Monday, March 10th, 2008

Daily Archive

Gurita Media

Posted by senja on 10 Mar 2008 | Tagged as: media

Dulu..

Ada pertanyaan tentang bagaimana mengkonsumsi media yang sehat agar tidak terjebak dalam satu pola pikir yang disodorkan media dalam melihat sebuah fenomena/masalah. Salah satu jawaban yang gampang dan paling mungkin adalah dengan sebisa mungkin membaca lebih dari satu media cetak serta lebih banyak melihat tayangan berita di berbagai media elektronik. Dengan lebih banyak menerima informasi dari media yang berbeda diharapkan dapat memberikan informasi yang cukup objektif dalam menilai fenomena dan kemudian bijak dalam mengambil keputusan. Namun apakah hal itu tetap relevan dilakukan sekarang ini…

Mari kita telusuri..

Seperti juga sudah diketahui khalayak umum, semakin kompetitifnya bisnis media membuat banyak perusahaan media melakukan merger dan ekspansi usaha. Selain tentu saja selain itu ada faktor-faktor lain seperti kepentingan politik. Namun secara ekonomis hal ini diyakini dapat membantu kelangsungan hidup media. Dan ternyata setelah ditelusuri satu per satu, hampir tidak ada satupun media yang hanya “bermain” di satu area, selain mengajak “teman” bisnis, mereka juga asyik “melebarkan sayap” untuk tidak hanya menguasai sektor cetak, namun juga elektronik atau sebaliknya…

Mari kita lihat…

Keluarga Sariatmaja yang kini menguasai SCTV, dikabarkan rencananya juga akan menggandeng Indosiar yang tengah kolaps. Di sektor televisi lokal, mereka mendirikan O-Channel, dan juga beroperasi di sedikitnya 2 radio top, yakni Cosmopolitan dan Hard Rock FM. RCTI, TPI dan Global TV sepakat berada di bawah satu bendera Media Citra Nusantara (MNC), yang juga baru-baru ini melahirkan koran anyar bernama Seputar Indonesia. Surya Persindo yang dimiliki oleh Surya Paloh mengawali bisnis media di sektor cetak dengan Media Indonesia yang merupakan produk unggulan grup ini. Selain itu, sang empunya juga turut menanamkan modal di sedikitnya 10 koran/majalah lokal yang tersebar di Indonesia seperti Peristiwa, Aceh Post, Mimbar Umum, Semangat dkk. Di sektor elektronik, mereka berhasil dengan merk Metro TV, produk yang diklaim sebagai televisi berita. ANTV 20 persen sahamnya dikuasai grup Bakrie. Grup Bakrie sendiri berkongsi dengan grup Mahaka milik Eric Thohir untuk mengelola tv baru reinkarnasi Lativi, TVOne. Eric sendiri juga bermain di TV lokal dengan Jak TV dan media nasional Republika. TransTV milik Chaerul Tanjung merger dengan TV 7 (Trans 7) yang merupakan salah satu induk usaha KKG (Kelompok Kompas Gramedia) milik Jakob Oetama yang tak lain adalah bos harian Kompas. Kompas sendiri hingga kini membawahi sedikitnya 23 media cetak baik yang berbentuk, harian, mingguan, bulanan dan dwi bulanan. Setali tiga uang dengan Jawa Pos Group yang setidaknya hingga kini mempunyai induk penerbitan di lebih dari 50 media cetak seluruh Indonesia. Belakangan mereka juga membuat JTV (Surabaya) dan sedang membangun Malioboro TV di Jogjakarta. Di jajaran televisi lokal, ada kelompok Bali TV yang kini membawahi 7 stasiun televisi di 7 daerah, baik yang sedang proses berdiri maupun yang sudah berkibar. Sebut saja, Bandung TV (Bandung), Jogja TV (Jogjakarta), Cakra TV (Semarang), Surabaya TV (Surabaya), Aceh TV (NAD), Balikpapan TV (Balikpapan), Makasar TV (Makasar TV).

Ini hanya sebagian fakta betapa gurita media sudah semakin parahnya di Indonesia. Belum lagi radio yang kini juga mengarah pada gejala yang sama. Beberapa stasiun radio, mulai mengadakan siaran yang bisa didengarkan di beberapa kota sekaligus misalnya yang sudah dilakukan oleh Elshinta, Sonora, Female, Prambors dll.

Nah…itulah peta media Indonesia. Lantas, masih relevankah jawaban atas pertanyaan diatas?????

*sebenarnya saya sudah lama nyusun peta gurita media dari berbagai sumber, tapi ternyata jadinya buanyak dan puanjang banget…. disusun dengan aneka warna agar memudahkan untuk melihat…tapi, kayaknya ‘ndak cukup di taruh di blog..jadi di poto ajalah….semoga bisa dilihat dengan jelas dari kejauhan :p (mana mungkin…hehehe)