Hari ini, armada baru transportasi darat di Jogjakarta mulai beroperasi bernama Bus Trans Jogjakarta (BTJ). Sebenarnya, bus ini sudah mulai disosialisasikan kemarin. Penumpang boleh naik gratis kemanapun sambil nyoba-nyoba beberapa jalur. Cuman karena kemarin hari Minggu, jadi nggak ikutan nyoba karena kampus biru tutup. Nah, hari ini kelar nonton pameran foto (update selanjutnya tentang pameran foto keren…) berangkat deh naik BTJ tanpa tujuan alias cuma pengen jalan-jalan doang, kalau di F1 kegiatan ini dinamakan test drive..yah, beda-beda tipislah…wekekeke…

Eh..sebelumnya, tidak ada salahnya daku menjelaskan dulu apakah BTJ itu…. Sebenarnya konsep BTJ tidak jauh beda dengan Bus Trans Jakarta atau justru kerap disebut sebagai busway. Intinya sih, bus ini menyediakan/menjanjikan pelayanan memuaskan untuk penumpang karena busnya ber-AC, bersih, dan hanya berhenti di halte-halte yang disebar di 76 titik seluruh Jogja. Di halte yang beberapa diantaranya digunakan sebagai Point on Sales (PoS) inilah penumpang bakal turun dan naik menuju ke halte-halte berikutnya tergantung tujuannya. Tujuh PoS, salah satunya di Halte Kopma UGM, para penumpang bisa membeli kartu berlangganan yang bisa digunakan untuk jangka waktu tertentu. Jadi dengan punya member card, penumpang tak perlu repot-repot membawa duit cash setiap akan naik, karena perjalanan –dalam kurun waktu tertentu– sudah dibayar dimuka. Oya, terkadang untuk mencapai satu tempat, penumpang harus berganti dari bus jalur satu ke yang lain. Jika ini terjadi, penumpang tak perlu membayar lagi, karena selama pergantian bus selama dilakukan antar halte/tidak diluar halte, maka itu dianggap sekali jalan. Sebagai awal sosialisasi, kita hanya perlu merogoh kocek Rp 1000. Selanjutnya, ongkos bakal dinaikkan menjadi Rp 3000 sejauh apapun tujuan kita. Sekedar perbandingan, di Jogjakarta bus biasa mematok tarif Rp 2000 jarak jauh/dekat.

Ada satu perbedaan vital yang membedakan BTJ dengan Bus Trans Jakarta. Jika di Jakarta, bus ini melintasi jalur khusus yang ditandai dengan separator yang memisahkan jalur biasa dengan busway, di Jogja tidak ada separator. Jadi BTJ tetap berjalan di jalur biasa bercampur dengan kendaraan lain dan tentu saja kemacetan di beberapa titik. Kenapa tidak ada separator? Pertama, karena lebar jalan-jalan di Jogja tidak seluas Jakarta atau Semarang sehingga sudah tidak memungkinkan pembagian jalan untuk bus khusus dan umum. Kedua, ini semata-mata (dugaan pribadi) dilatarbelakangi alasan kearifan lokal, agar BTJ tidak serta merta mengkhususkan diri dengan dengan dominasi di jalur khusus, sedangkan bus-bus lain masih bergumul dengan macet di jalur biasa. Efeknya waktu tempuh BTJ dari halte ke halte tidak bisa dipastikan. Jangka waktunya sekitar 10-15 menit.

Sekedar info–dari beberapa petugas yang saya tanyai– belum ada demonstrasi penolakan besar-besaran terkait peluncuran BTJ. Semuanya berjalan lancar. Mungkin kuncinya adalah karena beberapa sopir dan trayek bus lama dialihkanke BTJ sehingga tidak ada penumpukan armada. Bahkan beberapa halte BTJ juga berada di dalam terminal pemberhentian/pemberangkatan bus umum seperti terminal Condong Catur dan Jombor. Faktanya, para sopir biasa dan awak BJT gayeng bercanda dan ngobrol :). Satu lagi info penting, BTJ beroperasi hingga pukul 21.30 WIB. Hal ini memecahkan problem angkutan di Jogja yang selama ini hanya beroperasi hingga sebelum magrib.

Balik lagi ke perjalanan saya muter-muter tanpa arah…cukup menyenangkan. Walau berdesakan karena ternyata tidak hanya saya yang jalan tanpa arah, namun penumpang-penumpang lain yang cuma jalan-jalan dari satu halte ke halte lain agar lebih familiar dengan jalur yang dilalui. Anak-anak sekolah juga menyambut gembira, bahkan ada gerombolan pemuda SMP yang merencanakan untuk pergi keliling kota Rabu lusa dengan bus. Ya, halte-halte BTJ memang sengaja di bangun dekat dengan sekolah dan kampus agar memudahkan akses konsumen. Perjalanan yang berawal halte depan RS Panti Rapih, terus melaju hingga SMP 5, Kusumanegara,Umbulharjo, Wirobrajan, Jalan Magelang, Monjali. Pas di tengah jalan daerah Wirobrajan, bus yang saya tumpangi nabrak becak plus sopirnya (tukang. red). Becaknya terbalik. Tukang becaknya marah-marah. Walau nggak luka tapi becaknya rusak. BTJ terus melaju karena penumpang harus mengantarkan penumpang ke halte berikutnya. Pas di halte tujuan, si sopir digelandang ke kantor polisi oleh pak polisi (ya iyalah :p) untuk dimintai pertanggungjawaban. BTJ kemudian meneruskan perjalanan dengan sopir lain. Duh…

Pelayanan awak bus juga memuaskan. Mereka dengan sukarela menjelaskan jalur-jalur yang tidak kita ketahui. Bahkan beberapa kondektur selalu mengumumkan ke halte mana tujuan kita berikutnya. Tentu saja hal ini memudahkan untuk para penumpang awam.

Akhirnya, saya terpaksa turun Monjali karena nggak tahan kelaperan…hehehehe. Akhirnya berganti bus menuju terminal Condong Catur dan pakai bus biasa untuk pulang…capek..tapi menyenangkan jalan-jalan kali ini..

But, saya nggak sempet motret. Suasana bus yang hiruk pikuk dan sesak membuat saya malas untuk motret. Lagian bentuknya kayak bus biasa kok, tapi bedanya di dalam ada tempat dan pegangan untuk penumpang yang berdiri. Akhirnya..seperti yang tertulis di kaca BTJ, “Selamat di datang di kawasan bebas rokok, copet dan pengamen”!!! wekekekeke