Lokalitas
Posted by senja on 30 Apr 2008 at 06:52 am | Tagged as: my opinion, media
Minggu lalu, Aliansi Jurnalis Indonesia (AJI) Semarang bekerjasama dengan kampus saya mengadakan seminar tentang “TV Lokal, Kritik dan Prospeknya di Masa Depan”. Ada beberapa pembicara dalam seminar ini. Ada direktur TV lokal Semarang, Perwakilan AJI Semarang, KPID Semarang dan dosen jurusan Ilmu Politik yang fasih ngomongin tentang perkembangan TV lokal di negara-negara lain (:p).
Dari beberapa omongan di seminar ini, ada beberapa hal yang seharusnya bisa dipecahkan, khususnya tentang kehidupan TV lokal yang “hidup enggan mati tak mau”. Mereka ini dipaksa untuk “berhadapan” dengan media nasional yang sudah sangat besar dan ditambah konglomerasi media yang membuat TV Indonesia sebenarnya hanya dikuasai oleh beberapa pemilik modal saja. Misalnya MNC yang memegang Global TV, RCTI dan TPI dan banyak lagi.
Kedua, adanya fakta atau mungkin fenomena bahwa jika selama ini media cetak lokal berburu pembaca daerah dengan mencetak edisi khusus daerah, misal Kompas Jateng DIY, Jawa Pos Radar Semarang dengan alasan proximity (kedekatan), maka sebaliknya TV-TV lokal. Proximity tidak lagi menjadi senjata ampuh untuk menggaet pemirsa dan pengiklan karena ternyata penonton lebih ingin tahu apa yang terjadi di luar kehidupan sehari-sehari kita. Misalnya, lebih memilih nonton American Idol ketimbang campur sari atau wayang.
Ketiga, pengelola TV lokal mengaku bahwa budget produksi mereka memang tidak besar. Bahkan untuk lighting saja, mereka harus ngirit sehingga maklum jika tampilan di layar TV tidak sebagus acara-acara TV nasional. Lebih ironis lagi, hal ini mempengaruhi keindahan gambar, karena tidak bisa secerah acara-acara yang ada di RCTI atau SCTV.
Selain kualitas konten yang belum bisa disejajarkan dengan beberapa TV nasional, kualitas tampilan inilah yang membuat TV lokal ngos-ngosan mengejar eksistensi di jagat media elektronik. Seperti yang kita tahu, salah satu kelebihan media elektronik adalah keindahan visual yang bisa dinikmati oleh penontonnya.
Bisa jadi ini benar..
Semalam, sambil menunggu serial kesayangan “Smallville” tayang, saya memencet channel TV secara acak. Saya berhenti di sebuah acara kontes nyanyi dangdut di TPI. KDI ya??? yap. Kenapa saya tertarik? Ada salah satu penyanyi yang saat itu berbicara dengan sangat medok khas Jawa Timur. Dia mengaku berasal dari Nganjuk Jatim. Sebuah kabupaten kecil yang tidak lain adalah kampung halaman saya. wakakaka. Dengan lugu (entah lugu alami atau dibuat-buat), si penyanyi ini mengatakan bahwa tidak pandai berbahasa Indonesia karena sangat terbiasa berbahasa Jawa. Alhasil selama acara dia berselang-seling dengan menggunakan bahasa Jawa dan Indonesia. Sempat menyanyikan beberapa lagu campur sari yang menjadi lagu wajib para pengamen di terminal Solo. Tapi adegan ini, jujur membuat saya, seakan-akan terkoneksi dengan rumah. Seperti dibawa kembali ke dalam masa kecil di kampung. Seperti sedang bermain-main di halaman rumah, ato ngopi di teras belakang. Secara visual, mata saya juga dimanjakan dengan desain panggung yang bagus tidak berlebihan dan gambar yang cemerlang.
Sebenarnya fungsi “mendekatkan” inilah yang dulunya digembar-gemborkan sebagai kelebihan yang bakal dimiliki oleh TV lokal. Tapi jika ternyata fungsi ini sudah bisa diambil alih oleh TV nasional, lantas dimana tempat TV lokal berada????








ahahaha saya jg ketawa ngikik. ni perut ampe skarang masi kaku2… wahahaha… asli itu lugunya…
Lah,smlm gw jg lg nonton smallvile season 6 nja. Asem,nambah seru.
di bandung spt nya tv swasta mulai ada yang bertumbangan.
kalo pun yg masih idup, utang di bank nya selangit :p
kalo TV kampus gimana ya?
muatan dengan kedekatan lokal kan masih banyak macemnya (secara teori sih), prakteknya tetep susah
Aliansi Jurnalis Independen?
TV lokal senja…?? byuh!!!
Anang: Hehehehehe…..saya juga sampe ketawa-ketiwi sendirian di depan TV
Nico: Iya seru, katanya vcd-nya dah keluar..jadi season 6 kita bisa tau gimana ceritanya…jadi pengen nyari..
Imgar: Utang? gali lubang tutup lubang ya???
Ray: Waduh …di Semarang nggak ada si…ada info ttg tv kampus???
Hedi: Susah tapi harus terus digali..
Ikram: Jangan nyindir Kram…:p
Sofianblue: Byuh ngopo??? hahahahaha
TV Lokal.. hidup segan mati tak mau…
Namun demikian seiring majunya teknologi dan pentingnya pemberdayaan jurnalisme lokal, seleksi ini terus menghadirkan TV2 Lokal lainya yang tangguh. Mudah2an aja.. dan tetep dukungan pemirsa lokalnya juga dibutuhkan.
bukan.. bukan nyindir
itu kan lo nulis “aliansi jurnalistik indonesia kota semarang” di alinea pertama.
apakah maksudnya aliansi jurnalis independen? :p
Nganjuk? Ternyata kita tetanggaan ya, saya asli nya lahir di Madiun.
Saya ingat sekitar tahun 80 an, kalau di Madiun bisa nyetel TV Yogya, Surabaya dan TV Jakarta (nasional). Dari masing-masing chanel itu ada yang saya suka, dari TV Yogya adalah acara ketopraknya…sampai dibuat tebakan berhadiah…dan peminatnya berjibun.
Memang TV lokal harus pandai mencari celah, dan melihat segmen pasarnya ke arah mana…..sama seperti radio, kenapa radio bisa eksis? Karena mereka membidik segmen tertentu…dan pendengarnya setia.
Domba: Mudah2an ya mas
Ikram: MasyaAllah..iya bener Kram….gw salah..thx yaaaa
Edratna: Wah..iya tetangggaan nih bu
Masih salah