Menguntit orang tak dikenal…..
Mungkin sebuah kegiatan yang sedikit menggelikan, namun tidak bagi saya, apalagi yang sejak 2 bulan lalu tak lagi dikejar-kejar deadline harian..hehehehe..

Begini ceritanya…

Kala memarkir motor di gedung Admiral Semarang kemarin, mata saya bersiborok dengan pemandangan aneh. Seorang laki-laki mencengkeram ujung kerah seorang wanita. Namun karena perselisihan (anggaplah seperti itu, karena mana ada percintaan yang diawali dengan kejahatan dan dilakukan di alam bebas terbuka :p) tersebut di areal parkir yang dilalui banyak orang maka si laki-laki tersebut merapatkan badannya yang masih dalam posisi duduk di jok motor se-rapat mungkin dengan sang wanita yang berdiri di samping motor. Si wanita tidak meronta. Mereka terlibat negosiasi yang cukup alot, hingga akhirnya si pria melepaskan cengkraman plus ancaman. Mereka berdua sepakat memasuki gedung Admiral bersisihan karena hari itu adalah hari terakhir pameran buku murah meriah. Kejadian itu mungkin hanya satu meter di depan saya yang baru datang dan membayar parkir. Terlintas di pikiran untuk membantu di wanita untuk membebaskan diri dari pria itu. Namun urung karena belum sampai jambak-jambakan, pukul-pukulan. Si wanita juga tidak meminta pertolongan, pertanda dia masih bisa membela diri sendiri. Si pria juga tidak meneriakkan sesuatu, tanda bahwa masalah masih bisa diselesaikan dan bukan kasus perampokan dan semacamnya sehingga tak perlu di bawa ke polisi. Selebihnya, saya tidak punya dugaan lain.

Naluri saya untuk mengintili mereka lebih jauh pun muncul. Jujur, terbesit bayangan, bagaimana jika pemandangan ini terulang di dalam gedung yang padat pengunjung. bagaimana hebohnya? jika tadi hanya menarik kerah baju, mungkin kali ini menarik yang lain? jika tadi si wanita dan laki-laki bernegosiasi dengan percakapan minim volume, mungkin kali ini tidak….Atau mungkin si wanita butuh pertolongan untuk menggampar pipi di pria atau sebaliknya..dengan senang hati saya akan membantu

Ekpektasi saya terlalu tinggi rupanya. Walau ternyata si wanita menangis. Mengeluarkan air mata, dan berwajah murung sepanjang melihat-lihat stand demi stand buku, namun keduanya tampak rukun. Mengitari rak demi rak. Menyibak buku demi buku. Membuka lembar demi lembar buku yang menarik. Jika mereka asyik masyuk melihat pameran, saya sebagai pihak yang mengintili justru menjadi tidak leluasa. Selain harus menjaga jarak dengan keduanya, juga harus mencari posisi se-nyaman mungkin agar pengintilan tidak terbongkar, dan saya bisa melihat mereka bersandiwara hingga selesai. Oya, tujuan awal cari beberapa buku juga untuk sementara saya lupakan…hehehehe. Yang lebih mengkhawatirkan, mereka adalah ternyata (setelah diinget-inget) wartawan sebuah media elektronik di Semarang. Beruntung mereka bukan kuli tinta bagian olahraga sehingga mungkin tidak familiar dengan tampang saya yang sudah beberapa bulan menghilang dari pentas tulis menulis.

Proses kintil mengintili memakan waktu hampir 1 jam-an dengan tanpa keributan seperti di areal parkir. Mereka melenggang lagi ke tempat parkir dan pulang dengan berboncengan..fiuhhhhhh syukurlah tidak terjadi penganiyaan lagi.

Hal-hal semacam ini sebenarnya sering saya lihat. Dua orang manusia yang terlibat hubungan intim lebih dari kawan, ribut dengan menggunakan kekerasan fisik dan psikologis di depan umum atau minimal di tempat ramai. Mereka tak lagi malu atau menyembunyikan sumpah serapah makian dan pujian. Rela jadi tontonan banyak orang. Persis reality show yang marak di televisi..

Beberapa bulan yang lalu misalnya..

Saat nonton plus liputan ajang otomotif di Stadion Diponegoro Semarang, seorang suami melemparkan seplastik penuh es teh ke muka istrinya dengan amarah membara dan emosi tingkat tinggi. Saking marahnya, lemparan si suami tidak tepat alias melenceng ke badan saya yang berada di dekat istrinya. Alhasil baju saya basah oleh minuman yang bukan milik saya. Si suami melotot, saya pun tak kalah melotot. Si suami berang kepada istrinya, saya pun tak kalah berang. Si istri kaget, saya pun tak kalah kaget. Si suami memaki si istri, saya pun memaki si suami. Enak aja, ribut mah ribut, tapi jangan orang lain yang kena getahnya duoooonkkkkkkkk. Si suami ngeloyor pergi setelah saya katain gila. Dia menstarter motor dengan membawa serta 2 anak mereka dan melempar helm milik istrinya di pelataran stadion dengan keras. Si istri pun ditinggal sendiri tak berdaya tanpa tumpangan. Saya pun tak berdaya dengan baju basah karena hujan es teh.

Peristiwa itu memberikan petunjuk…

Betapa keributan domestik yang seharusnya bisa diselesaikan dengan huru hara baik-baik di rumah, kini menjadi jamak di pertontonkan. Dapat teladan dari manakah mereka ini???