Arus modernisasi kota terkadang jauh meninggalkan masyarakat yang tidak punya akses dan marginal. Saat kesadaran itu bangkit, bersamaan dengan itu pula kerinduan kita terhadap semua hal yang tradisional seperti bertalu-talu. Menggedor hati-hati yang asing di tengah bising kota dan hingar bingar kampus. Adalah pasar Johar yang tetap berdiri di tengah maraknya pembangunan mall dan hypermarket di Semarang. Pasar Johar adalah sebuah identitas akan denyut nadi perekonomian masyarakat kebanyakan. Pasar Johar adalah etos kerja sekaligus potret tanpa bingkai.

Lapak Pasar Johar

Siang itu, Semarang ditutup mendung setelah seharian sebelumnya diguyur hujan rintik-rintik. Namun hawa panas Semarang tak tertahankan lagi. Peluh saya berkali-kali mengalir, walau berkali-kali pula sudah diusap dengan lengan baju. Saya tidak langsung masuk ke pasar Johar. Namun ke bagian seberang samping bekas bangunan Matahari Dept. Store. Ini bukan area resmi pasar Johar, mungkin semacam pasar tumpah. Memanfaatkan pembeli yang banyak berdatangan ke Johar. Di lorong ini macam-macam barang dijual. Mulai, sayur mayur, jajanan, vcd bajakan, buah-buahan, sepatu, pakaian anak-anak dan dewasa. Yang membuat takjub, ada beberapa kios yang menjual barang-barang langka yang dulu sempat akrab kala masih anak-anak. Seperti jajanan jadah panggang. Di Jogja panganan macam ini, dimakan bersama tempe bacem sekitaran Kaliurang. Waktu kecil, makanan ini adalah kue mewah mengalahkan snack penuh penyedap rasa. Sebiji harganya seribu. Saya beli dua. Dua ribu. Lurus ke depan, ternyata pangkalan angkot segala jurusan. Saya lantas menjadi “santapan” empuk para sopir agar mau naik salah satu armada mereka. Tapi tawaran mereka lebih mirip “menyalak” dari pada “mengajak”. Ah sudahlah……

Jadah Panggang di Pasar Johar

Kembali ke ujung gang yang tadi. Ada penjual soto. Cocok dengan perut yang keroncongan dibakar matahari mengintip. Makan soto di pasar? Ehmmm….tampaknya enak. Selesai menuntaskan “sarapan siang” perjalanan dimulai lagi. Ternyata di sekitaran pasar Johar, ada Hotel Johar Semarang. Kecil dan bercat kuning. Fasilitas pendukung pasar, ternyata tak hanya pengkalan angkot, tapi juga penginapan.

Soto di Pasar Johar

Oke mari kita menelusuri pasar Johar. Bangunan masa Belanda yang diarsiteki Thomas Karsten (1884-1945) ini terdiri dari dua lantai. Lantai pertama, dihuni penjual baju, buah-buahan, vcd, kain gorden, peralatan rumah tangga, tas, sepatu. Koridor-koridornya makin sempit karena kanan kirinya kini juga ditempati penjual-penjual yang tidak berkios permanen, seperti penjual jam tangan, reparasi elektronik, bandeng, es dan makanan. Di lantai dasar inilah, jika air laut pasang, pasar juga terkena imbasnya, karena air rob masuk. Problem yang dari dulu hingga kini tak terpecahkan.

Stand Ember Plastik di Pasar Johar
Buah-buahan di Pasar Johar
Semangka
Lantai dasar dan lantai atas dihubungkan dengan tanga-tangga kecil. Selain para penjual peralatan dapur, piala dan tropi, aneka kacamata, jam tangan, batu akik, aksesoris, dan beberapa kios makanan, kita bisa melihat pilar-pilar penyangga pasar. Unik dan apik. Atap-atap pasar yang disebut atap cendawan berbentuk segi delapan yang dibagian pinggirnya terbuka. Tujuannya untuk alur sirkulasi udara agar para penjual tak kepanasan. Sebuah arsitektur ramah lingkungan karena penghuninya tak lagi perlu AC. Model bangunan atap cendawan ini ternyata juga diadopsi arsitek Amerika, Frank Lloyd Wright yang membangun Johnson Wax Building di Wisconsin, AS.

Atap Cendawan Pasar Johar

Untuk menghubungkan pasar pertama dan kedua, pengunjung difasilitasi dengan sebuah jembatan penyeberangan di lantai 2. Tiba-tiba terdengar huru-hara. Seorang anak kecil dikelilingi anak-anak lainnya menangis, meraung-raung. Tampaknya ia diomelin oleh seorang ibu. Entah apa yang terjadi. Si kecil berjalan keluar dari arena keramaian dengan mengusap mata serta memegangi perutnya sebelah kiri, mungkin sakit bekas cubitan. Saya baru tahu sebab musababnya saat gerombolan kecil itu lewat di depan saya. “Masak nyuri satu jeruk aja nggak boleh, nyuri setengah juga nggak boleh…”, ujar salah satu dari mereka. Arggggg…..

Inilah potret itu. Inilah para pemukim tuna akses. Di sini kehidupan jauh lebih keras dibandingkan panggung-panggung mall dan hypermarket. Dan disinilah seharusnya para wakil rakyat dan pemimpin kota datang melihat dengan hati nurani……..

*Beberapa informasi teknis berasal dari majalah Tempo edisi 18-24 Juni 2007, rubrik selingan.
* Beberapa foto lain, bisa diliat di flickr saya yang kedua, soalnya yang di samping hampir penuh…