Ketika Media dan Olahraga Bersatu
Posted by senja on 21 Mar 2008 at 05:27 am | Tagged as: media
Krisis Tibet menjadi perhatian dunia akhir-akhir ini. Selain karena kawasan yang disebut-sebut sebagai atap dunia ini terkenal dengan kedamainan dan ketentramannya tiba-tiba porak poranda, juga karena kesimpangsiuran informasi mengenai korban jiwa dalam kerusuhan lokal tersebut. Pihak Tibet mensinyalir bahwa korban berkisar pada angka ratusan, apalagi saat demonstrasi terjadi, pihak keamanan Tiongkok begitu represif sehingga keadaan justru menjadi sangat destruktif. Di lain sisi, pemerintah Tiongkok menolak angka tersebut. Mereka mengatakan bahwa tidak ada satupun pihak keamanan Tiongkok yang mengamankan aksi “brutal” tersebut. Korbanpun hanya puluhan bukan ratusan seperti yang dilansir kubu pemerintahan Tibet. Belakangan ada publikasi dari video amatir seorang turis yang memperlihatkan bahwa saat demonstrasi pihak keamanan Tiongkok ikut meredam aksi itu. Sehingga untuk sementara klaim pemerintah Tiongkok terbantahkan.
Konflik Tibet, saya yakini bukan hanya pada masalah tuntutan otonomi luas–jika tidak bisa disebut kemerdekaan– yang mereka minta kepada pemerintah Tiongkok. Namun juga masalah antar etnis yang saling ingin menggulingkan dominasi. Masalah-masalah yang terkait dengan isu primordial seperti ini memang kerap terjadi dimana dalam satu wilayah tidak hanya dihuni oleh satu suku/kultur saja. Apalagi jika jumlah masing-masing suku tidak terpaut begitu jauh sehingga tingkat heterogenitasnya tinggi.
Di luar itu semua, pemerintah Tiongkok memang patut was-was dengan krisis ini. Bagaimana tidak, tahun ini mereka harus menggelar even olahraga terbesar sejagat, yakni Olympiade Beijing 2008. Pesta olahraga yang tidak hanya bisa menunjukkan kekuatan di bidang olahraga saja, tapi juga untuk pemberdayaan ekonomi. Di saat persiapan matang sudah sampai tahap akhir, media menyebarluaskan berbagai gambar tentang krisis Tibet. Bahkan beritanya mengalahkan hiruk pikuk persiapan Olympiade itu sendiri. Alhasil, pihak-pihak yang kontra dengan Tiongkok ramai-ramai memboikot event itu. Beberapa artis pendukung dan atlet kenamaan, kabarnya memang sepakat untuk tidak hadir di Beijing jika kekerasan di Tibet masih terjadi. Panitia Olympiade konon kebingungan karena tanpa nama-nama terkenal yang rencananya ambil bagian, even besar ini jadi kehilangan daya tarik.
Jika media intens untuk memberitakan masalah ini bukan tidak mungkin Olympiade kali ini bakal sepi penonton dan peserta. Mungkin juga ini bakal menjadi sejarah penerus dimana even olahraga bisa menjadi ajang protes untuk sebuah kekacauan yang memakan banyak korban jiwa. Ahhhh…kita tunggu saja kelanjutannya…..








berefek luas ternyata ya..?
dan hebatnya, dunia olahraga pun punya sikap juga. gak cuma mementingkan prestasi aja.
ada yang mencuri spotlight.
Perwakilan gelombang protes Tibet sudah menyerukan untuk meramaikan Olimpiade beijing dengan aksi jalan kaki bersama, dari Tibet sampai ke China bertepatan dengan olimpiade. Jelas ini ditujukan untuk menarik simpati dunia agar mendukung perjuangan Tibet (kalo bisa merdeka..)
sbg wakil media dan olahraga, kmu condong kmana nja???….
Kita ikuti perkembangannya, moga-moga membuka mata penguasa untuk lebih bersikap peduli pada rakyat.
tibet, aku ingin kesana. sendirian saja.
yup bener..disini orang2 mau memboikot olympiade beijing…
tibet, aku pengin kesana dan mandi di hotspring di himalaya diantara salju
In this modern world nowadays, everything is interconnected, and inter-affected. from Global Warming, its policy of a country, and so forth… protests, boycotts and whatever reciprocal action - you name it are by product of such action..
May we all become a responsible citizens of the world and living the life responsibly, so less conflict and chaos are spurring..
Nice to have found this blog and kind regards from west africa, where we are working hard for peace.
yg pertama terpikir adalah ketika wartawan olah raga jadi pengamat politik ternyata ok juga ya…:). separatisme dari sisi penguasa, atau kemerdekaan dari sisi pejuangnya, adalah persoalan yang pelik; namun ada saatnya orang harus mengambil sikap, terutama ketika korban mulai berjatuhan.
cocok jadi bu dosen:D*ditonjok senja*
kok perhatian terhadap palestina kurang ya
gara2 udah terlalu lama ya
padahal tindakan israel pada palestina jauh lebih parah daripada cina pada tibet
tetap dukung juga la kemerdekaan palestina
Imgar: Yang berani bersikap biasanya atlet yang sudah skala intenasional sehinga efeknya jelas terlihat, dan tentu saja yang tidak hanya menyandarkan diri pada olympiade sebagai satu2nya ajang mengukur prestasi.
Ikram: Mumpung Kram…momentum kan tidak bisa diulang :p
Leksa: Mari kita lihat berhasil atau tidak..
Indri: Condong pada perdamaian mas, seperti juga spritir yang dibawa oleh olahraga, kompetisi yang jujur tanpa melukai lawan.
Edratna: Amien….berdoa sama-sama bu
Kw&Wieda: Saya nitip oleh2 poto yaaa…hahahahahha
Domba Garut: Tibet dan Tiongkok butuh orang-orang kayak sampeyan bung..Salam dari Semarang.
Aroengbinang: Setuju…dan akan bertambah pelik jika negara lain sok ikut campur dengan alasan perlindungan HAM….padahal hanya mencari untung..
Nico: Gw nggak pernah nonjok nic, cuma….wakakakakaka..
aAng: Mungkin karena masyarakat dunia semakin jenuh dengan kasus Palestina…karena harus berhadapan dengan standar ganda Amerika. Tapi apapun itu, seharusnya tidak ada lagi pertumpahan darah di muka bumi ini bukan???
My love and pray for Tibet. dimanapun penjajahan tidak bisa diterima. banyak korban, hanya Tibet tak banyak diekspos, tak banyak yg peduli. kalau peduli Tibet bukan berarti kita ignore Palestin toh