bagaikan gambar yang indah dan diputar berulang-ulang. Sama seperti kejadian penculikan Salma yang diulang hingga 2 kali.
Pasti ada rasa kepuasan dari pewarta setelah mendapatkan gambar itu. Namun toh, apakah rentetan peristiwa itu harus direkam demi kepuasan pribadi semata tanpa mengindahkan perasaan orang lain. Ada banyak cara agar tampilan berita lebih indah dan menarik tanpa melakukan hal-hal yang kebabablasan. Saya, pernah hampir merasa bersalah. Pasalnya, kala itu ada seorang manajer tim sepakbola Indonesia yang tergolek lemas di Rumah Sakit sehari setelah big match di Semarang. Kala itu, hanya pewarta Semarang yang mengetahui kondisi sang manajer. Kami bahkan diperbolehkan masuk ruang ICU. Dari penglihatan mata biasa, kami merasa umur sang manajer sudah tidak lama lagi. Berbagai selang dan alat bantu dipasang. Matanya nanar, napasnya tinggal satu dua. Tidak ada satupun pewarta yang bisa merekam kejadian “berharga”. Hanya kamera HP saya yang bisa digunakan untuk mengabadikan peristiwa langka ini. Setelah gambar diambil, pilihannya hanya ada dua, meloloskan rekaman itu ke media atau tidak. Di satu sisi, gambar ini adalah aset yang berharga, di sisi lain pihak keluarga tidak mau dipublikasikan. Kami menghargai ditengah kesedihan yang amat dalam, pihak keluarga masih mau menerima para kuli tinta. Akhirnya salah satu teman saya, mengatakan, bahwa seadainya ia berada di kejadian itu, ia tidak akan mau ayahnya jadi bahan liputan para wartawan. Ini memang kejadian kecil, namun cukup memberikan pelajaran. Kala akhirnya sang manajer meninggal keesokan harinya, kami jadi tak menanggung beban berlebihan karena lebih mendengarkan kata hati daripada tuntutan kepuasan sesaat semata. Saya juga beruntung, akibat perkataan teman tadi, semuanya tidak jadi kebablasan….








Jadi ingat cerita “Hikayat Kebo” oleh Linda Christanty.
aku juga benci media yg tidak punya sense kemanusiaan, menjual penderitaan orang, semoga kamu tidak begitu, setahuku masih banyak jurnalis yg baik n ikut nurani nya
salam kenal yah
untung nja. emang kadang kasian juga. sedihlah.
rasa kemanusiaan memang makin terkikis dgn segala hal yang berbau materi ya….
ah bisa ngritik media ni sekarang..
“sedang” berstatus bukan wartawan,…
malah mau berhenti,…
hihihi…
*nja, photo2 yang dari atas itu ngambil nya dimana?
karena tayangan kriminal ratingnya tinggi.
hueheheehehe…
ketika kita liputan jangan gunakan hati nurani, tapi ketika sudah masuk ke redaksi menulislah dengan hati.
–kata Raya (DTK)–
gak pernah nonton tipi kecuali bola
Baru aku mau Posting tentang tema ini, sebellllllll gw ma wartawan yg model kaya gitu, maaf ya jeng gw marah2 disini
betul juga tuh ! kebebasan pers terkadang malah disalah artikan
yang paling berpengaruh ke saya, gara-gara pernah nonton tabrakan di tipi, jadi takut naek motor kenceng2…
untungnya, saya jarang punya waktu di depan tipi, jadi ya jarang nonton adegan sadis kayak penculikan itu.
stuju,…. wartawannya juga kok yang salah,…
demi sebuah ekslusifitas, demi sebuah gengsi, demi sebuah nama besar,.. terkadang mereka tega mengesampingkan nurani,… parahnya lagi jika demi materi…
Orang sekarang takut MISKIN!!!!
Mereka butuh pekerjaan ini,… bukan profesi ini (wartawan; profesi yang butuh idealisme)
HIDUP SENJA!!!!
versinya orang-orang media : ITU TAYANGAN EXCLUSIVE..!! :p
kejadian spt tsunami aceh juga gitu kan !? diulang-ulang yang bisa menjadi banyak persepsi. bisa iba, terketuk hati untuk menolong dan berbuat kebaikan lainnya. tapi kalau korban tsunami yang melihatnya ? itu makin membuat mereka trauma. *sigh*
Berita kan harus proporsional, Nja.
Ngeliat manfaat dan mudharatnya. Kalo drama penculikan Salma & kisah pilu istri alm. TS, kayaknya emang sadis banget. Tapi ada drama-drama yang memang perlu dihadirkan ke publik, agar publik tahu bahwa di suatu tempat di luar sana sesuatu yg buruk/pahit/pilu sedang terjadi. Tujuannya semata untuk mengusik nurani publik, agar publik melakukan sesuatu dan tak hanya berdiam dirienak2nungsepdisarangnyayangnyaman.
Bayi2 yg sekarat karena busung lapar, korban keganasan siapalahitu di NAD, kasus2 pelanggaran HAM di NAD-Poso-Irak-Afgan… menurut gue masih perlu diketahui publik.
waktu di bandung lagi rame kasus ‘geng motor’ hampir semua acara berita menampilkan rekaman kesadisan. jadinya harus ada lembaga sensor berita donk sekarang?
Sebenarnya yang diperlukan adalah menampilkan informasi secara porposional.
jujur….saya malah ga punya tipi di kost….!!
jadi kuper ttg info media tipi…
ck..ck…jadi sekarang gt ya..????
yup kadang tuh keterlaluan….malah mbikin stress
para pemberi hadiah dan penghargaan foto jurnalistik keknya juga ikut andil dalam melestarikan kekusutan ini; tengoklah penghargaan pada jurnalis yg merekam berbagai peristiwa tragis, dari foto seorang komandan di vietnam yang menembak kepala tawanannya, atau rekaman penembakan wartawan di satu negara di amerika latin, dan rekaman berbagai peristiwa tragis lainnya …
hmm…
makanya saya gak suka nonton2 acara sejenis “Sergap menyergap”, malah bikin parno aja…
media emang punya andil yang sangat besar dalam kerusakan moral rakyat…*masih berharap makin banyak media2 yang bikin moral baik*