Sebuah produk tentunya tidak hanya mementingkan keindahan bungkus semata untuk menarik perhatian pembeli. Tampilan memang penting tapi kualitas isi juga tak boleh di lupakan.

Ehmmm…di saat media sedang berlomba-lomba untuk menampilkan “wajah” yang makin menarik, entah itu berupa ukuran halaman yang kini hanya 7-8 kolom, layout enak dilihat dan foto yang indah, kadang isi berita jadi prioritas nomor sekian. Apalagi jika media menjadi entitas bisnis dan bukan lembaga sosial yang jauh dari kepentingan uang semata. Hal ini, kemudian juga mempengaruhi perangai sebagian pekerja media yang lebih mementingkan berita yang laku dijual daripada berita yang mendidik dan bisa menjadi sarana kontrol sosial. Dilema semacam ini memang kerap terjadi, karena sebagai perusahaan yang profit oriented laba tetap harus dihitung…padahal bisnis media tidak semata-mata profit dan profit saja..

Kritik membangun tentang kinerja media dalam negeri, terutama terkait dengan ketajaman dalam membedah masalah disampaikan dengan amat lugas oleh Menkes RI Siti Fadilah Supari. Dalam buku “Saatnya Dunia Berubah” beberapa kali ia mengkritik media yang ternyata lebih suka melihat fenomena flu burung dari sisi hebohnya sehingga mudah termakan isu miring yang jauh dari esensi kasus itu sendiri.

buku menkes

 

Dalam buku itu, Menkes membeberkan keterkaitan campur tangan WHO -yang merupakan kepanjangan tangan AS- dalam menciptakan gonjang-ganjing flu burung yang melanda negara-negara dunia ketiga seperti Indonesia dan Vietnam. Semua negara wajib mengirim sample virus kepada WHO dengan dalih penelitian. Namun negara pengirim tidak mendapatkan hasil dari penelitian tersebut. Dan bahkan kemudian membuat ramuan obat sendiri yang ditawarkan kembali ke Indonesia. Indonesia harus membeli dengan dana yang tidak kecil. Sialnya, media Indonesia justru tidak menangkap esensi dari isu flu burung ini sebagai bentuk penjajahan baru negara-negara kuat kepada negara lain. Namun justru hanya menyoroti kegagalan pemerintah dalam menghalau penyakit mematikan ini.

Menkes kemudian mengkritik “media selalu hiruk pikuk dengan seribu warna. Tetapi saya tidak mengerti adalah mengapa media massa internasional sangat jitu menangkap inti permasalahannya. Sedangkan media massa di dalam negeri kurang mengerti intinya. Pemberitaan sangat lucu sekali”. (hal 37)

 

Wahhh..kalau membaca media massa pada waktu itu frustasi deh. Bukan karena mereka menghujat saya. Tetapi saya prihatin; sedemikian miskinnyakah pengetahuan saudara-saudara kita dalam menganalisi suatu masalah. Media kita telah kehilangan substansi.” (hal 37)

Dan masih banyak lagi keluhan Menkes tentang media Indonesia. Bahkan secara tidak langsung ia justru memuji media asing yang mampu “membantu” negara ini dalam perang diplomasi dan pembentukan opini publik di rapat-rapat WHO… Berkat kejelian wartawan asing dalam menangkap isu sehingga Amerika justru berada di pihak yang terpojok.

Kegelisahan Menkes seharusnya juga menjadi kegelisahan kita semua sebagai pembaca media.Terkadang sensivitas para pekerja media memang harus terus diasah walau karena rutinitas, sensivitas itu bisa saja berkurang atau bahkan hilang. Celakanya jika sikap kritis dan empati justu sengaja dihilangkan hanya untuk mengejar jumlah penjualan yang sudah ditargetkan serta kepentingan politik tertentu. Hitung-hitungan matematis lantas mengalahkan cara berpikir logis dan kritis..maka bersiaplah untuk menuju kepada matinya media….