Media di Tengah Konflik
Posted by senja on 24 Mar 2008 at 07:56 am | Tagged as: media
Masih tentang kerusuhan Tibet yang semakin memakan banyak lakon untuk bergabung ikut serta…
Baru-baru ini pemerintah Tiongkok mengecam pemberitaan media-media asing yang meliput kerusuhan Tibet. Mereka mensinyalir apa yang diberitakan oleh media asing tersebut lebih banyak melenceng dari pada benarnya. Semuanya memojokkan pemerintah resmi dan mendukung perjuangan Tibet serta Dalai Lama (pemimpin spiritual Tibet, red.). Belum lagi klaim-klaim dukungan negara-negara tetangga yang juga menjadi konsumsi empuk para media untuk menempatkan pemerintah Tiongkok sebagai pihak yang salah dan sebaliknya demonstran Tibet sebagai kubu yang benar. Pihak pemerintah menuding awak media tidak lagi menjadi pemadam kerusuhan dengan memberitakan kebenaran namun justru menerapkan standar ganda yang menguntungkan sebagian pihak.
Puncak dari kejengkelan pemerintah Tiongkok terhadap media asing khususnya Amerika dan sekutunya tersebut adalah dengan mengunci Tibet dari akses penduduk asing. Baik yang dalam kapasitas sipil biasa seperti wisatawan juga yang berprofesi sebagai kuli tinta. Kantor-kantor berita dan wartawan asing seperti CNN dan AFP juga dibatasi. Bahkan kabarnya sambungan telepon mereka disadap oleh pemerintah setempat. Pasca beredarnya video-video amatir wisatawan yang menunjukkan campur tangan aparat keamanan Tiongkok dalam meredam massa, posisi pemerintah memang kian terjepit. Dengan menyumbat akses media asing, pemerintah berharap informasi yang diterima dunia internasional hanya berasal dari satu pintu sehingga spekulasi bisa diminimalisir.
Di satu sisi, keinginan pemerintah agar negara asing–melalui medianya– tidak ikut campur dalam urusan domestik negaranya memang patut diacungi jempol. Terlepas apakah ini adalah bentuk kekuasaan yang otoriter dan tertutup atau tidak namun, campur tangan asing memang seringkali kerap merugikan dari pada sebaliknya. Dalam sebuah konflik, media rentan digunakan untuk kepanjangan tangan kepentingan tertentu dan bukannya berdiri sebagai penengah. Atau dalam bahasa jurnalistik, mereka tidak mengembangkan jurnalisme damai namun justru jurnalisme perang. Konflik atau perang bagi sebagian orang adalah sebua bencana karena mendatangkan penderitaan dan semacamnya, namun di satu sisi, juga menguntungkan bagi yang ingin memanfaatkan kondisi ini.
Dalam banyak kasus, perang informasi yang terkadang dimenangkan oleh media yang menguasai pasar dan didukung dengan infrastruktur yang kuat membuat sekelompok orang berusaha untuk mengimbanginya. Coba tengok buku yang ditulis salah satu wartawan Metro TV Meutya Hafid, “168 Jam Dalam Sandera, Memoar Jurnalis Indonesia Yang Disandera di Irak” (Hikmah Memoar, 2007). Beberapa kali ia menuliskan bagaimana penyandera berusaha memberikan informasi yang mereka anggap benar–dan dipelintir oleh media asing– dengan mempublikasikan video-video amatir di televisi yang mau mensuport perjuangan mereka. Atau baca saja, buku “Luka Aceh, Duka Pers” (Kippas, 2002) yang menceritakan betapa media tidak membuat konflik dan perang jadi selesai namun sebaliknya.
Maka, satu-satunya pilihan yang cukup waras, adalah kembalikan pers pada rel-nya yang berpihak pada kebenaran universal dan bukan pada kebenaran individu/golongan…








hiks..hiks..benar nja, media kalau tidak adil hanya nambah konflik. aku sudah merasakannya di konflik aceh dulu
lha iyo yo
konflik-konflike itu kapan rampunge ya?
ngelus dodo je,..
sepertinya susah nja…
mulainya dari mana ya ? orang media nya ? atau yang mengkonsumsi media itu yang pilih2 ?
yg saya pelajari waktu kuliah dulu, media kan harusnya berimbang dan pemberitaannya tidak beropini. tapi dalam perkembangan sekarang, makin hari memang makin tidak berimbang, selaras dgn minat dan kepentingan org2 di balik media itu sendiri. akhirnya media sama saja dgn anggota masyarakat lain dan juga politikus…..karena kok jadi ikut berpolitik juga dalam porsi pemberitaannya…….
susah bu..!!!!
itu bnr2 konlik idealis,….
china dgn sistem komunis….dan beda dgn tibet..
kabar dila lama gimana ya..???
Meiy: ooo Termasuk orang yang merasa dirugikan oleh media ya mbak..heheheh
Ndoro Seten: Lha saya juga ndak tau, kapan selesenya, terlalu banyak yang menikmati je..
Sofianblue: Memang susah, tapi bukankah kita musti berusaha..
Imgar: Semuanya harus mulai. Media, regulasi, pemerintah, masyarakat…kalo sendiri-sendiri bukankah akan makin susah??
Jeng Endang: Begitulah, makin pelik, sama sekali melenceng dari teori yang sebenarnya
EsCoret: Beda detailnya, tapi konteksnya sama …
Medmass yg independen, obyektip, tanpahprasangkah… (iyaaa, ini nyontek mediaapalahitu!–> ngaku duluan sebelum diprutes) kayaknya ada.
… di angan2.
ada kaitan dgn teori konspirasi?*bertanya-tanya*
Benar nja..Media memang nga boleh timpang sebelah harus bisa berada ditengah, nga boleh memihak kesalah satu pihak yang sedang konflik
Boss,
Memang dalam dunia global dan setting pergaulan internasional modern macam ini, media adalah sering dipakai sebagai enhancement tools bagi manuver politik, terutama mereka yang menguasai media mainstream.
Pemerintah disana, memang mempunyai hak untuk membatasi dan sebaliknya, sama dengan halnya pemerintah kita sendiri. Semua tergantung apa yang ingin dicapai. Semua berpulang dari kepribadian (pemerintah) masing-masing.
Kita sebagai anggota khalayak grass-root juga mesti pinta melilah mana berita yang sebenarnya dan mana yang “fabricated” news..
Salam hangat dari afrika barat!
Dew: Angan2 klo kita tidak bergerak untuk memperbaikinya..
Nico: Mungkin ada nic, harus bikin penelitian untuk membuktikannya
Nuuii: Yup…
Domba Garut: Yap. Bener kang….pembaca memang musti kritis dan rasional. Salam hangat kembali..
media massa !!??
antara bersedekah ilmu, informasi,,, ataukah komersil, uang.
antara proses pembelajaran dan pendewasaan ….. ataukah pembodohan dan kekanak2an.
percaya atau tidak ada yang merasa spt ini karena media!
“tidak semua tetapi ada”, baik pelaku media ataupun penikmatnya.
Sepanjang yang saya tahu sih, wartawan harus sering-sering bertanya pada dirinya sendiri: Apa relevansi cerita ini bagi pembaca saya?
dari dulu seharusnya pers itu milik rakyat..