Bias di Ambang Batas
Posted by senja on 03 May 2008 at 07:51 am | Tagged as: my opinion, media
Acara Di Ambang Batas (DAB) Metro TV adalah salah satu acara favorit saya. Program ini mengulas masalah narkoba di Indonesia, baik dari segi pecandu, peredaran dan penanganannya. DAB edisi 1 Mei 2008 kemarin membicarakan korelasi antara pecandu narkoba dan kekerasan dalam rumah tangga yang kemudian dihubungkan dengan UU KDRT. Dalam narasinya, dikatakan bahwa peningkatan jumlah pecandu narkoba sejak 2005 sampai 2007 ternyata berbanding lurus dengan jumlah kasus KDRT di rentang tahun yang sama. Kendati tidak ada penelitian khusus tentang hubungan dua data signifikan tersebut, namun tim DAB meyakini bahwa dalam beberapa kasus KDRT, suami yang kecanduan seringkali bertindak di luar batas terhadap istri dan anak. Tindakan itu bisa berupa kekerasan fisik maupun psikologis.
Tim DAB juga meminta komentar dari pakar dan dokter. Keduanya mengamini bahwa pecandu narkoba termasuk peminum minuman keras cenderung lepas kontrol dan berpeluang besar untuk melakukan kekerasan dalam rumah tangga. Perempuan lantas menjadi pihak yang dirugikan. Mereka juga sepakat, bahwa kekerasan yang dimaksud di sini bukan hanya kekerasan yang bersifat fisik, namun juga psikis. Kekerasan psikis ini justru memiliki dampak yang lebih parah daripada fisik sehingga waktu penyembuhannya juga cukup lama. Selain wawancara dengan pakar, DAB juga meminta komentar dari pengurus LBH yang concern terhadap masalah wanita. Pihak LBH pun memberikan pengakuan yang tidak beda jauh dengan dua narasumber terdahulu.
Seperti juga tayangan-tayangan DAB edisi sebelumnya, edisi kali ini juga dilengkapi dengan ilustrasi-ilustrasi yang diperankan oleh model. Ilustrasinya menggambarkan bagaimana suami yang kecanduan narkoba menjadi kasar serta sensitif sehingga gampang marah. Tak jarang si suami ini menampar bahkan memukul si istri. Si anak juga menjadi korban perilaku sang ayah. Ujung-ujungnya, si istri pun memilih untuk meninggalkan si suami karena sudah tak tahan dengan tabiatnya. Juga dilengkapi dengan testimoni seorang pria mantan pecandu yang mempunyai cerita hidup tak beda jauh dengan ilustrasi tersebut.
Sekilas tidak ada yang salah dengan tayangan DAB edisi ini. Tapi bagi saya, ada ganjalan yang cukup membuat saya terusik. Semua fakta yang dimunculkan dalam tayangan ini semata-mata digunakan untuk merujuk pada pelaku pecandu dan kekerasan rumah tangga adalah seorang pria dan korban nya adalah seorang wanita.
Untuk merujuk pada fakta ini, DAB melakukan pekerjaan yang cukup sistematis:
-
Narasumber berkomentar dengan satu definisi bahwa pelaku KDRT adalah laki-laki dan korban adalah perempuan. Pencandu adalah laki-laki, dan perempuan ada di sisi sebaliknya.
-
Data statistik yang diungkapkan mengacu bahwa pada kasus-kasus KDRT, perempuanlah yang menjadi korban.
-
Ilustrasi menunjukkan bahwa suami-lah yang berada di posisi salah, dan istri menjadi tokoh protagonis alias benar dan pantas dibela.
Padahal, (terlepas saya setuju atau tidak dengan UU KDRT),
-
Dalam UU tidak dijelaskan secara gamblang apakah pelaku KDRT didefinisikan sebagai laki-laki dan korban adalah perempuan. Bisa di cek dalam pasal 1 (1) UU KDRT tentang definisi kekerasan dalam rumah tangga tidak disebutkan apakah pelaku adalah laki-laki dan wanita adalah korban, kendati memang disebutkan kebanyakan korban adalah wanita.
-
Definisi korban dalam undang-undang tersebut adalah orang yang mengalami kekerasan dan/atau ancaman kekerasan dalam lingkup rumah tangga (pasal 1 ayat 3). Tidak ada definisi yang merujuk pada laki-laki dan perempuan.
-
Pasal 5 UU tersebut menyebutkan bahwa pelarangan kekerasan dalam rumah tangga meliputi kekerasan fisik, psikis, seksual, dan penelantaran rumah tangga. Pasal ini memperjelas bahwa tidak hanya kekerasan fisik yang menjadi elemen kekerasan. Sehingga lebih jauh lagi, perempuan pun punya peluang terbuka untuk melakukan kekerasan, misalnya kekerasan psikis.
-
DAB juga tidak berusaha mencari data berapa jumlah pencadu wanita yang kemudian bisa dikorelasikan dengan peluang terjadinya penelantaran rumah tangga.
Jadi, jika UU KDRT menjadi landasan berpikir untuk mengungkap korelasi tingginya jumlah pencandu narkoba dengan wanita sebagai korban kekerasan rumah tangga, menurut saya DAB kurang arif. Ada fakta-fakta lain yang ditinggalkan dan bahkan saling bertentangan. Usaha “membela” wanita yang membabi-buta itu, bagi saya justru menjadi proses pembodohan yang cukup signifikan.








lho kan katanya wanita makhluk yg lemah karna hanya tercipta dr tulang rusuk lelaki.. katanya.
sepakat, artikel ini cukup mewakili kejengahan kami (saya) .. atau penelantaran RT tidak termasuk KDRT..
Mungkin hbis pake, trus mlakukan KDRT
laki-laki disudutkan..
bisa jadi kasus yang diambil dinilai ‘mewakili’ gambaran umum kasus yang diangkat.
walah, lagi telmi saya nja. maap komennya begini aja:D
laki-laki ndak cucok dan diperalat istri..? bisa langsung talak, mBak yu…
tapi istri dijitak suami dari subuh sampai menjelang tahajud, siapa yang bela…?
betul KDRT tidak punya jenis kelamin, namun fakta bicara wanita selalu terkungkung, sedangkan pria malah terkangkang..
Mungkin dianggap wanita makhluk lemah, jadi kalaupun mau memakai kekerasan, pakai jalan belakang….lha kalau bertarung langsung kan pasti kalah. Jadi biasanya dengan cara memberi racun, atau memberi obat tidur…dan wanita juga bisa sadis, ada yang memotong alat…..suaminya.
Tapi narkoba memang barang yang benar-benar harus dihindari…..biarpun tobat, kalau nggak kuat iman dan mental, suatu ketika akan terdorong kembali. Dukungan keluarga sangat dipelukan, karena anggota keluarga sebetulnya rentan stres, sehingga kalau ada dukungan keluarga, diharapkan mereka tak lari ke barang haram tsb.
Kekerasan rumah tangga sih kadang pemicunya juga wanita …tapi juga pria juga lho.
Jadi sama sama lah.
Gue netral aja
iya,di serial suami2takut istri pesannya: ternyata yang bisa melakukan KDRT bukan cuma suami…. (meski di serial itu suami2 gak betul juga)
ada kemungkinan lain penyebab kdrt:meningkatnya jumlah adegan di TV yang menampilkan adegan KDRT
Sebuah produk sebaiknya pakai petunjuk pemakaian sesuai dari pabriknya. Manusia adalah makhlukNYA
apakah raut muka istri yang cemberut dan memancing emosi sang suami itu bukan termasuk kekerasan?
ya namanya juga manusia, bisa aja da salah. Tapi emang gak smuanya salah pihak laki2 kok. Kadang mereka berbuat seperti itu juga karena mungkin, perlakuan, penampilan, tingkah laku sang istri ato wanitanya yang kurang baek di mata suaminya. Banyak kasus para laki2 misalnya nge drug, korup, poligami alasannya juga karena wanita2 juga… itu sich menurut aq… Tapi bukan berarti aq tidak membela kaum q (kaum Hawa) ^-^
hmmm….postingan yg bagus….
*bingung mau koment apa*
Anang: nah kadang kelemahannya itu dimanfaatkan untuk bikin jengkel orang lain, nang..wakakakka
Sayur: Terlepas saya setuju atau tidak dengan UU dagelan itu, tapi penelantaran RT termasuk, di beberapa pasal disebutkan..tapi mungkin porsinya sedikit
Dio: Di ilustrasinya memang seperti itu..tapi toh pemakai kan bukan hanya pria, wanita juga dan sisi itu kurang digali di DAB.
Imgar: Aku ada dipihakmu..wakakakak :p
Virzha: Gambaran umum harusnya diambil setelah ada riset yang mengemukakan sejumlah data, bukan pada penggiringan opini tertentu
Nico: Maklum yang lagi mo ujian skripsi :p
Kopdang: Maap, saya kurang setuju. namun yang disayangkan adalah adanya penggiringan pada opini tertentu, intinya si tidak cover both side..suwun komennya
Edratna: Don try at home-lah..heheheh
Latip: Yap sama saja, tapi itu tidak dimunculkan dalam DAB..hehehehe
John: Manut ma status quo..wakakakak..becanda..
Ray: Bagus buat tema skripsi tuh Ray…:)
Kakanda: Ya benar, memakai landasan yang tidak bisa dikulik-kulik lagi dan jelas kebenarannya.
Ndoro: Kekerasan ndoro..apalagi klo suaminya tidak rela..
Zahroul: Hehehehe..fifty-fifty
Escoret: Abis dari piknik jadi bingungan ya kang? :p
Setuju nja.. yang pake narkoba itu nga cuma laki-laki aja perempuan juga banyak kok. ada temanku yang pake narkoba trus karena suaminya entah kasihan, takut istrinya ngamuk atau takut bercerai sama temenku [yg cantik bgt] itu, dia rela lho kerja keras sampe korupsi demi menuhin kebutuhan narkoba sang istri [ngilani ya..]
jadi termasuk KDRT juga khan nja?
Iyalah….perempuan/istri yang bikin jengekel suami juga banyak….nanti kalo ditapuk, langsung bilang KDRT….emansipasinya salah yah…..
walah melihat suatu program acara dari sudut yang berbeda… sangat arif kiranya
hehe cowo boleh protes nih. ulasan kamu bagus nja, mestinya setiap program digarap lebih serius yah.
aku belum pernah lihat DAB, jadi nggak tau juga mesti komentar gimana. tapi, kalau ulasannya cuma dari situ ke situ, bener tuh kata Senja, jadinya kurang arif. btw, apa kabar Nja?