Tentang Pasar Johar
Posted by senja on 23 Apr 2008 at 04:47 am | Tagged as: foto, etc
Arus modernisasi kota terkadang jauh meninggalkan masyarakat yang tidak punya akses dan marginal. Saat kesadaran itu bangkit, bersamaan dengan itu pula kerinduan kita terhadap semua hal yang tradisional seperti bertalu-talu. Menggedor hati-hati yang asing di tengah bising kota dan hingar bingar kampus. Adalah pasar Johar yang tetap berdiri di tengah maraknya pembangunan mall dan hypermarket di Semarang. Pasar Johar adalah sebuah identitas akan denyut nadi perekonomian masyarakat kebanyakan. Pasar Johar adalah etos kerja sekaligus potret tanpa bingkai.


Siang itu, Semarang ditutup mendung setelah seharian sebelumnya diguyur hujan rintik-rintik. Namun hawa panas Semarang tak tertahankan lagi. Peluh saya berkali-kali mengalir, walau berkali-kali pula sudah diusap dengan lengan baju. Saya tidak langsung masuk ke pasar Johar. Namun ke bagian seberang samping bekas bangunan Matahari Dept. Store. Ini bukan area resmi pasar Johar, mungkin semacam pasar tumpah. Memanfaatkan pembeli yang banyak berdatangan ke Johar. Di lorong ini macam-macam barang dijual. Mulai, sayur mayur, jajanan, vcd bajakan, buah-buahan, sepatu, pakaian anak-anak dan dewasa. Yang membuat takjub, ada beberapa kios yang menjual barang-barang langka yang dulu sempat akrab kala masih anak-anak. Seperti jajanan jadah panggang. Di Jogja panganan macam ini, dimakan bersama tempe bacem sekitaran Kaliurang. Waktu kecil, makanan ini adalah kue mewah mengalahkan snack penuh penyedap rasa. Sebiji harganya seribu. Saya beli dua. Dua ribu. Lurus ke depan, ternyata pangkalan angkot segala jurusan. Saya lantas menjadi “santapan” empuk para sopir agar mau naik salah satu armada mereka. Tapi tawaran mereka lebih mirip “menyalak” dari pada “mengajak”. Ah sudahlah……
Kembali ke ujung gang yang tadi. Ada penjual soto. Cocok dengan perut yang keroncongan dibakar matahari mengintip. Makan soto di pasar? Ehmmm….tampaknya enak. Selesai menuntaskan “sarapan siang” perjalanan dimulai lagi. Ternyata di sekitaran pasar Johar, ada Hotel Johar Semarang. Kecil dan bercat kuning. Fasilitas pendukung pasar, ternyata tak hanya pengkalan angkot, tapi juga penginapan.
Oke mari kita menelusuri pasar Johar. Bangunan masa Belanda yang diarsiteki Thomas Karsten (1884-1945) ini terdiri dari dua lantai. Lantai pertama, dihuni penjual baju, buah-buahan, vcd, kain gorden, peralatan rumah tangga, tas, sepatu. Koridor-koridornya makin sempit karena kanan kirinya kini juga ditempati penjual-penjual yang tidak berkios permanen, seperti penjual jam tangan, reparasi elektronik, bandeng, es dan makanan. Di lantai dasar inilah, jika air laut pasang, pasar juga terkena imbasnya, karena air rob masuk. Problem yang dari dulu hingga kini tak terpecahkan.



Lantai dasar dan lantai atas dihubungkan dengan tanga-tangga kecil. Selain para penjual peralatan dapur, piala dan tropi, aneka kacamata, jam tangan, batu akik, aksesoris, dan beberapa kios makanan, kita bisa melihat pilar-pilar penyangga pasar. Unik dan apik. Atap-atap pasar yang disebut atap cendawan berbentuk segi delapan yang dibagian pinggirnya terbuka. Tujuannya untuk alur sirkulasi udara agar para penjual tak kepanasan. Sebuah arsitektur ramah lingkungan karena penghuninya tak lagi perlu AC. Model bangunan atap cendawan ini ternyata juga diadopsi arsitek Amerika, Frank Lloyd Wright yang membangun Johnson Wax Building di Wisconsin, AS.
Untuk menghubungkan pasar pertama dan kedua, pengunjung difasilitasi dengan sebuah jembatan penyeberangan di lantai 2. Tiba-tiba terdengar huru-hara. Seorang anak kecil dikelilingi anak-anak lainnya menangis, meraung-raung. Tampaknya ia diomelin oleh seorang ibu. Entah apa yang terjadi. Si kecil berjalan keluar dari arena keramaian dengan mengusap mata serta memegangi perutnya sebelah kiri, mungkin sakit bekas cubitan. Saya baru tahu sebab musababnya saat gerombolan kecil itu lewat di depan saya. “Masak nyuri satu jeruk aja nggak boleh, nyuri setengah juga nggak boleh…”, ujar salah satu dari mereka. Arggggg…..
Inilah potret itu. Inilah para pemukim tuna akses. Di sini kehidupan jauh lebih keras dibandingkan panggung-panggung mall dan hypermarket. Dan disinilah seharusnya para wakil rakyat dan pemimpin kota datang melihat dengan hati nurani……..
*Beberapa informasi teknis berasal dari majalah Tempo edisi 18-24 Juni 2007, rubrik selingan.
* Beberapa foto lain, bisa diliat di flickr saya yang kedua, soalnya yang di samping hampir penuh…











nanti mereka datang bawa pengawal malah ngerepoti, jeng…..lha mereka mana mau masuk pasar gitu tanpa kawalan…..*ah, sok tau banget saya….*
hunting foto di pasar johar ?
eh, dulu sempat ribut2 pasar ini akan direvitalisasi. gimana skrg ? gak jadi ya ? bagus lah..ini kan karya Thomas Karsten.
sempet2nya nja lu moto. ga liatin orang2 apa?
pasar spt ini yg asik. masih kental dg nuansa kekeluargaan jauh dari kesan buruk modernisasi. waw..
aku pernah hunting buku di situ. dapat small is beautifull-nya e.f. schumacher, asian drama-nya myrdall dan homo ludens-nya johan huizinga. dulu… sekira awal tahun 2005.
kaya apa ya, sekarang? apa lapak2 bukunya masih banyak juga di sana?
gw selalu suka dengan pasar rakyat di pagi hari,..
di bandung dulu dekat dengan kost dan tongkrongan (nginap) kampus..
di Yogya juga dekat kostan .. hahaha..
Love it!
*cek email bu, ada kado…
Beberapa kali ke Semarang, ga sempat mampir pasar Johar. Pasar Johar saya kenal dari ceritanya Nh Dini…..
aku ke pasar johar cuma lihat-lihat zen berburu buku bekas.
wah ini nih macam postingan yg aku suka… sangat informatif dan gak membosankan …. secara sekarang bnyk yg ngepost asal2an….
pantes masuk rubrik majalah nih liputannya
haduh haduh..mbakku satu ini kok blusukan sampe pasar Njohar.. kok ga ngajak2 tho Mbak hee ….
Wartawan kurang kerjaan. Biasa ngliput sepakbola, tau-tau jadi ‘pengangguran’, ya semangka pun difoto, hehe.
BTW, kemarin dulu ketemu di Jatidiri itu kamu lebih cantik dari sebelum-sebelumnya. Jujur loh!
Nja…kmu gak ikutan dicubit??? MOto2 doang, tanpa beli…hihiiii…..
sesekali main ke semarang,, tpi blm sempet jalan ke pasar johar…
Hunting… for books..
wah keren belanjanya, eh liputannya
waktu kecil dulu sering minta ngikut mama pergi ke pasar, tapi karena males tiap ngajak daku pasti minta beli mainan… supaya daku ga ikut mama selalu bilang mau pergi ke pasar becek tiap kali mau ke pasar tradisional (karena memang pasar itu selalu becek)
akhirnya daku juga gak suka lagi pergi ke pasar tradisional… jadi jangankan pejabat, daku juga kadang masih mikir klo mau ke pasar itu… mungkin juga para pemimpin kita kena trik yang sama dengan daku oleh ortunya
kalo mau nemuin rakyat mestinya di sini ya nja…aku suka pasar tradisional, ada nuansa tersendiri yg lebih berasa.
saya kalo di pasar rada gak enak sambil motret2 gitu. orang pasar kadang suka curiga sama apa yang kita lakukan.
@ meiy : itulah yang terjadi di jawa barat. pada (kampanye) pilkada kemaren, pasangan HADE lebih milih masuk ke pasar buat kampanye. ketemu ibu2 dan rakyat. makanya dia menang dan jadi gubernur jabar..
ah…pasar johar…belum pernah aku masuk situ. cuma denger ceritanya dari mak ku. waktu masih kecil kali aku ke situ. mana ingat.
Jeng Endang: Iya ya jeng, mana becek nggak ada ojeg :p
Imgar: Revitalisasinya masih nggak ketemu juntrungnya. banyak kepentingan…jadi nggak jelas.
Nico: Diliatin cuek aja..soalnya mereka pada punya mata sih nic…wakakaka
Anang: Yup bener bgt, nggak kayak hypermart..
Zen: Nah itu dia, kemarin tak cariin kok g ada ya penjual buku2 itu…apa nyelip dimana..nymepil mungkin, tapi kayaknya udah nggak ada…hiks hiks..kapan2 deh gw cariin lagi..
Leksa: Lu musti coba ke pasar Johar..banyak makanan tradisional..hehehe. btw, thx kadonya..
Edratna: Hmmm..nanti Senja ajak ke sana bu, klo ibu ke Semarang…
Ikram: Hahahaha..klo ke Semarang gw ajak liat-liat Senja jajan di pasar Johar..
Ichaawe: Waduh ..biasa aja kli mbak..
Maze: Gimana caranya ngajak situ..tuan super sibuk..
Arief: Kadang sepakbola juga mirip dengan adegan di pasar2 itu kang..hahahah
Indri: Nggak donk, kan pke strategi..
Alf: Menu wajib yang musti di coba
Ray: Gw juga g terlalu sering ke pasar tradisional. penah dulu sekalinya ke pasar ikan, muntah2 gara penjualnya pada motongin ikan ampe muncrat2…hiiiii
Meiy: Pantas dicoba ya mbak buat pada pasangan calon
Antown: Iya mas…untung saya nggak dicurigain
Imgar: Thx atas penjelasannya..semoga pasangan calon ada yang baca :p
Tita: Kapan ke Semarang lagi????
Hmm.. saya belum pernah kesana. Tapi, dengar cerita, seperti ada selaksa kenangan dan cerita.
Hmmm
itu soto apa nja? Nga penting kok nanya sotonya [maklum dech sampe jam 3 gini blom sempet makan siang :D]
Pasar Johar, iya arsitekturnya bagus.. waktu beberapa waktu lalu ke semarang itu sempat kesana. suka semarang dengan bangunan-bangunan tua nya
Bener jeng, atap cendawannya itu memang menakjubkan ..
wah jadi inget ungkapan keramat cah Semarag, “nJohar rameeee!”
aku meh mulih nja.
sumpahh..selama 4 tahun di semarang ini.
aku blom masuk ke pasar itu..kekkeke
*kpn2 tak jajah*
wah… jadah panggangnya menggiurkan…
pasar sekarang dapat dimanfaatkan sebagai tempat kampanye paling efektif. ibu-ibu adalah sasaran jualannya “calon ganteng”
brarti “konter” Gra**dia nya udah ga ada ya.. dulu klo butuh buku ke situ, tinggal nyari “sales” bertato trus kasih data buku yang di butuhin, nego, ambil besok siangnya..
teman-teman jepang saya sangat suka dgn johar..semoga tdk akan hilang dilekang waktu