Wednesday, April 30th, 2008

Daily Archive

Lokalitas

Posted by senja on 30 Apr 2008 | Tagged as: my opinion, media

Minggu lalu, Aliansi Jurnalis Indonesia (AJI) Semarang bekerjasama dengan kampus saya mengadakan seminar tentang “TV Lokal, Kritik dan Prospeknya di Masa Depan”. Ada beberapa pembicara dalam seminar ini. Ada direktur TV lokal Semarang, Perwakilan AJI Semarang, KPID Semarang dan dosen jurusan Ilmu Politik yang fasih ngomongin tentang perkembangan TV lokal di negara-negara lain (:p).

Dari beberapa omongan di seminar ini, ada beberapa hal yang seharusnya bisa dipecahkan, khususnya tentang kehidupan TV lokal yang “hidup enggan mati tak mau”. Mereka ini dipaksa untuk “berhadapan” dengan media nasional yang sudah sangat besar dan ditambah konglomerasi media yang membuat TV Indonesia sebenarnya hanya dikuasai oleh beberapa pemilik modal saja. Misalnya MNC yang memegang Global TV, RCTI dan TPI dan banyak lagi.

Kedua, adanya fakta atau mungkin fenomena bahwa jika selama ini media cetak lokal berburu pembaca daerah dengan mencetak edisi khusus daerah, misal Kompas Jateng DIY, Jawa Pos Radar Semarang dengan alasan proximity (kedekatan), maka sebaliknya TV-TV lokal. Proximity tidak lagi menjadi senjata ampuh untuk menggaet pemirsa dan pengiklan karena ternyata penonton lebih ingin tahu apa yang terjadi di luar kehidupan sehari-sehari kita. Misalnya, lebih memilih nonton American Idol ketimbang campur sari atau wayang.

Ketiga, pengelola TV lokal mengaku bahwa budget produksi mereka memang tidak besar. Bahkan untuk lighting saja, mereka harus ngirit sehingga maklum jika tampilan di layar TV tidak sebagus acara-acara TV nasional. Lebih ironis lagi, hal ini mempengaruhi keindahan gambar, karena tidak bisa secerah acara-acara yang ada di RCTI atau SCTV.

Selain kualitas konten yang belum bisa disejajarkan dengan beberapa TV nasional, kualitas tampilan inilah yang membuat TV lokal ngos-ngosan mengejar eksistensi di jagat media elektronik. Seperti yang kita tahu, salah satu kelebihan media elektronik adalah keindahan visual yang bisa dinikmati oleh penontonnya.

Bisa jadi ini benar..

Semalam, sambil menunggu serial kesayangan “Smallville” tayang, saya memencet channel TV secara acak. Saya berhenti di sebuah acara kontes nyanyi dangdut di TPI. KDI ya??? yap. Kenapa saya tertarik? Ada salah satu penyanyi yang saat itu berbicara dengan sangat medok khas Jawa Timur. Dia mengaku berasal dari Nganjuk Jatim. Sebuah kabupaten kecil yang tidak lain adalah kampung halaman saya. wakakaka. Dengan lugu (entah lugu alami atau dibuat-buat), si penyanyi ini mengatakan bahwa tidak pandai berbahasa Indonesia karena sangat terbiasa berbahasa Jawa. Alhasil selama acara dia berselang-seling dengan menggunakan bahasa Jawa dan Indonesia. Sempat menyanyikan beberapa lagu campur sari yang menjadi lagu wajib para pengamen di terminal Solo. Tapi adegan ini, jujur membuat saya, seakan-akan terkoneksi dengan rumah. Seperti dibawa kembali ke dalam masa kecil di kampung. Seperti sedang bermain-main di halaman rumah, ato ngopi di teras belakang. Secara visual, mata saya juga dimanjakan dengan desain panggung yang bagus tidak berlebihan dan gambar yang cemerlang.

Sebenarnya fungsi “mendekatkan” inilah yang dulunya digembar-gemborkan sebagai kelebihan yang bakal dimiliki oleh TV lokal. Tapi jika ternyata fungsi ini sudah bisa diambil alih oleh TV nasional, lantas dimana tempat TV lokal berada????