Pagi itu cuaca objek wisata candi Gedong Songo masih cerah. Sekitar pukul 8 tepatnya. Tapi tak ada yang menjamin kecerahan langit Ambarawa akan tetap seperti ini hingga siang nanti. Bergegas saya menaiki area Gedong Songo yang berkontur naik-turun. Ada 9 candi yang tersebar di beberapa titik, dari yang terendah sampai yang tertinggi.

Baru beberapa meter, napas rasanya ngos-ngosan. Maklum udara lumayan dingin. Dengan aktivitas naik-turun seperti ini tampaknya stok tenaga saya bakal cepat habis. Beruntung sebotol air mineral siap di tas. Dan jangan khawatir, banyak penjual yang mendirikan warung di sekitara area ini.

Beberapa pengunjung menyadari mereka bakal kelelahan jika nekat jalan kaki hingga puncak, sehingga menyewa kuda untuk menikmati keindahan alam. Tapi saya memilih untuk nekat jalan kaki…alasannya simpel….biar leluasa motret :p.

Oke…objek ini berada di Ambarawa atau 45 km dari Semarang. Cagar Budaya Candi Gedong Songo adalah kawasan wisata dataran tinggi. Suhu di daerah ini antara 19-27 derajat celcius. Ada 4 gunung yang mengelilingi area ini, salah satunya gunung Ungaran. Jika anda berkunjung pagi-pagi sekali dan cuaca cerah minim kabut, maka 4 gugusan gunung itu bisa dilihat dengan sangat jelas. Dari puncak tertinggi Gedong Songo, terlihat danau Rawa Pening yang terkenal itu. Sekali lagi, jika cuaca cerah, semua pemandangan ini akan tampak jelas dari atas.
Candi Gedong Songo memang tidak berbeda dengan candi-candi yang lain. Istimewanya, karena selain terletak di dataran tinggi, yang diselingi hutan pinus dan buatan serta aneka tanaman, letak 9 candi tersebut saling berpencar. Aset budaya ini peninggalan budaya Hindu pada masa wangsa Syailendra abad 9 dan ditemukan Rafles pada tahun 1804.

Gedong Songo
Gedong Songo

Di tengah kawasan wisata ini, juga terdapat pemandaian air belerang. Asap belerang ini akan mengepul dan terlihat dari kejauhan berkejaran dengan kabut yang selalu mengintip di balik bebukitan. Kawasan ini juga bisa menjadi lokasi kemping yang oke. Hutan-hutan yang masih rimbun membuat memberikan sensasi tersendiri.

Sayangnya, beberapa candi tidak utuh lagi. Ada beberapa bagian yang rusak dan bahkan hilang. Padahal, menurut pak pemilik kuda yang kala itu saya temui, kawasan ini selalu dijaga siang malam oleh penjaga. Kemanakah bagian-bagian yang hilang itu ya??? mungkinkah nasibnya mirip arca-arca yang diperjualbelikan secara ilegal layaknya kasus museum Radyapustaka Solo?? Atau mungkin ada bagian sejarah terpenggal yang membuat mereka tak utuh lagi???

Bagi pecinta bunga, tanamana hias seperti anggrek dan ephorbia, mungkin tempat wisata ini menjadi tempat yang tidak boleh dilewatkan. Di kanan-kiri jalan menuju Gedong Songo banyak sekali penjual bunga. Kebun-kebun bunga tumbuh subur. Turun lagi ke bawah menuju Semarang, ada beberapa ruas jalan yang dipenuhi penjual sayuran segar. Mhhhhmmm……masih juga lapar…ada penjual gorengan yang berderet. Ada singkong goreng, ubi goreng, pisang goreng…dan lain-lain…..yummyyyyy!!!!!

Oya pesan saya, jika kesana menggunakan motor roda dua. Pastikan motor anda dalam keadaan fit dan siap menanjak…jika tidak..siap-siap dorong apalagi jika posisi gigi 1 pun tak kuat naik keatas….Selamat mencoba..

*Beberapa informasi teknis diperoleh dari Wikipedia

*Foto lain ada di sini